
Gerimis sempat turun menjelang malam puncak perkemahan. Namun, ketika api unggun hendak dinyalakan, langit justru berubah terang. Para siswa kelas 4 hingga 6 madrasah ibtidaiyah (MI) menuntaskan Perkemahan Jumat Sabtu (PERJUMSA) pada 18–19 September 2026 di Lapangan Rumput Zaid. Selama dua hari, mereka berkemah, berlomba, dan belajar hidup bersama di alam terbuka.
PERJUMSA digelar oleh MI yang berada di lingkungan Pesantren Darunnajah 2 Cipining sebagai bagian dari pembinaan kepramukaan tingkat Siaga. Seluruh siswa kelas 4, 5, dan 6 ambil bagian dalam kegiatan ini. Panitia menyebut perkemahan ini sebagai wujud syukur sekaligus sarana belajar menadaburi alam. Di lapangan, anak-anak mendapat bekal keterampilan hidup atau life skill yang jarang mereka temui di ruang kelas.
Menyiapkan perkemahan untuk anak usia sekolah dasar bukan pekerjaan ringan. Panitia harus memastikan seluruh kebutuhan siap, mulai dari penataan tempat hingga pelaksanaan api unggun gembira. Tantangan terberat justru datang dari cuaca. Gerimis sempat membasahi lapangan sebelum acara malam dimulai sehingga kelangsungan api unggun sempat dikhawatirkan. Alhamdulillah, langit kembali terang tepat ketika acara berlangsung.


Setelah melewati kekhawatiran itu, rangkaian kegiatan berjalan lancar. Para siaga tampak bersemangat mengikuti setiap agenda dan lomba yang disiapkan panitia. Menurut panitia, seluruh peserta aktif terlibat dari awal hingga akhir kegiatan. Lomba-lomba tersebut memang dirancang sebagai momen memupuk kebersamaan. Siapa pun pemenangnya, yang ingin ditumbuhkan adalah rasa saling memiliki di antara para peserta.
Harapan terbesar panitia sederhana, yakni agar tali persaudaraan antarsiswa kelas 4 hingga 6 semakin erat. Di sekolah, mereka mungkin hanya bertemu di kelas masing-masing. Di bumi perkemahan, mereka harus saling menunggu, saling membantu, dan saling mengalah. Kebiasaan kecil seperti itu sering menjadi awal persahabatan yang bertahan lama. Dari situ pula, anak-anak belajar bahwa tugas bersama lebih ringan bila dikerjakan bersama.
Belajar di alam juga memiliki makna yang dalam dalam ajaran Islam. Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 190–191 memuji orang-orang yang mengingat Allah dalam segala keadaan dan merenungkan penciptaan langit dan bumi. Langit yang mendung, gerimis yang turun, lalu cuaca yang kembali cerah menjadi pelajaran nyata tentang sabar dan tawakal. Nabi Muhammad SAW juga menggambarkan orang beriman seperti bangunan yang bagian-bagiannya saling menguatkan. Nilai itulah yang coba ditanamkan melalui kebersamaan di perkemahan.


Kepramukaan sendiri memberi ruang bagi anak untuk tumbuh lewat pengalaman langsung. Mereka belajar mandiri, disiplin, dan bertanggung jawab tanpa harus duduk di balik meja. Suasana api unggun gembira pun menjadi kenangan bersama yang mengikat perasaan mereka sebagai satu keluarga. Bagi anak-anak, momen seperti ini sering lebih mudah diingat daripada pelajaran di papan tulis. Pengalaman itulah yang diharapkan terus terbawa hingga mereka dewasa.
Selepas PERJUMSA, panitia berencana terus mendorong rasa dan jiwa kepramukaan dalam diri para siaga kelas 4 hingga 6. Harapannya, nilai-nilai yang mereka pelajari kelak dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Para orang tua dapat mengambil peran dengan mengajak anak bercerita tentang pengalaman berkemah mereka. Dukungan sederhana seperti memberi ruang untuk kegiatan di luar kelas juga akan menguatkan pembinaan ini. Mari bersama menumbuhkan generasi yang dekat dengan alam, kuat dalam persaudaraan, dan teguh dalam nilai.
