Bulan Ramadhan telah berjalan 4 hari. Seiring dengan bergulirnya waktu pula agenda kegiatan Darunnajah Cipining menyemarakkan setiap kesempatan agar bernilai ibadah. “Setiap apapun yang dikerjakan oleh orang yang berpuasa, akan bernilai ibadah. Bahkan tidurnya orang berpuasa adalah ibadah” kata Ustadz  Adiwarman mengutip sebuah hadits dalam suatu kesempatan.

Mengisi Waktu Dengan Mengaji

Mengisi Waktu Dengan Mengaji

Mengaji

Gema dan kumandang murottal terdengar syahdu setiap waktu. Para santri khusu’ mengaji di setiap kesempatan. Di sekolah saat menunggu para pengajar masuk  dan di sore hari menjelang berbuka puasa. Bahkan di sela-sela waktu yang cukup digunakan untuk membaca kitab suci, mereka gunakan dengan sebaik-baiknya. Mengaji menjadi aktivitas yang membudaya. Budaya bernilai pahala berlipat ganda.

Setiap Ramadhan, santri memiliki target masing-masing dalam membaca Al-Qur’an. Sebagian besar dari mereka menginginkan khatam dalam satu bulan. Bahkan terkadang terdapat pula yang menginginkan 2 kali.  Ada juga yang menargetkan khatam sebelum perpulangan ke rumah, karena di rumah, semangat membaca Al-Qur’an sedikit berkurang.

Santriwati Khusu' Dengan Al-Qur'annya

Karena masing-masing target tersebut, maka setiap santri juga mengagendakan berapa banyak harus membaca Al-Qur’an setiap harinya. “Setiap harinya target saya 2 juz” kata Rika Rahayu, santriwati kelas XI MA yang ingin 4 kali khatam dalam sebulan ini.

Selain itu, program dari kepala asrama putra untuk Ramadhan kali ini adalah membiasakan santri untuk melakukan dzikir petang dengan membaca Al-Ma’tsurot. “Ini adalah kesempatan baik untuk santri belajar dan mempraktikan dzikir ini. Sementara ini masih dengan pola membaca dan dilakukan berjamaah, namun diharapkan untuk beberapa hari ke depan, mereka sudah bisa sendiri-sendiri” jelas Ustadz Muhlisin.

Mengkaji

Kegiatan lain yang cukup mewarnai Ramadhan 1430 H. ini adalah penambahan wawasan keagamaan melalui forum-forum ceramah, majelis ilmi, ta’lim, dan pengkajian kitab. Diharapkan, dengan wasilah ini, khazanah keilmuan santri dapat meningkat, karena sebagai santri, tanggung jawab dakwah menjadi kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Apalagi nantinya, setelah 20 hari berada di pesantren, para santri akan kembali ke masyarakatnya masing-masing. Siap tidak siap, peluang untuk memberikan pemahaman tentang Ramadhan dan keislaman terbuka luas.

Maka kesiapan seorang santri sangat diperlukan. Bila di pesantren mereka telah banyak mengikuti dan mengkaji kitab-kitab keislaman, akan tidak ada kendala baginya untuk berdakwah. Namun sebaliknya, jika kering akan ilmu, keberadaan santri dalam suatu tempat tidak menuai manfaat.

Beberapa waktu yang dijadwalkan untuk program pengkajian di antaranya adalah seusai shalat Shubuh. Jadwal ini meneruskan   dari sebelum Ramadhan yang telah berjalan. Kajiannya antara lain tafsir, hadits, tarikh, fiqh, adab-adab dan aqidah. Kajian ini dilakukan baik di masjid putra, putri maupun di kampus 2.

Selanjutnya adalah tausiyah Ramadhan ba’da shalat Dzuhur yang dijadwalkan semenjak awal puasa bertempat di masjid jami’. Sebagai nara sumbernya adalah KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc yang diikuti oleh seluruh santri putra/i asrama dan non asrama dari tingkat MTs, SMP, MA dan SMK. Dalam kesempatan ini, Pimpinan pesantren banyak menyampaikan tentang aqidah akhlak serta bimbingan ibadah.

Bimbingan Ibadah Oleh Bapak Kyai

Bimbingan Ibadah Oleh Bapak Kyai

Dengan durasi selama 1 jam para santri berkewajiban mencatat materi-materi yang disampaikan. Bapak Pimpinan juga memberlakukan sanksi bagi santri yang tidak memperhatikan keterangan beliau (bercanda) dengan hukuman berdiri. Dari kegiatan ini, beliau menginginkan agar para santri dapat mendalami agama Islam dan mempraktikannya di kehidupan sehari-hari. “Santri harus mampu mewarnai masyarakatnya dengan tampil sebagai seorang muslim yang benar dalam beraqidah, bermuamalah, dan bersyariah”

Kegiatan ta’lim juga dilakukan pada waktu shalat Tarawih. Di antara shalat tarawih dan shalat witir, bagian peribadatan memberikan waktu kepada asatidz untuk memberikan tausiyah dan taujihat di depan para jamaah selama 7-15 menit. Hal yang dibahas berkisar tentang Ramadhan dan puasa. Tema yang dibahas antara lain amalan-malan yang dianjurkan dalam bulan Ramadhan, hal-hal yang membatalkan puasa, puasa ditinjau dari ilmu kesehatan hingga pengetahuan tentang zakat fitrah.

Khusus bagi dewan guru, program pengkajian dilakukan menjelang berbuka puasa bertempat di gedung sekretariat pesantren. Dengan nara sumber Bapak Kyai, pada kesempatan itu kitab yang dibahas diantaranya adalah ‘Fiqh Muyassar’ karya Syaikh Tontowi. Program ini sebagai pengganti kegiatan majelis ilmi yang biasanya dilaksanakan seusai shalat Shubuh.

Di asrama putri juga diadakan pembacaan kitab Fadilah ’Amal. Kegiatan ini sebagai upaya peningkatan wawasan santri putri. Sambil menunggu adzan dikumandangkan, utusan dari masing-masing kamar membacakan isi dari judul yang telah mereka pilih di depan rayon masing-masing.

Majelis Ilmi Asatidz

Majelis Ilmi Asatidz

Berbagi

Pun berbagi. Seperti Ramadhan sebelumnya, Ramadhan 1430 H. juga membuka pintu kasih sayang bagi sesama untuk saling berbagi. Kesempatan ini dipergunakan santri untuk mengadakan acara buka puasa bersama yang di dalamnya para santri tersebut dapat memberikan makan ta’jilnya kepada yang lainnya.

Santri yang mendapat kunjungan dari orang tua, juga biasanya membagikan untuk teman-temannya. Ada juga yang bergantian dalam menyediakan makan ta’jil sehingga keakraban dan silaturrahmi menjadi semakin kuat.

Berkaitan dengan ibadah berbagi, santri Darunnajah kelas 6 TMI/XII MA sedang mempersiapkan agenda santunan sosial dengan menyantuni + 125 anak yatim dan kurang mampu pada 30 Agustus/9 Ramadhan nanti. Bagi yang ingin turut menyumbang masih dibuka kesempatan dengan menghubungi panitia atas nama Ustadz. A.A. khuseini, contact person 085692844588. (Billah)