Ujian Kenaikan Tingkat Tempa Iman dan Ketangguhan Santri Ujian Kenaikan Tingkat Tempa Iman dan Ketangguhan Santri

Ujian Kenaikan Tingkat Tempa Iman dan Ketangguhan Santri

Selama tiga hari, 217 santri putra kelas 1–5 TMI Pesantren Darunnajah 2 Cipining menjalani Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) Tapak Suci di kawasan Kampus 3. Kegiatan berlangsung Rabu hingga Jumat, 29 April sampai 1 Mei 2026, dengan tujuh guru bertindak sebagai panitia. Satu pesan menjadi pegangan sepanjang ujian: kekuatan sejati bertumpu pada iman dan akhlak.

Semangat itu terangkum dalam motto kegiatan, “Dengan iman dan akhlak saya menjadi kuat, tanpa iman dan akhlak saya menjadi lemah.” Latihan bela diri di Pesantren berpijak pada landasan keimanan, sejalan dengan keterampilan fisik yang turut diasah para peserta.

Acara dibuka di Aula Kampus 3 dengan pembacaan Kalam Ilahi, lagu Hymne Oh Pondokku, serta Mars Darunnajah, dilanjutkan sambutan dan doa bersama. Sebelum ujian dimulai, para penguji menyamakan standar penilaian jurus bersama Pimpinan Daerah (PIMDA) Tapak Suci agar penilaian berlangsung seragam dan adil.

Materi ujian mencakup dua penilaian utama: tes jurus dan tes fisik, yang digelar bergantian di Lapangan Horizon. Peserta juga menempuh tes tulis, fighting masal pada malam hari, serta long match di Lapangan GOR Jasinga. Hasil ujian menentukan kelayakan peserta naik ke tingkat berikutnya.

Jadwal padat dari pagi hingga larut malam menuntut stamina sekaligus mental yang kuat. Di sela ujian, peserta mendapat waktu istirahat dan tidur wajib agar tenaga pulih sebelum tahap berikutnya. Meski tubuh lelah, mereka tetap menjalani setiap rangkaian dengan antusias.

Direktur Pengasuhan Santri, Ustadz Sholehuddin, S.Pd., membuka acara dengan menekankan pentingnya kedisiplinan dan jiwa kepemimpinan. UKT memang diarahkan untuk melatih kedisiplinan atlet, menyiapkan pelatih yang berkualitas, sekaligus membentuk pemimpin yang cerdas dan kuat.

Ujian Kenaikan Tingkat Tempa Iman dan Ketangguhan Santri

Pada penutupan, panitia menyerahkan penghargaan kepada dua peserta terbaik:

  1. Dimaz Ranggah (kelas 4 TMI) sebagai pelari tercepat
  2. M. Arfan Al Fahreza (kelas 1C TMI) sebagai peserta terbaik

Lewat ujian ini, Pesantren menanamkan keyakinan bahwa ketangguhan fisik perlu diimbangi keteguhan iman. Para pesilat muda diharapkan membawa disiplin yang mereka latih ke kehidupan sehari-hari, jauh setelah gelanggang ditinggalkan. Bagi mereka, kenaikan tingkat hanyalah satu tanda; penguasaan diri adalah ujian yang akan terus berlangsung sepanjang hidup.