Sudah menjadi agenda rutin setiap libur semester, anggota SAHPALA (Santri Darunnajah Pecinta Alam) mengadakan pendakian gunung untuk tadabbur alam. Kali ini, Gunung Slamet di Jawa Tengah terpilih menjadi tujuan pendakian.
Gunung Slamet banyak diminati para pendaki karena merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah dengan medan yang menantang. Jalur pendakiannya yang panjang dan terjal sangat cocok untuk menguji kekuatan fisik dan mental. Keindahan alamnya yang masih alami, suhu dingin, dan cuaca yang ekstrem memberikan pengalaman pendakian yang berkesan. Selain itu, Slamet memiliki banyak jalur dengan karakter berbeda serta nilai spiritual yang kuat. Pendakian ke gunung ini bukan sekadar tentang mencapai puncak, tetapi juga tentang proses, ketahanan diri, kerja sama tim, dan pembelajaran hidup.
Persiapan Matang: Pembinaan Fisik Menuju Keselamatan

Sebanyak 53 santri dari kelas 3-6 TMI yang telah lolos seleksi ketat mulai mempersiapkan pembinaan fisik (binsik) jauh sebelum libur tiba. Para santri diwajibkan mengikuti pembinaan fisik sebagai bentuk persiapan keselamatan dan kedisiplinan.
Binsik dilakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh, kekuatan otot, serta kesiapan mental santri dalam menghadapi medan pendakian yang panjang, terjal, dan bersuhu dingin. Melalui kegiatan ini, santri dilatih agar mampu mengelola kelelahan, menjaga ritme langkah, serta meminimalkan risiko cedera dan gangguan kesehatan selama pendakian. Selain kesiapan fisik, binsik juga menjadi sarana pembentukan karakter, kekompakan tim, dan tanggung jawab bersama, sehingga pendakian dapat berjalan dengan aman, tertib, dan lancar hingga kembali ke titik akhir.
Pelepasan dan Doa: Ikhtiar Memohon Keselamatan
Rabu sore, 17 Desember 2024, sebanyak 53 santri dan 7 musyrif mengikuti upacara pelepasan serta doa bersama sebagai ikhtiar memohon keselamatan selama kegiatan pendakian. Kegiatan dilanjutkan dengan pengecekan perlengkapan pribadi dan kelompok guna memastikan seluruh peserta siap secara fisik dan mental, serta membawa perlengkapan sesuai standar keselamatan pendakian.
Pengecekan ini dilakukan sebagai wujud kedisiplinan dan tanggung jawab bersama, mengingat Gunung Slamet memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan gunung lainnya. Selain itu, kondisi cuaca yang tidak menentu dan cenderung hujan menuntut persiapan yang lebih matang agar seluruh rangkaian pendakian dapat berjalan dengan aman, tertib, dan lancar hingga seluruh peserta kembali dengan selamat.
Perjalanan Menuju Basecamp

Pada Kamis dini hari, 18 Desember 2024, pukul 01.56 WIB, peserta SAHPALA berangkat menuju Tegal, Jawa Tengah, menggunakan satu unit bus besar. Alhamdulillah, perjalanan berlangsung dengan lancar dan rombongan tiba di basecamp pada pukul 10.05 WIB dalam keadaan selamat. Setelah beristirahat, registrasi, dan persiapan, tepat pukul 12.49 WIB kami memulai pendakian.
Jalur Permadi Guci: Pilihan Strategis
Kami memilih jalur Permadi Guci saat mendaki Gunung Slamet karena jalur ini menawarkan perpaduan antara tantangan pendakian, keindahan alam, serta nilai strategis dari sisi keselamatan dan logistik. Jalur Permadi Guci dikenal memiliki trek yang bervariasi, mulai dari hutan pinus, vegetasi lebat, hingga jalur terbuka yang menyuguhkan panorama alam khas lereng Slamet.
Ketersediaan sumber air, jalur yang relatif jelas, serta adanya basecamp yang terkelola dengan baik menjadikan jalur ini lebih terkontrol dan aman, terutama bagi rombongan besar atau pendaki pemula yang telah dibekali persiapan matang. Daya tarik lainnya adalah suasana pendakian yang masih alami dan tidak terlalu padat, sehingga memberikan pengalaman mendaki yang lebih khusyuk dan berkesan, sejalan dengan karakter Gunung Slamet yang dikenal menuntut kesiapan fisik, mental, dan kedisiplinan tinggi dari setiap pendaki.
