Pesantren Darunnajah 2 Cipining mengadakan program “Fathul Kutub” pada Sabtu, 15 Februari 2025. Program yang diinisiasi oleh divisi kurikulum dan dinaungi Departemen TMI ini diikuti oleh 141 santri kelas 6 TMI.
Kegiatan berlangsung di tiga lokasi yaitu laboratorium Zaid, BLK, dan Ruang Pertemuan. Program ini bertujuan membuka wawasan santri dalam mengetahui dan mendalami kitab-kitab at-turats (literatur klasik Islam). Ust. M. Fariz Khaerul Fazri, Lc., bersama beberapa guru lainnya yang ahli di bidangnya hadir sebagai narasumber dan pembimbing.
Melalui program ini, santri kelas 6 TMI mampu berpikir secara kritis dan memecahkan permasalahan fiqih yang ada di masyarakat. Kemampuan mengakses sumber-sumber primer menjadi modal penting bagi santri dalam menyikapi dinamika sosial-keagamaan yang kompleks.
Penilaian peserta dilakukan berdasarkan tiga aspek utama: kebahasaan, materi dan isi, serta referensi dan jumlah halaman yang dibuat. Santri dengan performa terbaik akan mendapatkan penghargaan khusus sebagai peserta terbaik.
Program ini tidak lepas dari tantangan berupa bentroknya jadwal dengan kegiatan lain. Namun, koordinasi yang solid antara divisi kurikulum dan Departemen TMI membantu meminimalkan dampak dari tantangan tersebut.
Fathul Kutub memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan santri. Melalui program ini, santri dibekali dengan pengetahuan teoretis dan kemampuan praktis dalam mengkaji kitab-kitab klasik. Program ini juga mengajarkan hukum-hukum terkait aqidah dan fiqih serta membuka wawasan tentang kutubu at-turats.
Di tengah arus modernisasi dan digitalisasi pendidikan, program ini menjadi bukti bahwa Pesantren Darunnajah 2 Cipining tetap menjaga keseimbangan antara melestarikan tradisi keilmuan klasik dengan tuntutan pendidikan kontemporer.
Dengan membekali santri kemampuan membaca dan menganalisis kitab-kitab turats, pesantren menyiapkan generasi yang mampu mengakses sumber pengetahuan modern sekaligus menguasai khazanah keilmuan Islam klasik.
Program Fathul Kutub menunjukkan bahwa pendidikan pesantren tetap relevan dan adaptif dalam menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya sebagai benteng tradisi keilmuan Islam nusantara.
