Petuah Sang Kiai Petuah Sang Kiai

Petuah Sang Kiai

Kamis sore, 19 Sya’ban 1445 H/ 29 Februari 2024 bertepatan dengan Tahun Kabisat. Empat tahun lagi, baru akan ada tanggal 29 Februari, tepatnya tahun 2028.

Sore itu, kami mendampingi Ustadz Nur Khasan, M.Pd., nara sumber Pelatihan Protokoler bagi dewan guru & santri, sowan ke Pimpinan Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor, KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc.

Silaturrahmi ini sangat menarik karena Ustadz Hasan adalah alumni Pondok Pesantren Darul Amanah Ngadiwarno Sukorejo Kendal. Salah-satu pesantren alumni Gontor yang terbilang besar dengan ribuan santrinya di Jawa Tengah tersebut, dipimpin oleh KH. Mas’ud Abdul Qadir yang notabene sobat karib KH. Jamhari sejak pesantren di Mangkang hingga ke Gontor. Kalau pinjam istilah kekinian, beliau berdua adalah besti.

KH. Jamhari juga salah seorang pendiri (muassis) Pesantren Darul Amanah dan juga sebagai Pembina Yayasannya hingga kini. Setiap kesempatan mudik ke kampung halaman kelahirannya di Parakan Subaran Kendal, maka sekaligus beliau menghadiri Rapat Yayasan tersebut.

Nah, dalam pertemuan kemarin sore, Ustadz Hasan banyak bertanya terkait peran KH. Jamhari serta harapannya terhadap Pesantren Darul Amanah. Jawaban intinya adalah agar pesantren terus meningkatkan kegiatannya serta memperkuat jalinan silaturahminya.

Ustadz Hasan juga menanyakan beberapa nama tokoh yang terlibat dalam pendirian Darul Amanah. Termasuk, para pewakif tanah. “Jangan sampai nanti para santri tidak kenal dengan orang-orang dulu yang sudah berjuang dan terlibat dalam pendirian Darul Amanah!” ungkap penulis buku Biografi KH. Mas’ud Abdul Kadir.

Ketika Ia kembali bertanya kepada KH. Jamhari tentang alasannya dulu membawa banyak kader dari daerah Pageruyung, Sukorejo dan sekitarnya ke Darunnajah. Juga, kiat yang dilaksanakan KH. Jamhari sehingga Darunnajah 2 Cipining maju seperti sekarang ini. Beliau dengan penuh tawadhu’ merespon: “Saya ini hanya cah angon (anak gembala). Sama-sekali tidak pernah terpikirkan akan menjadi seperti ini. Ya, yang penting kita sudah melakukan semua usaha yang mampu dilakukan. Saya tidak pernah terpikir akan dijadikan menantu oleh Kiai Manaf. Tidak pernah terfikir pondok ini tanahnya akan sampai seluas ini. Begitulah jika Allah SWT sudah menghendaki maka ya pasti akan terjadi, kun fayakun. Kita tinggal melaksanakan saja apa yang jadi tugas kita. Jangan terlalu banyak difikirkan. Laksanakan saja!”.

Bapak Kiai tampak bahagia dengan kemajuan pendidikan Islam di Sukorejo dan sekitarnya, karena dulu termasuk daerah ‘abangan’. Beliau sempat menyebut bahwa di Patean sekarang sudah ada pesantrennya. Demikian juga di Sukorejo ada pesantren baru lagi. Mungkin yang beliau maksud adalah Pesantren Modern Darul Arqam Patean dan Pesantren Darul Mushlihin Sukorejo.

Saya pribadi sangat bahagia sore itu karena Bapak Kiai banyak merespon pertanyaan dari Ustadz Hasan yang sedang mempersiapkan Buku Sejarah Darul Amanah Ngadiwarno Sukorejo. Bahkan, beliau sempat menanyakan bagaimana kondisi sosial kemasyarakatan dalam musim Pemilu belum lama ini. Ustadz Hasan menjawab bahwa Alhamdulillaah masyarakat dalam keadaan tertib kondusif.

(Catatan oleh Muhlisin Ibnu Muhtarom )