Pondok Pesantren Darunnajah resmi membuka In House Training (IHT) ke-10 bagi Direksi Departemen Pusat dan Cabang, Selasa (14/7/2026) yang berlangsung di Darunnajah Learning Center, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Kegiatan in house training ini menjadi forum silaturrahim antar pengasuh Darunnajah, penguatan tata kelola dan penyelarasan program kerja lembaga.
Pembukaan IHT dihadiri oleh Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah, K.H. Dr. Sofwan Manaf, M.Si., bersama K.H. Hadiyanto Arief, S.H., M.Bs., serta para direksi departemen pusat dan cabang Pondok Pesantren Darunnajah.

Dalam sambutannya, K.H. Dr. Sofwan Manaf, M.Si., menekankan pentingnya peningkatan kualitas kepemimpinan dan manajemen di lingkungan pesantren. Kyai Sofwan menyampaikan, seorang direktur tidak cukup hanya memastikan program terlaksana, tetapi juga harus mampu memastikan setiap program memiliki tujuan yang jelas, terukur, dan memberikan dampak nyata bagi lembaga dan para santri.
“Kita tidak boleh lagi terjebak pada zona nyaman program yang sekadar terlaksana. Tantangan ke depan menuntut kita untuk bergeser menuju pola pikir berbasis tujuan, di mana setiap langkah harus terukur, terarah, dan memiliki dampak nyata bagi santri,” ujarnya.

IHT ke-10 dirancang untuk memperkuat perencanaan dan pelaksanaan program melalui kerangka kerja manajemen modern yang mencakup Objective, Blueprint, Ownership, Tracking, dan Delivery. Selama tiga hari, para peserta mengikuti sejumlah sesi dan Focus Group Discussion (FGD) untuk mengevaluasi program kerja, menyusun langkah strategis, serta meningkatkan koordinasi lintas bidang.
Sementara itu, K.H. Hadiyanto Arief, S.H., M.Bs., menyoroti tantangan pendidikan pesantren di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Kyai Hadiyanto menegaskan bahwa Darunnajah tidak perlu kehilangan identitasnya untuk tetap relevan dengan perkembangan zaman.
“Darunnajah tidak perlu menjadi yang lain untuk relevan di era AI. Darunnajah perlu menjadi Darunnajah yang lebih utuh,” tegasnya.
Kyai Hadiyanto memperkenalkan prinsip “Stabil di Inti, Dinamis di Tepi” sebagai pijakan dalam menghadapi perubahan. Prinsip tsābit atau hal-hal yang tetap dijaga mencakup tarbiyah sebagai proses pembentukan pribadi yang utuh, sakralitas ilmu, mujāhadah, dan keteladanan. Sementara itu, aspek mutaghayyir atau hal-hal yang dapat diperbarui meliputi alat, metode, dan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan.
Melalui IHT ke-10 ini, Pondok Pesantren Darunnajah berupaya menyelaraskan visi dan ritme kerja seluruh direksi, sekaligus memperkuat sistem organisasi yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar pesantren.
Kegiatan ini diharapkan menghasilkan rumusan program dan langkah strategis yang dapat memperkuat tata kelola Pondok Pesantren Darunnajah dalam menjalankan misi pendidikan serta mencetak generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan masa depan. (Ara Maulidia)
