Semangat amaliyah tidak boleh berlalu..
Amaliyah telah berlalu, namun semangatnya tak seharusnya padam atau hanya sekedar kambuhan.
Minggu-minggu ini adalah minggu yang sangat berharga bagi siswa akhir, anak-anak yg terlibat dalam praktek serta kelas-kelas yg diamaliyahi. Tak terkecuali bapak-ibu guru sebagai pembimbing, terutama pembimbing yang baru pertama kali terlibat dalam hal ini.
Pengar-pengajar yang prima, prima persiapannya, penampilannya dan juga jiwanya. Kelas-kelas yang tertib serta rapih, penuh disiplin. Ketepatan hadir dan keluar kelas begitu membekas didalam hati anak-anak yang menjadi objek sekaligus subjek amaliyah karena setiap mata pelajaran mengharuskan adanya musyarokah ma’at talamiidz. Maka tak ayal, tak jarang dari mereka bercita-cita bahwa suatu saat mereka akan berada pada posisi yang sama dengan kakak-kakak kelas mereka saat ini: gagah berjas, berdasi dan berpeci, pun anggun berblazer.
Para pembimbing seolah tak mau kalah dengan yang dibimbing, berpakaian rapih, membuat idad naqd, membuka kamus lagi, memperdalam lagi ilmu yang cukup usang tersimpan didalam memori. Walau pun tiap tahun kegiatan ini selalu berulang, namun manusia terkadang lupa, disinilah pentingnya niat yang ikhlas untuk belajar dan mempelajari kembali apa yang sebelumnya didapat dan apa yang belum diketahui. Tidak pernah merasa aku sudah tahu, aku sudah mengerti, atau bahkan aku tak butuh belajar lagi.
Dalam amaliyah ini semua diperhatikan sedemikian rupa, semua siap dikoreksi dan diberi masukan atas kesalahan-kesalahannya selama satu jam pertemuan: mulai dari muqoddimah, ta’aruf, ‘ard dan rabth, tathbiq, hingga ikhtitam (sesuai metode herbart).
Kejadian-kejadian diluar dugaan banyak terjadi, anak yang sudah menempuh enam tahun masa pendidikannya di pondok tak menjamin ia sukses melalui praktek mengajar ini; ada yang menangis sebelum memasuki ruangan seperti pada beberapa episode dalam sidang sianida dan si penista, ada yang terbata-bata mata berkaca-kaca, ada yang menerawang menatap langit-langit ruang kelas seakan menembus langit bertemu malaikat pengingat akan hapalan yang terlupakan, ada yg gemetar hebat seolah sendi-sendi lutut yang hendak copot.
Pada prinsipnya dalam prosesnya semua telah sukses melaluinya, namun secara akademik sebahagian tetap harus mengulang untuk perbaikan beberapa hal.
Semoga setiap hari guru-guru menerapkan jiwa praktek mengajar ini didalam jiwanya, sehingga semangat dalam mengajar setiap hari akan terwujud. Aamiin
Info pendaftaran;
Ghofar Al Hajiz 087876892410
Kholis Wifiddurahman 085733977776
Noviatin Mahmudah 081310103964







