Kuliah Umum Khutbatul 'Arsy Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta Kuliah Umum Khutbatul 'Arsy Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Kuliah Umum Khutbatul ‘Arsy Pondok Pesantren Darunnajah Tahun Ajaran 2026-2027

Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta menyelenggarakan Kuliah Umum Khutbatul ‘Arsy Tahun 2026 pada 5–8 Agustus 2026. Kegiatan yang menghadirkan sejumlah pembicara dari unsur pimpinan pesantren ini menjadi momentum bagi seluruh santri untuk kembali memahami nilai, arah, dan tujuan pendidikan yang menjadi landasan kehidupan di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta.

Kuliah Umum Khutbatul ‘Arsy menjadi bagian dari rangkaian pendidikan awal tahun yang tidak hanya memberikan pemahaman mengenai kehidupan pesantren, tetapi juga meneguhkan kembali kesadaran santri tentang tujuan mereka menempuh pendidikan di Darunnajah. Berbagai materi yang disampaikan para pembicara mengarahkan santri untuk melihat pendidikan sebagai proses pembentukan ilmu, akhlak, kemandirian, kepemimpinan, dan tanggung jawab.

Kuliah Umum Khutbatul 'Arsy Pondok Pesantren Darunnajah Tahun Ajaran 2026-2027

Salah satu pembicara dalam kegiatan tersebut, KH Hadiyanto Arief, SH, MBs, Pimpinan Pesantren, menyampaikan materi yang menekankan pemahaman terhadap sistem pendidikan TMI Darunnajah serta arah pembentukan santri. Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa pendidikan Darunnajah diarahkan untuk “mencetak manusia yang mutafaqqih fiddin untuk menjadi kader pemimpin ummat dan bangsa.” Mutafaqqih fiddin dimaknai sebagai pribadi yang mendalam pemahamannya terhadap agama, dengan kedalaman ilmu tersebut menjadi bekal untuk menjalankan tanggung jawab dan memimpin di tengah umat dan bangsa.

Peneguhan tujuan pendidikan tersebut berjalan seiring dengan pembentukan empat karakter utama santri, yaitu berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas. Keempatnya menjadi bagian dari proses pendidikan yang mengintegrasikan pembentukan akhlak, kesehatan fisik, keluasan wawasan, serta kemampuan berpikir dan mengambil keputusan secara mandiri.

Dalam materi yang disampaikan, KH Hadiyanto Arief juga mengingatkan kembali Panca Jiwa sebagai lima nilai yang menghidupkan keseharian pesantren, yaitu jiwa keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan. Nilai-nilai tersebut tidak berhenti pada pemahaman teoritis, melainkan diharapkan hadir melalui kebiasaan dan pengalaman santri dalam kehidupan sehari-hari.

“Panca Jiwa hanya menempel kalau dialami, bukan kalau dihafal.”
Pemahaman mengenai pendidikan pesantren juga diperkuat melalui konsep pendidikan 24 jam. Pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui kehidupan asrama, organisasi, ekstrakurikuler, kepanitiaan, dan interaksi sehari-hari. Integrasi tersebut menjadikan seluruh lingkungan pesantren sebagai ruang pembentukan karakter santri.

Dalam kehidupan tersebut, santri dilatih untuk mengatur diri, mengurus kebutuhan pribadi, hidup bersama dengan berbagai latar belakang, menjaga ibadah, serta bertanggung jawab terhadap tugas dan lingkungan. Berbagai pengalaman tersebut menjadi bagian dari latihan kemandirian yang berjalan secara alami dalam kehidupan pesantren.

Kuliah Umum Khutbatul 'Arsy Pondok Pesantren Darunnajah Tahun Ajaran 2026-2027

Proses pembentukan karakter juga berlangsung melalui pengalaman bekerja sama, berkompetisi, dan menghadapi berbagai dinamika kehidupan bersama. Kegiatan kepanitiaan, kerja bakti, organisasi, perlombaan, serta interaksi antarsantri menjadi ruang bagi mereka untuk belajar menyelesaikan persoalan, menerima perbedaan, memimpin, dan bekerja bersama. Dalam proses tersebut, santri tetap mendapatkan pendampingan dan bimbingan dari guru, pengasuh, serta santri senior.

Selain pembentukan karakter, pendidikan TMI Darunnajah dirancang sebagai perjalanan enam tahun yang saling berkesinambungan. Tiga tahun pertama menjadi tahap membangun dasar, sementara tiga tahun berikutnya menjadi tahap bagi santri untuk mengembangkan kemampuan memimpin, mengajar, mengelola, dan memberikan keteladanan kepada generasi di bawahnya. “Kelas 1–3 menanam, kelas 4–6 memanen.”

Dengan demikian, proses pendidikan di Darunnajah tidak berhenti pada kemampuan menerima ilmu. Santri juga diarahkan untuk mampu menjelaskan, bertanya, menyimpulkan, berdiskusi, mempertahankan pendapat, dan membangun gagasan bersama melalui berbagai kegiatan seperti sorogan, musyawarah, muhadharah, dan amaliyah tadris.

Kuliah Umum Khutbatul ‘Arsy 2026 pada akhirnya menjadi ruang peneguhan bersama bahwa pendidikan pesantren merupakan proses panjang yang membutuhkan kesadaran, kesungguhan, dan keikhlasan. Melalui berbagai materi yang disampaikan para pembicara, para santri diajak untuk memahami bahwa setiap kegiatan dan proses yang dijalani di pesantren memiliki tujuan dalam membentuk pribadi yang berilmu, berakhlak, mandiri, serta memiliki kesiapan untuk memimpin dan mengabdi.

Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi seluruh santri Darunnajah dalam memasuki tahun pendidikan baru dengan pemahaman yang lebih utuh tentang nilai dan tujuan pendidikan yang mereka jalani.

Dalam khutbahnya, K.H. Sofwan Manaf juga menyampaikan sebuah pertanyaan mendasar yang diharapkan terus direnungkan oleh setiap santri:

“Ke Darunnajah, Apa yang kau cari?”

Pertanyaan tersebut menjadi pengingat bahwa keberadaan santri di pesantren bukan semata untuk memperoleh kenyamanan fasilitas, melainkan untuk menuntut ilmu, mengamalkan ajaran agama, membentuk karakter, serta mempersiapkan diri menjadi pemimpin umat di masa depan.

Pentingnya meluruskan niat lillahi ta‘ala dalam setiap proses pendidikan. Perjalanan pendidikan di pesantren merupakan ikhtiar bersama antara santri yang bersedia dididik, orang tua yang menitipkan dengan penuh keikhlasan, serta kiai dan guru yang mendidik dengan penuh tanggung jawab.

Melalui Khutbatul ‘Arsy, seluruh santri diajak memahami kembali untuk apa mereka hadir di Darunnajah dan tujuan apa yang hendak dicapai selama menempuh pendidikan di pesantren. (ANA)