Pendidikan adalah Politik Tertinggi

Pendidikan (Masih) Politik Tertinggi

image

Politik lekat dengan kekuasaan dan pengaruh. Artinya, politik berfungsi untuk melanggengkan kekuasaan dan meluaskan pengaruh. Semakin luas pengaruh, semakin besar pula kekuasaan yang dimiliki kelompok atau individu tertentu. Sayangnya, pencarian pengaruh dalam dunia politik acap berlangsung tidak baik; sikut sana sikut sini, rangkul sana rangkul sini. Tidak ada musuh yang abadi. Yang ada kepentingan abadi. Yang pasti, tujuannya kekuasaan.

Para tokoh politik akan terus berusaha mencari pengaruh, dengan cara apapun. Jika perlu, dengan menyingkirkan teman sendiri; mengumbar janji muluk. Bahkan, yang terbaru adalah tradisi gila dalam meraih dukungan politik, yakni dengan uang (money politic). Yang tidak mampu mencermati akan menjadi korban politik. Saat kampanye, sang politikus menebar uang. Rakyat pun terpengaruh, namun pengaruh semu. Setelah berhasil menjabat, sang politikus mengeruk uang rakyat, jauh lebih banyak daripada uang yang ditebar saat kampanye. Rakyat tidak sadar, tertipu sedemikian sempurna.

Bagi Gontor, pendidikan masih merupakan politik tertinggi. Barangkali sama-sama mencari pengaruh, namun tujuannya mulia, dan dilakukan dengan penuh cinta dan keikhlasan. Ketika awal pondok didirikan, seorang kyai didatangi oleh orang-orang, anak-anak yang kemudian disebut santri. Santri itu mohon kepada kyai agar diberi ilmu; ilmu yang dapat menyelamatkan santri dunia akhirat. Kyai pun bersedia, dan melakukannya dengan penuh keikhlasan, penuh kasih sayang, sungguh-sungguh, serta niat yang suci: Li I’lai kalimatillah. Santri dianggap anak sendiri. Karena makin banyak, para santri itupun membuat pondok, pondok yang dibuat sendiri, ditempati sendiri. Yang datang belakangan ikut iuran memperbaiki atau menambah pondok yang didirikan sebelumnya.

Dengan tanpa meminta, kyai akan menjadi terhormat dengan sendirinya, berwibawa, memiliki kharisma atau karamah di mata para santrinya; mulia di hadapan Allah. Jasanya mengamalkan ilmu tidak hanya dikenang oleh para santri muridnya, melainkan tertulis rapi di buku catatan Allah, menjadi jariyah yang takkan putus, meski jasad telah berkalang tanah.

***

Ada cerita singkat. Suatu kali dulu, pernah Abu Bakar Ba‘asyir mengunjungi almamaternya, PM Gontor dan sillaturrahim dengan K.H. Imam Zarkasyi, gurunya. Saat itu, Abu Bakar Ba‘asyir telah mengambil jalan perjuangan seperti yang dilakukan sekarang. Ketika bertemu dengan Pak Zarkasyi, Abu Bakar Ba‘asyir ditanya, “Dengan cara dakwahmu yang seperti itu, berapa banyak orang yang bisa kamu pengaruhi? Lantas, jika kamu tertangkap dan masuk penjara? Berapa orang lagi yang bisa kamu pengaruhi? Akan lebih sedikit lagi. Tapi, lihat kami di pondok ini! Dengan cara saya seperti ini, mengajar dan mendidik santri ber-tafaqquh fy al-din, lebih banyak orang yang bisa saya didik, bisa saya pengaruhi.” Abu Bakar Ba‘asyir hanya terdiam.

Sekilas, apa yang dikatakan oleh K.H. Imam Zarkasyi tersebut tampaknya sederhana. Namun, jelas, jika dicermati, dalam, maknanya. Sebab, di dalam pesantren seperti Gontor, kyai bukan sekedar guru yang memberi ilmu, melainkan sentral figur, contoh utama dan nyata dari ajaran yang disampaikan kepada para santrinya. Dengan begitu, kesan dan kemudian rasa hormat santri kian besar. Ada keinginan santri berjuang seperti cara kyainya berjuang, meniru kyainya itu. Maka, muncullah pondok-pondok alumni, kian lama kian banyak, dan juga diiringi dengan meningkatnya jumlah santri. Akhirnya, yang didapat oleh kyai bukan hanya pengaruh yang begitu luas, melainkan berkembangnya amal jariyah, berkembang menjadi ‘ilmun yuntafa‘u bihi, meskipun beliau telah wafat.

Melalui pendidikan, pengaruh tersebar dengan keikhlasan. Tidak ada yang dirugikan. Semua diuntungkan. Santri untung karena mendapat ilmu yang bermanafaat dari kyai. Kyai beruntung karena mendapat amal jariyah dari ilmu yang diajarkannya dengan ikhlas. Muaranya, pesantren mampu mencetak mundzirul qaum yang gagah berwibawa; mampu berdiri tegak dengan kata-kata bijak, atau mencetak mujahid yang siap memanggul senjata.

Ini barangkali makna pepatah, “Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.” Dengan mendidik. Mendirikan pondok pesantren, orang akan menanam benih, dengan keuntungan di masa panen yang berlipat ganda. Bukan hanya mendapat pengaruh yang luas, melainkan keuntungan ukhrawi dari kebaikan yang diajarkan, yang dididikkan, yang ditanamkan kepada orang lain. Maka, tekad mendidik itu begitu diazamkan oleh K.H. Imam Zarkasyi ketika mengawali pendidikan di PM Darussalam Gontor, dengan kata-katanya, “Seandainya santri saya tinggal satu, tetap akan saya ajar sampai tamat. Sebab, yang satu itu, kelak, akan menajdi seribu. Kalau yang satu itupun luput, saya akan mengajar dunia dengan pena.”

Akan halnya tekad K.H. Ahmad Sahal, melalui do‘anya, “Ya Allah, seandainya pondok ini tidak akan memberi manfaat (kepada orang banyak. Pen), lebih baik menjadi bangkai daripada melihat bangkai pondok ini.”

Subhanallah, kekhawatiran kedua beliau itu tidak terbukti, malah do‘anya maqbul; pondok kian berkembang, memberi manfaat kepada banyak orang. Insya Allah, akan menambah amal jariyah para pendiri, penerang di liang lahad, memperlancar perjalanan beliau ke Jannah. Amien.

Hal di atas sulit dibayangkan dapat terjadi dalam dunia politik, yang penuh intrik, tipu-menipu, bahkan menghalalkan segala cara dengan politik uang, dengan kampanye hitam; mencemooh lawan politik, memuji diri sendiri: Kullu hizbin bima ladayhim farihun. Efek buruk berpolitik: kekalahannya akan menumbuhkan kekecewaan dan menyemai benih dendam permusuhan. Kemenangannya menyuburkan kesombongan dan nafsu menindas, menguasai. Dapatkan orang seperti itu menjadi panutan? Apakah yang dapat diambil darinya? Kata-katanya berbuih; janjinya acap kali tak ditepati.

Jelaslah, pendidikan masih politik tertinggi.
(Salam hangat dri Kampung Damai)

Nasrullah Zarkasy