Kisah Inspiratif, Renungan Jum’at Barokah

20150630193338 (1)

Sejak pulang dari i’tikaf di Masjid selama tiga hari bersama jamaah dakwah, dokter Agus menjadi pribadi yang berbeda. Dalam setiap waktu, dan dalam kontek apapun selalu berbicara tentang Allah SWT. dan Rasullah SAW. Cara makan dan tidurnyapun berbeda, katanya itu cara tidur Rasullah SAW. Rupanya pengalaman i’tikaf dan belajar dimasjid benar-benar berkesan baginya.
Ada semangat baru dalam hidupnya. Namun beliau jadi lebih banyak merenung. Dia selalu teringat-ingat dengan kalimat yang dibicarakan oleh amir jamaah: “Obat tidak dapat menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Alah SWT. obat bisa menyembuhkan karena izin Allah SWT. karena sunnatullah. Allah bisa menyembuhkan dengan Obat atau tampa Obat. Jadi yang menyembuhkan bukanlah obat yang menyembuhkan adlah Allah SWT.

Sejak itu sebelum memeriksa pasiennya, beliau selalu bertanya: “Bapak sebelum kesini sudah ijin dulu kepada Allah SWT?” atau “Sudah berdoa meminta kesembuhan kepada Allah SWT?” atau “Sudah lapor dulu kepada Allah SWT?”. Jika dijawab belum (kebanyakan memang belum), beliau meminta pasien tersebut mengambil air wudhu, dan shalat 2 rakaat di tempat yang telah disediakan. Jika memberikan obat, beliau pun berpesan dengan kalimat yang sama. “Obat tidak bisa menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Allah SWT. Namun berobat adalah sunnah dari Rasulullah SAW. dan sebagai ikhtiar dan sunnatullah, agar Allah SWT. mau menyembuhkan”.

Ajaib! banyak pasien yang sembuh.

Jika diperiksa dengan ilmu medis, peluang sehatnya hampir tidak ada, ketika diberikan terapi “Yakin” yang diberikan beliau, menjadi sehat. Pernah ada pasien yang mengeluh sakit, beliau minta agar orang tersebut untuk shalat 2 rakaat (minta ampun dan minta kesembuhan kepada Allah SWT), ketika selesai shalat pasien tersebut langsung merasa sehat dan tidak jadi berobat. (Allahu-Akbar)

Rudi, Asistennya bertanya:,”Pak Dokter, kenapa dia langsung sembuh? Dr. Agus katakan, bisa jadi sumber sakitnya ada di hati, hati yang gersang karena jauh dari Allah SWT. Efek lain adalah pasiennya pulang dalam keadaan senang dan gembira. Karena tidak hanya fisiknya yang diobati, Namun batinnya pun terobati. Hati yang sehat, membuat fisik yang kuat. Dan sebaik-baik obat hati adalah Dzikir, Al-Quran, Wudhu, Shalat, Do’a dan tawakal pada Allah SWT.

Pernah ada pasien yang jantungnya bermasalah dan harus di operasi. Selain “Yakin”, beliau juga mengajarkan terapi cara hidup Rasulullah SAW. Pasien tersebut diminta mengamalkan satu sunnah saja, yaitu sunnah tidur. Sebelum tidur berwudhu, kalo bisa shalat 2 rakaat, berdoa, berdzkir, menutup aurat, posisi kanan adalah kiblat, dan tubuh miring ke kanan. Seminggu kemudian, pasien tersebut diperiksa. Alhamdulillah, tidak perlu dilakukan operasi. Allah SWT. telah memberi kesembuhan atasnya.

Ada juga pasien yang ginjalnya bermasalah. Beliau minta agar pasien tersebut amalkan sunnah makan dan sunnah di dalam WC. Makan dengan duduk sunnah sehingga posisi tubuh otomatis membagi perut menjadi 3 (udara, makanan, dan air). Kemudian buang air kecil dengan cara duduk sunnah, menguras habis-habis kencing yang tersisa dengan berdehem 3 kali, mengurut, dan membasuhnya dengan bersih. Seminggu kemudian, saat diperiksa ternyata Allah SWT. berikan kesembuhan kepada orang tersebut.

Rudi pernah sedikit protes. Sejak melibatkan Allah SWT., pasiennya jadi jarang bolak-balik dan beresiko mengurangi pendapatan beliau. Namun Dr. Agus katakan bahwa rezeki adalah urusan Allah SWT. Dan beliau jawab dengan kalimat yang sama dengan redaksi yang berbeda, bahwa “Sakitnya pasien tidak dapat mendatangkan rezeki, yang memberi rezeki adalah Allah SWT. Allah SWT. juga bisa mendatangkan rezeki tanpa melalui sakitnya pasien”.

6 bulan berikutnya seorang pasien yang pernah sembuh karena diminta shalat oleh beliau, datang ke klinik, mengucapkan terima kasih, dan berniat mengajak dokter serta asistennya umroh bulan depan. Dr. Agus kemudian memanggil Rudi ke dalam ruangan. Sebenarnya beliau tahu bahwa Rudi ingin sekali berangkat. Namun kali ini beliau ingin bertanya langsung dengannya.

“Rudi??, bapak ini mengajak kita untuk umrah bulan depan, kamu bersedia?”. Rudi tidak menjawab, namun matanya berbinar, air matanya tampak mau jatuh. “Sebelum menjawab, saya ijin sholat dulu pak”. Ucapnya lirih. Ia shalat lama sekali, sepertinya ini shalat dia yang paling khusyu’. Pelan, terdengar dia terisak-isak menangis dalam doanya.

Demikian mudah-mudahan kisah yang di bagikan membawa banyak manfaat