Sabtu, 24 November 2018 dua guru Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor mengikuti Seminar Pendidikan Islam yang merupakan rangkaian dalam Islamic Education Expo di Cikarang Bekasi tepatnya di Masjid Mekar Indah Cikarang Baru.
Ustadz Muhlisin Ibnu Muhtarom, S.H.I (Kepala Biro Pengasuhan Santri) dan Ustadz Nasihun Sugik, S.E., M.M. tampak antusias menyimak pemaparan yang disampaikan oleh nara sumber utusan Kementrian Agama Republik Indonesia, bapak Drs. Agus Sholeh, M.Pd.

Pemaparan yang disampaikan berdasarkan pengalaman langsung pembicara dalam mengemban tugasnya sebagai Kepala Sub Bidang Kelembagaan dan Kerjasama Direktorat Perguruan Tinggi Islam (DIKTIS) dirasa sangat mencerahkan audiens.
Alumni Pondok Pesantren Pabelan Magelang Jawa Tengah tersebut memulai pemaparannya dengan mengapresiasi program Islamic Education Expo yang perdana dilaksanakan oleh Yayasan/ DKM Mekar Indah Islami.
Kemudian disampaikan perlunya regulasi terkait lembaga pendidikan islam yang mendukung kemajuannya. Dalam hal ini, nara sumber menyebutkan bahwa 20 % Madrasah Negeri dan 80% lebih merupakan lembaga swasta. Namun demikian patut disyukuri bahwa Madrasah sudah masuk dalam Sistem Pendidikan Nasional dengan berlakunya Undang-undang tahun 1989.
Sangat perlu digarisbawahi juga menurut pembicara bahwa faktanya masih minim Madrasah yang konsen terhadap jurusan IPA dan Bahasa, dan mayoritas lebih dominan dalam jurusan IPS.
Adapun pondok pesantren sedang digodok Undang-undang Pondok Pesantren oleh Pemerintah dan DPR, meskipun masih ada beberapa poin yang belum menemukan titik temu.
Terus diupayakan agar Undang-Undang Pondok Pesantren bisa digolkan sehingga pemerintah bisa ikut meregulasi lembaga pendidikan khas Indonesia ini tanpa mengurangi independasi kelembagaan dan kesakralan pesantren.
Tantangan lainnya adalah bahwa keinginan mondok mesantren masih didominasi oleh keinginan anaknya. Pandangan dan kesan bahwa peraturan di pesantren yang lebih banyak ‘tidak bolehnya’ seperti tidak boleh menggunakan HP, tidak boleh merokok, dan lainnya nampak menjadi sebuah aksioma.
Nara sumber juga mengajak seluruh lembaga pendidikan Islam agar tidak hanya menjadi milik sendiri. Maksudnya adalah agar mulai dipromosikan kepada para pelajar luar negeri untuk belajar di Indonesia. Kini tidak kurang dari enam ribu pelajar asing yang sedang study di Indonesia dan sebagian ada di pondok pesantren.
Terkait beasiswa dari Al Azhar Mesir dapat disampaikan bahwa yang terbaru Indonesia mendapatkan kuota 100 pelajar yang dibagi: 50 pelajar via Gontor, 20 pelajar via Kementria Agama dan 30 pelajar via Kedutaan Besar.
Ada kondisi yang cukup memprihatinkan bahwa mereka yanh sudah lulus seleksi di Indonesia ternyata belum bisa langsung belajar di tingkat perguruan tinggi ketika dites lagi di Mesir, mayoritas harus masuk kelas bahasa yang terdiri dari tujuh tingkat.
Di akhir pemaparan disampaikan pentingnya pendidikan islam juga menjadi solusi nyata atas kebutuhan masyarakat termasuk dunia industri.
Dalam sesi tanya jawab, ustadz Muhlisin berkesempatan bertanya 3 hal, termasuk menyampaikan terima kasih kepada nara sumber yang juga telah hadir ke Darunnajah Cipining pada program Haflah Takharruj atau Wisuda Santri tahun lalu. (wardan/mr. mim)