Menapaki Empat Pos Menuju Camp
Untuk mencapai lokasi camp dan mendirikan tenda, kami harus melewati empat pos pendakian melalui jalur Permadi Guci:
Pos 1 Blakbak → Pos 2 Rimpakan
Jarak: ±1,35 km | Waktu: ±1 jam 20-30 menit
Medan mulai menanjak dan jalur semakin menyempit, didominasi jalan tanah hutan dengan kontur yang menguras tenaga.
Pos 2 Rimpakan → Pos 3 Selo Pethak
Jarak: ±1,5 km | Waktu: ±50-60 menit
Trek di bagian ini relatif lebih bersahabat, namun tetap membutuhkan konsentrasi karena tanjakan panjang dan jalur hutan yang rapat.
Pos 3 Selo Pethak → Pos 4 Thirta Amreta
Jarak: ±1,15 km | Waktu: ±1 jam 10 menit
Kondisi trek berupa kombinasi tanjakan ringan hingga landai. Pos 4 Thirta Amreta menjadi lokasi strategis untuk beristirahat dan mendirikan tenda sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak.
Alhamdulillah, sebelum waktu Magrib kami telah tiba di Pos 4 Thirta Amreta dan berhasil mendirikan tenda dengan tertib dan aman.
Pos 4 Thirta Amreta: Rumah Sementara di Ketinggian
Pos 4 Thirta Amreta merupakan area camp yang relatif luas dan cukup datar, dikelilingi pepohonan lebat yang melindungi dari angin. Fasilitas yang tersedia di pos ini antara lain area pendirian tenda, sumber air terdekat (musiman), kamar mandi, serta mushola sederhana yang memudahkan santri untuk menjaga kebersihan diri dan menunaikan salat dengan tertib.
Memasuki suasana malam, keakraban antarpeserta SAHPALA semakin terasa. Setiap kelompok memasak menggunakan alat masak (nesting) di tenda masing-masing dengan memanfaatkan logistik yang telah dibawa dari awal. Hidangan yang sederhana namun penuh kebersamaan tersebut mampu menghilangkan rasa lelah setelah seharian menempuh jalur pendakian, sekaligus mempererat ukhuwah dan semangat kebersamaan antarsantri pendaki. Malam itu kami beristirahat di tengah dinginnya udara pegunungan.
Penyerbuan Puncak: Perjuangan di Kegelapan Malam

Keesokan harinya, tepat pukul 03.00 WIB, karena semangat yang membara, seluruh peserta telah terbangun dan bersiap untuk melakukan penyerbuan puncak (summit attack) menuju puncak. Pendakian malam tentu terasa lebih berat dengan kondisi gelap, udara yang dingin, jalur yang terjal, serta tantangan mental yang lebih besar. Berbekal senter kepala (headlamp), jaket tebal, dan perbekalan secukupnya, kami mulai menyusuri gelapnya malam dengan penuh kewaspadaan.
Didampingi oleh dua ranger, barisan dirapatkan dan seluruh peserta diinstruksikan untuk tetap bersama tanpa ada yang terlepas atau tertinggal. Prinsip satu komando dan satu suara diterapkan secara disiplin. Setiap kali terdengar aba-aba “Break“, seluruh barisan berhenti sebagai tanda ada peserta yang membutuhkan waktu istirahat.
Memang benar, pada pendakian kali ini beberapa peserta SAHPALA masih tergolong pemula, yang sejatinya belum ideal untuk langsung menghadapi Gunung Slamet sebagai gunung tertinggi di Jawa Tengah. Namun, berkat motivasi, sugesti positif, serta dukungan dari para musyrif dan sesama santri, semangat tersebut mampu mengalahkan rasa lelah. Ketika komando “Next” kembali terdengar, perjalanan pun dilanjutkan dengan tekad yang semakin kuat.
Perbatasan Vegetasi: Awal Tantangan Sesungguhnya
Tak terasa, sekitar pukul 04.00 pagi kami pun tiba di area perbatasan vegetasi. Di titik ini, perubahan alam terasa sangat jelas. Pepohonan besar mulai menghilang, berganti dengan semak dan tumbuhan rendah yang jaraknya semakin renggang. Jalur pendakian didominasi bebatuan terjal dan lepas, memaksa kami melangkah lebih hati-hati karena kemiringan trek cukup curam dan rawan tergelincir. Setiap pijakan terasa lebih berat, apalagi oksigen mulai menipis seiring bertambahnya ketinggian.
