Malam Api Unggun dalam Acara PERKHUTSY rentetan pekan perkenalan Khutbatul 'Arsy Malam Api Unggun dalam Acara PERKHUTSY rentetan pekan perkenalan Khutbatul 'Arsy

Malam Api Unggun dalam Acara PERKHUTSY rentetan pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy

Malam Api Unggun dalam Acara PERKHUTSY rentetan pekan perkenalan Khutbatul 'Arsy

Hujan turun beberapa saat sebelum acara dimulai. Tumpukan kayu di tengah lapangan terancam basah dan gagal dibakar. Namun pada Kamis malam, 27 Agustus 2026, api unggun itu tetap menyala. Seluruh santri dari kelas 1 hingga kelas 6 berkumpul melingkarinya dalam rangkaian kegiatan PERKHUTSY. Malam itu menjadi puncak kebersamaan yang telah lama dinanti.

Malam Api Unggun PERKHUTSY berlangsung di Bumi Perkemahan Putra Pesantren Darunnajah 2 Cipining. Seluruh santri hadir tanpa terkecuali, dari jenjang paling awal sampai kelas akhir. Mereka duduk melingkar mengelilingi kobaran api yang membesar perlahan. Suasana hangat terbangun di tengah udara malam yang masih menyisakan sisa hujan.

Berikut catatan pelaksanaan kegiatan:

  • Nama kegiatan: Malam Api Unggun PERKHUTSY
  • Hari dan tanggal: Kamis, 27 Agustus 2026
  • Tempat: Bumi Perkemahan Putra
  • Peserta: seluruh santri, kelas 1 hingga kelas 6
  • Pembina upacara: Al Ustadz Kaustar Alghifari

Persiapan menjadi bagian paling menegangkan bagi panitia. Hujan yang mengguyur menjelang acara memunculkan kekhawatiran kayu bakar tidak dapat dinyalakan. Panitia bergerak cepat agar susunan acara tetap berjalan sesuai rencana. Hasilnya, seluruh rangkaian berlangsung lancar dan terkondisi hingga akhir.

Al Ustadz Kaustar Alghifari bertindak sebagai pembina upacara pada malam tersebut. Ia memimpin jalannya prosesi sekaligus menyampaikan pesan kepada seluruh peserta. Interaksi terbangun ketika santri diminta menjawab pertanyaan yang dilontarkan. Antusiasme terlihat dari suara mereka yang bersahutan menjawab di sekeliling api.

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai wujud penerapan nilai kepramukaan scout is a jolly game. Prinsip tersebut memandang kepanduan sebagai permainan yang menyenangkan, tempat karakter dibentuk melalui pengalaman bersama. Api unggun menjadi simbol yang jelas: cahaya besar lahir dari kayu-kayu berbeda ukuran yang disatukan. Dalam ajaran Islam, kebersamaan semacam ini sejalan dengan perintah menjaga persaudaraan sesama mukmin.

Panitia berharap kegiatan ini mempererat tali persaudaraan antarsantri. Rasa saling menghargai menjadi nilai yang ingin ditanamkan melalui pengalaman langsung. Perbedaan usia dan jenjang kelas melebur di sekeliling nyala api. Malam itu memperlihatkan bahwa kebersamaan dapat tumbuh dari hal-hal yang sederhana.

Respons peserta tercatat aktif sepanjang acara berlangsung. Santri mengikuti setiap sesi dengan sikap terlibat, bukan sebagai penonton. Kondisi ini menjadi indikator bahwa pesan kegiatan sampai kepada sasarannya. Pengalaman langsung terbukti lebih membekas dibanding penyampaian materi satu arah.

Setelah kegiatan berakhir, jiwa kebersamaan dan kekompakan diharapkan tertanam pada diri setiap peserta. Nilai tersebut dibawa kembali ke asrama, ruang kelas, dan aktivitas harian di Pesantren. Api unggun padam menjelang malam larut, tetapi semangatnya diharapkan terus menyala. Proses pembentukan karakter inilah yang menjadi tujuan utama kegiatan.

Malam Api Unggun PERKHUTSY menutup rangkaian acara dengan catatan lancar. Santri aktif, panitia sigap, dan hujan gagal memadamkan rencana yang telah disusun. Bagi wali santri dan masyarakat luas, momentum ini layak didukung dengan mendorong anak-anak terlibat dalam kegiatan kepramukaan. Rawat semangat kebersamaan itu, dimulai dari lingkungan terdekat masing-masing.