Pesantren Darunnajah 2 Cipining kembali dihadiahkan dengan kabar gembira penuh berkah. Karena tahun ini ada 4 alumni yang berhasil lulus beasiswa ke Universitas Islam Madinah. Penasaran, siapa sajakah mereka?

  1. Fajar Dzikriansyah (Angkatan 23)
  2. Haikal Ramadhan (Angkatan 24)
  3. Arif Pramudia (Angkatan 24)
  4. Muhammad Muadz (Angkatan 25)

Semua itu bisa diraih bukan tanpa perjuangan, tetapi harus dengan kesabaran ekstra dan proses yang panjang. Paling tidak pendaftar harus menunggu satu tahun untuk menerima pengumuman apakah lulus atau tidak.

Beberapa cerita sakral yang mereka rasakan adalah kekuatan serta kesabaran dalam menanti pengumuman. Inilah beberapa kesibukan serta proses mereka dalam menunggu pengumuman.

Fajar Dzikriansyah, alumni Darunnajah 2 Cipining yang telah mendaftarkan diri sejak tahun 2016, tetapi baru dinyatakan lulus pada tahun 2019 ini, terhitung hampir 4 tahun.

Tes tersebut dilaksanakan di Darunnajah Ulujami Jakarta pada tahun 2016, diikuti oleh 300 peserta dari seluruh penjuru Indonesia. Beberapa teman alumni Darunnajah sudah mendapatkan hasil kelulusan bahkan lansung diberangkatkan ke Madinah.

Hasil tersebut tidaklah mematahkan semangat serta rasa penasaran yang dimiliki oleh Fajar dan beberapa teman lainnya. Akhirnya ia memberanikan diri untuk mendaftarkan ulang. Baru kemudian berkas tersebut dinyatkan masuk ke data pendaftaran, akan tetapi pengumuman kelulusan tidak juga muncul.

Selama masa menunggu, ia pun aktif menjadi Mahasiswa di STAI Darunnajah Jakarta jurusan Manajemen Pendidikan. Disamping itu ia menyibukkan diri dengan mencoba daftar ke berbagai negara dan universitas ternama, seperti Maroko, Mesir, Arab Saudi dan lain sebagainya, tetapi semua itu gagal bahkan tidak ada pengumuman kelulusan.

Ia juga mendaftarkan diri untuk menjadi Mahasiswa di LIPIA Jakarta sebanyak 3 kali, baru bisa dinyatakan lulus. Luar biasa, inilah percobaan yang sesungguhnya.

Keberhasilannya menjadi mahasiswa di LIPIA, menjadikan ia terbiasa dalam berkomunikasi dengan para Syekh yang menjadi dosennya. Ia juga terbiasa menerima serta mengerjakan tugas dalam bahasa arab resmi.

“Senang, sedih, pokoknya campur aduk deh. Tapi semua itu menjadi pengalaman tersendiri yang nggak ada ditempat lain. Dan pengalaman itu yang bikin ana kuat. Dan rumusnya simpel. Niat baik kita harus diiringi dengan keimanan, keikhlasan, tawakal, percaya sama Allah dan yang peting jalani apa yang ada sekarang dengan maksimal”. Ungkap Fajar ketika menceritakkan pengalamanya tersebut.

Haikal Ramadhan (paling kanan)

Pengalaman lain muncul dari sahabat kita Haikal Ramadhan, yang saat ini berada di Hadramaut, tempat dimana ia menempuh pendidikan Sarjana 1. Tepatnya di Universitas Al-Qur’an dan Ilmu Islam Mukalla yang merupakan Universitas dengan jurusan utama llmu Al-Qur’an, Tafsir dan Ilmu Qira’at.

Selain di kampus ia juga belajar di sebuah Markaz (asrama) dengan sistem mulazamah atau lebih dikenal dengan talaqqi yang merupakan khas dari sistem pembelajaran di Yaman.

Haikal juga dengan sabar menanti pengumuman kelulusan tersebut hingga hampir 3 tahun. Karena Madinah adalah impian utamanya, maka pada akhir tahun 2019 ia akan kembali pulang ke Indonesia untuk segera melengkapi persiapan yang harus dipenuhi untuk berangkat ke Madinah.

Arip Pramudia

Tak kalah sakral, datang dari sahabat kita Arif Pramudia, ia juga sudah resmi dan menjalankan rutinitas kuliah di Pakistan. Tetapi, karena lagi-lagi Madinah adalah impian utama yang tidak ada duanya, maka ia memutuskan untuk cepat kembali ke Indonesia dan fokus mempersiapkan diri untuk segera menuju Madinah.

Berbeda dengan sahabat kita yang terakhir, yaitu Muhammad Muadz. Tidak selama tiga alumni diatas untuk mendapatkan hasil kelulusan. Justru setelah Muadz lulus dari Pesantren Darunnajah 2 Cipining serta dinyatakan sah menjadi alumni dan mejalankan masa pengabiadannya di Pesantren, ia sesegera mungkin mendaftrakan diri di Universitas Islam Madinah melalui web resmi bahkan tanpa tes dan luar biasanya, langsung ada pengumuman kelulusan berbarengan  dengan tiga alumni tersebut.

Dan berikut dalah tips suksesnya.

“Mudah. Madinah itu sudah menjadi impian dari kecil,  dan ana sudah memupuk impian dari MTs. Termotivasi oleh para alumni yang berhasil berangkat ke Madinah. Modal bahasa adalah yang utama. Karena ada pengetesan atau muqobalah. Syarat yang menjadi target adalah Bahasa, dan Hafalan Al-Qur’an. Setiap hari harus murojaah, usahakan setiap hari harus sempatkan membaca dan mengulang hafalan. Jangan lupa, ini rumusnya Minta doa dan doakan orang lain itu juga modal utama. Orang tua Muadz di rumah juga minta doa ke orang-orang, tetangga kerabat dan semua guru”

Itulah cerita dan pengalaman sakral yang telah dilalui oleh para alumni yang telah lulus terdaftar di Universitas Islam Madinah. Semangat untuk teman-teman semua, semoga bisa mengikuti maupun menuliskan jejak kesuksesan masa depan yang lebih gemilang. (WARDAN/Mbafer)