Pada saat yang sama, suhu udara semakin dingin menusuk tulang, terlebih angin gunung bertiup kencang menyapu tubuh. Napas terlihat mengepul, jari-jari mulai kaku, dan jaket tebal menjadi pelindung utama. Meski kondisi semakin menantang, suasana menjelang fajar justru menghadirkan ketenangan tersendiri, seolah alam sedang menguji kesabaran dan keteguhan langkah kami sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak.
Ujian Keselamatan: Hipotermia dan Mual
Hal yang tak diinginkan pun akhirnya terjadi. Satu peserta pemula SAHPALA mengalami gejala hipotermia ringan, sementara satu peserta lainnya merasa mual karena ternyata belum makan malam. Kejadian ini menjadi pengingat penting akan pentingnya kesadaran terhadap kemampuan diri, memahami kondisi tubuh, serta tidak memaksakan diri dalam pendakian. Keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama.
Kedua peserta tersebut tidak dapat melanjutkan perjalanan, namun tim pendamping belakang (sweeper) tetap mendampingi dan tidak meninggalkan mereka, dengan harapan kondisi fisik dan semangat dapat kembali pulih.
Proses penanganan dilakukan sesuai prosedur keselamatan di gunung. Peserta yang mengalami hipotermia segera dihentikan dari aktivitas, kemudian diposisikan di area yang relatif terlindung dari angin. Tubuhnya dibalut menggunakan selimut darurat (emergency blanket) untuk menahan panas tubuh dan mencegah penurunan suhu lebih lanjut. Ia juga diberikan minuman hangat manis secara perlahan untuk membantu pemulihan energi dan suhu tubuh.
Sementara itu, peserta yang mengalami mual diberikan makanan ringan berenergi, air hangat, serta waktu istirahat yang cukup. Selama proses tersebut, tim melakukan pemantauan kondisi secara berkala, komunikasi intensif, serta dukungan mental, hingga akhirnya diambil keputusan terbaik demi keselamatan kedua peserta.
Subuh di Pos 5 Watu Ireng: Khusyuk di Tengah Alam
Tiba di Pos 5 Watu Ireng, kami pun memutuskan untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah di sana. Dalam dinginnya udara gunung dan temaram cahaya fajar yang perlahan menyingsing, suasana terasa begitu tenang dan syahdu. Beralaskan tanah dan bebatuan, dengan jaket tebal sebagai pelindung dari udara menusuk, salat Subuh berjamaah di gunung menghadirkan rasa nikmat dan kekhusyukan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Seolah setiap takbir, doa, dan sujud menyatu dengan alam, memperkuat kesadaran akan kebesaran Allah di tengah ciptaan-Nya.
Tanpa kami sadari, ranger yang mendampingi perjalanan pun tampak takjub. Ia mengaku bahwa selama menjadi ranger, baru pertama kali melihat jamaah Subuh pendaki santri sebanyak ini. Hal tersebut semakin menguatkan tujuan dan niat utama kami dalam mendaki gunung, yakni tadabbur alam.
Jangan sampai kita sibuk mensyukuri nikmat Allah melalui keindahan ciptaan-Nya, namun justru melalaikan perintah wajib-Nya. Mendapatkan suasana indah di puncak hanyalah bonus; fokus utama kami adalah tadabbur alam, ibadah, dan keselamatan. Kami bukanlah pendaki sekadar pencari konten atau sensasi (pendaki karbitan/kalcer), kami adalah pendaki Muslim yang berakhlak, beribadah, dan tetap beretika dalam pendakian.
Jalur Terakhir: Tali Tambang dan Perjuangan 5 Cm
Pendakian kami pun kembali dilanjutkan. Jalur menuju puncak semakin menanjak dan menantang, dengan kemiringan yang tajam serta bebatuan besar dan kerikil lepas yang rawan tergelincir. Di beberapa titik, jalur menyempit dan mengharuskan kami melangkah perlahan sambil menjaga keseimbangan. Vegetasi hampir sepenuhnya menghilang, berganti dengan jalur terbuka yang langsung berhadapan dengan angin gunung dan udara dingin khas ketinggian Gunung Slamet. Setiap langkah menuntut fokus, tenaga, dan kekompakan tim agar perjalanan tetap aman.
