Suatu hari hiduplah seorang pedagang siomay. Setiap hari dagangannya selalu laris manis terjual dikarenakan rasanya yang sangat lezat. Namanya adalah Pak Omay. Ia merasa sangat beruntung karenanya.
Setiap hari ia disibukkan dengan dagangannya. Setiap jam 3 pagi, ia harus bangun untuk membuat siomay, dan menjualnya mulai dari matahari terbit hingga matahari mulai tumbang ke arah barat. Lalu, ia menghabiskan sore membeli bahan-bahan untuk membuat siomay keesokan harinya, dan pulang saat matahari terbenam.
Sayang seribu sayang, ia memiliki sifat yang sangat tercela. Ia sangat sombong karena siomaynya yang selalu habis terjual. Ia pikir siomaynya laris hanya karena rasanya yang sangat lezat. Oleh karena itu, ia selalu meninggalkan shalat dan ibadah lainnya. Ia mengira semua itu tidaklah bermanfaat dan tidak menghasilkan uang.
Hingga pada suatu hari, setelah ia berkeliling berjualan, terjadilah hal aneh. Entah kenapa, tak seperti biasanya tak ada seorang pun yang mampir, hendak membeli siomaynya.
Lama berkeliling, diliputi rasa bingung bercampur kesal karena tak ada pembeli, ia pun berhenti sejenak untuk menghilangkan penat. Ketika ia memerhatikan sekitar, ia menemukan hal yang mengusik pikirannya. Pohon beringin dimana ia berteduh, sangatlah besar dan rindang. Namun, buahnya begitu kecil. Di seberangnya, terdapat kebun semangka, dimana buahnya begitu besar dan bulat, akan tetapi batang pohonnya tampak kecil dan kurus.
Ia pun—secara tidak sengaja menggumamkan apa yang ada di pikirannya—berkata,
“Betapa tidak tepatnya, begitu tidak adilnya Allah, memberikan pohon beringin yang sangat besar ini dengan buah yang kecil. Sedangkan, Ia juga memberikan pohon semangka yang kecil di sana, dengan buah yang sangat besar. Alangkah lebih baiknya, jika pohon beringin ini memiliki buah sebesar buah semangka. Mungkin saja akan lebih menguntungkan, dan bisa jadi uang…” Begitu pikirnya.
Tak lama kemudian, teduhnya bayang pohon beringin yang besar dan angin yang berhembus sepoi-sepoi membuat Pak Omay mengantuk. Ia pun memutuskan untuk tidur sejenak dan mulai memejamkan matanya.
Tiba-tiba, TUKK!! Suara buah beringin jatuh mengenai kening Pak Omay. Sontak Pak Omay pun kaget dan terbangun. Kemudian, ia pun termenung, dan berkata.
“Alangkah tepatnya tindakan Allah, dan sungguh sempurna penciptaanNya. Allah telah memberi pohon beringin yang besar ini dengan buah yang kecil. Segitupun membuat keningku sakit dan mengagetkanku hingga terbangun. Bagaimana bila Allah menciptakan buah pohon beringin ini sebesr buah semangka, pastilah aku sudah benjol, bahkan mungkin mati tertimpa buah pohon beringin ini!! Astaghfirullah, betapa sombongnya aku. Aku selalu menilai segala seuatu hanya dengan materi, hingga aku lupa untuk beribadah kepada Allah, dan menganggap semuanya tak bermanfaat.”
Akhirnya, Pak Omay pun bertaubat. Seiring dengan bertambah rajinnya Pak Omay beribadah, usaha siomay Pak Omay pun menjadi lebih maju dan barokah.
Intisari.
Janganlah engkau menganggap apa yang telah Allah ciptakan itu tidak bermanfaat bagi kehidupan, bahkan sehingga menganggap Allah itu tidak adil.
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً سُبحَانَكَ وَقِنَا عَذَا بَ النَّارِ.
لاَ تَحْتَقِرْ مَنْ دُوْنَكَ فَلِكُلِّ شَيْءٍ مَزِيَّةٌ.
(Wardan/JANNAH)