Pondok Pesantren Darunnajah Pusat menyelenggarakan Khutbatul Arsy Guru Tahun 2026 pada Sabtu (18/7/2026) di GOR Pondok Pesantren Darunnajah, Jakarta. Kegiatan yang diikuti sekitar 606 guru dari seluruh jenjang pendidikan Darunnajah Pusat, mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, menjadi momentum pembukaan tahun ajaran baru sekaligus peneguhan kembali komitmen para pendidik dalam mengemban amanah pendidikan dan dakwah.
Khutbatul Arsy Guru merupakan agenda tahunan yang tidak hanya menandai dimulainya aktivitas pendidikan, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi seluruh guru untuk meluruskan niat, memperkuat ukhuwah, serta menyatukan visi dalam membina generasi penerus umat. Suasana khidmat terasa ketika seluruh peserta memanjatkan doa bersama, memohon agar setiap langkah pengabdian senantiasa mendapat keberkahan dan ridha Allah SWT.

Dalam Khutbatu Arsy ini para pendidik Darunnajah kembali menautkan niat. Sebelum berbicara tentang kurikulum, jadwal, atau target, para guru lebih dahulu berbicara kepada hati masing-masing.
“Allahumma innaka ta’lamu anna hadzihil qulub qadijtama’at ‘ala mahabbatik, Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul di atas cinta kepada-Mu.”
Kalimat itu terasa hidup ketika ratusan guru mengaminkannya bersama. Khutbatul Arsy bukan panggilan untuk sekadar bekerja, melainkan panggilan untuk berkhidmah dengan hati yang tulus.
Dalam tradisi pendidikan pesantren, seorang guru tidak hanya berperan sebagai pengajar di ruang kelas. Guru merupakan pendidik yang mendampingi kehidupan santri secara menyeluruh selama dua puluh empat jam, membimbing proses pembelajaran, pembinaan karakter, hingga menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, Khutbatul Arsy menjadi momentum penting untuk mengingat kembali besarnya amanah tersebut sebelum memasuki tahun ajaran baru.
Pada kesempatan itu juga disampaikan kembali perjalanan panjang Pondok Pesantren Darunnajah yang telah memasuki usia 88 tahun. Berawal dari sebuah Madrasah Islamiyah sederhana yang didirikan K.H. Abdul Manaf Mukhayyar pada tahun 1938 di sebuah ruangan berukuran sekitar empat kali enam meter di Kampung Petunduan, Darunnajah tumbuh melalui semangat dakwah dan keikhlasan para pendirinya.
Perjalanan tersebut berlanjut dengan berdirinya Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Islam (YKMI) pada tahun 1961 sebagai penguatan kelembagaan, kemudian transformasi menjadi pesantren modern pada tahun 1974 yang menerapkan sistem pendidikan selama dua puluh empat jam. Seiring perkembangan zaman, Darunnajah terus melakukan pengembangan hingga memiliki jaringan pendidikan yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia serta mendirikan universitas sebagai bagian dari penguatan pendidikan tinggi.
Perkembangan tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan lembaga tidak terlepas dari nilai-nilai keikhlasan, pengorbanan, dan pengabdian yang diwariskan oleh para pendiri. Semangat inilah yang terus dijaga agar setiap perkembangan yang dicapai tetap berpijak pada misi dakwah dan pendidikan Islam.

Dalam pembinaan guru Darunnajah, integritas menjadi salah satu nilai utama yang terus ditekankan. Guru dituntut tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menghadirkan keteladanan melalui akhlak, kedisiplinan, kesederhanaan, serta konsistensi dalam menjalankan ibadah dan kehidupan sehari-hari. Keteladanan tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter santri, sejalan dengan sistem pendidikan pesantren yang berlangsung sepanjang waktu.
Selain itu, para guru juga diingatkan untuk terus menjaga semangat kaderisasi dan keberlanjutan perjuangan pesantren. Regenerasi kepemimpinan yang sehat menjadi salah satu kunci agar Darunnajah mampu terus berkembang tanpa kehilangan nilai-nilai dasar yang telah diwariskan para pendahulu. Di tengah berbagai perubahan zaman, inovasi pendidikan dan dakwah diharapkan tetap berjalan selaras dengan prinsip-prinsip keislaman yang menjadi fondasi lembaga.
Rangkaian Khutbatul Arsy Guru Tahun 2026 disampaikan langsung oleh para pengasuh Pondok Pesantren Darunnajah, yaitu Drs. K.H. Mad Rodja Sukarta dan Dr. K.H. Sofwan Manaf, M.Si., serta menghadirkan tamu kehormatan Syekh Prof. Dr. Adil Mubarok dari Universitas Islam Madinah.

Melalui Khutbatul Arsy Guru, Pondok Pesantren Darunnajah kembali menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum dan fasilitas, tetapi terutama oleh keikhlasan para pendidik dalam mengabdikan diri untuk membina generasi berilmu, berakhlak, dan siap melanjutkan estafet perjuangan dakwah Islam.
Maka, kepada seluruh guru Darunnajah, panggilan untuk hadir ini bergema kembali, bukan hanya dengan raga, tetapi dengan hati yang tulus dan penuh cinta. Sebab dari ruang empat kali enam meter pada 1938 hingga 1.128 hektar hari ini, satu hal terbukti tak pernah berubah bahwa pendidikan yang dilandasi keikhlasan mampu mengubah dunia.
Para guru bukan sekadar mengajar tapi sedang meneruskan cahaya peradaban.
Ditulis Oleh: Dr. K.H. Sofwan Manaf, M.Si.