Pada jalur puncak ini terdapat tali tambang besar yang terpasang memanjang, sangat membantu para pendaki untuk memanjat tebing yang curam dan menjaga kestabilan tubuh. Di tengah medan yang berat tersebut, dua santri yang sebelumnya sakit memutuskan untuk turun lebih dahulu, ditambah satu peserta SAHPALA lainnya yang kurang kuat secara fisik akibat kurangnya pemanasan sebelum pendakian.
Hal ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya pemanasan agar tubuh siap menghadapi beban dan tanjakan ekstrem. Saat memandang tali yang menjulang panjang ke atas, ingatan kami melayang pada film 5 Cm—tentang makna perjuangan, kebersamaan, dan saling menguatkan dalam setiap langkah menuju tujuan bersama.
Puncak Slamet 3.428 Mdpl: Atap Jawa Tengah

Setelah kurang lebih 4 jam perjuangan, akhirnya kami tiba di puncak Gunung Slamet (3.428 mdpl). Dari ketinggian ini, keindahan alam tersaji begitu luar biasa dan menyejukkan hati. Lautan awan membentang luas di bawah kami, berpadu dengan langit biru yang perlahan cerah, sementara angin puncak berhembus kencang seolah menyambut setiap pendaki yang Allah izinkan sampai.
Gunung Slamet memiliki dua titik puncak yang dikenal para pendaki, yaitu Puncak Salam dan Puncak Tertinggi (Top Summit), yang menjadi saksi bisu atas doa, lelah, dan perjuangan panjang menuju atap Jawa Tengah.
Dari puncak ini, pandangan mata dimanjakan dengan siluet gunung-gunung lain yang tampak jelas di kejauhan, di antaranya Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Prau, Gunung Lawu, hingga Gunung Ciremai saat cuaca benar-benar cerah.
Dari 53 peserta, alhamdulillah 50 peserta berhasil dan Allah izinkan untuk menginjakkan kaki di puncak Gunung Slamet. Rasa syukur dan haru menyelimuti kami semua. Bagi kami, berdiri di puncak bukanlah tujuan utama, melainkan bonus dari niat yang lurus. Fokus kami tetap pada tadabbur alam, ibadah, kebersamaan, dan keselamatan, karena di sanalah makna pendakian yang sesungguhnya.
Turun Gunung dan Hujan Lebat yang Mengkhawatirkan
Kami pun tidak dapat berlama-lama berada di puncak, karena angin bertiup sangat dingin dan kencang. Sekitar pukul 08.00 pagi, kami segera memutuskan turun dari puncak untuk kembali menuju basecamp. Perjalanan turun memang terasa lebih cepat dibandingkan saat pendakian, namun kaki justru terasa lebih pegal karena harus menahan beban tubuh di jalur yang menurun dan berbatu. Meski demikian, seluruh tim tetap saling mengingatkan agar turun dengan aman dan penuh kehati-hatian.
Akhirnya seluruh peserta tiba di Pos 1, lalu melanjutkan perjalanan dengan ojek dari Pos 1 menuju basecamp, mengingat jaraknya cukup jauh dan langkah ini dilakukan untuk memangkas waktu perjalanan.
Setibanya di basecamp, kami beristirahat dan bersiap untuk pulang. Namun tiba-tiba hujan turun sangat deras, hingga menggenangi area depan basecamp, sesuatu yang menurut warga setempat jarang terjadi sebesar itu. Hati kami sempat diliputi rasa khawatir dan bertanya-tanya, ada apa gerangan? Alhamdulillah, beberapa jam kemudian hujan mereda dan kondisi kembali aman.
Pertolongan Allah: Selamat dari Banjir Bandang
Kami pun melanjutkan perjalanan pulang menuju pesantren dan tiba selepas Subuh dalam keadaan selamat dan sehat. Tak lama setelah itu, datang kabar yang mengejutkan dari salah satu ranger dan informasi dari medis sosial bahwa daerah Guci mengalami banjir bandang; beberapa rumah hanyut dan belasan pendaki Gunung Slamet harus dievakuasi. Mereka adalah pendaki yang sempat berpapasan dengan kami saat perjalanan turun.
Betapa baik dan sayangnya Allah kepada santri yang berusaha taat pada perintah-Nya. Andaikan kami masih berada di sana pada waktu itu, entah apa yang akan terjadi pada kami. Semua atas izin Allah, semua atas kuasa Allah—tiada daya dan upaya selain pertolongan-Nya.
Wallahu a’lam bishawab.
Dokumentasi Perjalanan SAHPALA (Santri Darunnajah Pecinta Alam)
Gunung Slamet, 17-19 Desember 2024




