MENYIKAPI KRISIS POLITIK DAN EKONOMI

KHUTBAH JUMAT: MENYIKAPI KRISIS POLITIK DAN EKONOMI

Jum’at, 16 April 2010

Di Masjid Jami’ Darunnajah Cipining

KHUTBAH PERTAMA

(Muqadimah Khutbah)

Hadirin siding Jum’at Rahimakumullah

Situasi Politik dan Ekonomi saat ini yang belum kunjung membaik, telah membawa dampak tertentu bagi bangsa Indonesia, khususnya mereka dari kalangan menengah kebawah. Namun situasi seperti ini tidak perlu terlampau dicemaskan. Apalagi sampai berputus asa. Adalah justru akan memperburuk situasi dan ekonomi yang memang sudah tidak menguntungkan ini.

Islam mengajarkan kepada umatnya agar mau berhemat dalam pengeluaran. Sikap hemat bukan berarti kikir. Rasululah saw sendiri telah memberikan teladan soal mengisi perut. Beliau saw makan hanya ketika lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Hikmahnya adalah Rasulullah saw telah memberikan pendidikan kepada kita untuk menjaga kesehatan. Sebab perut pada hakekatnya merupakan sarang bermacam-macam penyakit. Adapun pendidikan lain yang didapat dari kehidupan Rasulullah saw adalah bagaimana memanage pengeluaran.

كُلُوْا وَشْرَبُوْا وَتَصَدَّقُوْا وَالْيَسُوْا غَيْرَ اِسْرَاقٍ وَلاَ مَخِيْلَةٍ

Makan dan minumlah, dan bershadaqahlah serta berpakaianlah tanpa berlebih-lebihan dan janganlah sombong” (HR Ahmad, Nasa’i, Ibnu Majjah dan Hakim Ibnu Umar)

Jadi Pola hidup sederhana inilah yang semestinya kita terapkan dalam upaya mensiasati situasi ekonomi yang tidak kunjung menguntungkan ini. Salah dalam menentukan langkah bias-bisa membuat kita semakin terjatuh dalam kesulitan yang berkepanjangan.

Para Hadirin siding Jum’at Rahimakumullah

Sebagaimana dimuka tadi sudah saya jelaskan bahwa politik dan ekonomi yang sedang melanda bangsa Indonesia akhir-akhir ini bukankah suatu yang harus dicemasi. Akan tetapi bagaimana bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam ini bisa berupaya untuk menemukan solusi yang terbaik. Sehingga mampu mengatasi problem akibat politik dan ekonomi yang semakin memburuk ini.

Didalam al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw banyak sekali iktibar yang mendorong umat Islam untuk memiliki etos kerja yang tinggi yang merupakan salah satu manusia yang berkualitas. Misalnya kita fahami dalam surat At-Taubah ayat 105, Allah swt telah berfirman;

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS At-Taubah : 105)

Dan dikatakan lagi dalam Hadits yang lain yang mashur sebagai do’a umat Islam;

اَللَّهُمَّ اِنِّيْ اَعُوْذُبِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَاَعُذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنَ جُبْنِ وَالْبُخْلِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّزَالِ (رواه البخاري ومسلم)

Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari rasa lemah dan sifat malas, aku berlindung kepada-Mu dari rasa takut dan bakhil, dan aku berlindung kepada-Mu dari beban hutang dan paksaan manusia” (HD Al-Bukhari dan Muslim)

Berangkat dari hadits diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Umat Islam harus menjadi manusia yang kuat dan berkwalitas dalam segala hal. Antara lain;

1. Iman

Dengan konsep ini, diharapkan agar umat Islam memiliki sikap istiqamah, irodah yang kuat dalam berusaha sehingga bebas dari pengaruh malas, lamban dan putus asa. Jadi apasesungguhnya Iman itu? Menurut konsep Rasulullah saw iman itu adalah makrifat dengan qalbu, mengikrarkan dengan lisan dan membuktikannya dengan amal perbuatan.

2. Akhlak

Dengan konsep ini dimaksudkan agar umat Islam memiliki kepekaan social yang tinggi dan nilai-nilai susila yang luhur. Sehingga bebas dari pengaruh bakhil, thamak, individualitas dan memperbudah sesamanya. Konsep ini berlaku tidak hanya pada pengelolaan system ekonomi saja. Melainkan system-sistem yang lain seperti politik, hukum, dan budaya. Juga harus mengambil nilai-nilai dari pada akhlak itu sendiri. Seperti dalam sebuah Hadits Rasulullah saw;

Rasulullah saw bersabda;

اَلْمُؤْمِنُ اْلقَوِيُّ خَيْرٌ وَاَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ (رواه مسلم)

Orang beriman yang kuat jauh lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang beriman yang lemah” (HR Muslim)

3. Organisasi

Kekuatan Iman dan akhlak adalah amat penting dalam upaya mengatasi krisis Politik dan ekonomi, akan tetapi dua kekuatan ini tidak akan menjadi efektif bila tidak didukung dengan kekuatan Organisasi yang rapid an teratur. Dalam hal ini Allah swt memberikan isyarat agar Umat Islam tidak melakukan kegiatan yang asal jalan. Apalagi masalah ini menyangkut politik dan ekonomi.

Kita ambil sebuah contoh, Negara yang belum memiliki pengelolaan ekonomi secara rapi dan teratu, maka Negara tersebut harus dibebani hutang luar negeri yang begitu banyak. Dan setiap tahunnya hutang ini meski dibayar dengan jumlah yang semakin meningkat. Padahal, itu merupakan salah satu potensi untuk anggaran pembangun kita.

Dan inilah kiranya firman Allah swt yang mesti kita perhatikan;

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh” (QS Ash-Shafat : 4).

Dan dijelaskan lagi dengan firman-Nya yang berbunyi;

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS At-Taubah : 71).

Para hadirin yang dimuliakan Allah

Pusat Data Bisnis Indonesia telah menyatakan bahwa satu factor fundamental dan keroposnya ekonomi Indonesia adalah disebabkan karena membudayanya praktek KKN. Dengan memperhatikan pernyataan tersebut ternyata selama pemerintah orde baru para pemimpin kita belum menggunakan ketiga kekuatan itu; Iman, Akhlak dan Organisasi. Yang merupakan konsep dasar dalam ajaran Islam dalam mengatasi segala aspek kehidupan. Terutama yang berhubungan dengan Problem Politik dan Ekonomi. Dalam hal ini Allah sendiri sudah menjanjikan rizki yang banyak bagi hamba-hamba-Nya yang tetap berpegang teguh pada agama Islam.

Demikianlah Khutbah yang dapat saya sampaikan, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Sebelum saya akhiri Khutbah ini, marilah kita selalu berdo’a kepada Allah swt untuk meminta pertolongan agar kita segera dibebaskan dari krisis Politik dan Ekonomi dan dari fitnah yang akhir-akhir ini benyak merugikan umat Islam.

باَرَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعْنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ وَقُلْ ؤَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرٌ الرَّاحِمِيْنَ

(KHUTBAH KEDUA)

[WARDAN/Kang DR]