Kobaran api unggun menerangi malam di lapangan Pesantren Al-Harokah Darunnajah 12 Dumai. Seluruh santri duduk melingkar mengelilingi api yang menjadi pusat kegiatan perkemahan Khutbatul ‘Arsy ke-5. Dalam tradisi kepramukaan, api unggun melambangkan semangat persatuan dan pencerahan jiwa sebagaimana firman Allah: “نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ” – cahaya di atas cahaya yang membimbing hati. Malam itu, api tidak hanya membakar kayu, tetapi juga menyalakan semangat kreativitas dan kebersamaan.
Kegiatan api unggun dimulai pukul 20.00 WIB setelah santri menyelesaikan shalat isya berjamaah. Nyala api yang membubung tinggi menciptakan suasana hangat dan akrab di tengah kesejukan malam. Para santri duduk berkelompok sesuai regu masing-masing sambil menyiapkan penampilan pentas seni. Suara gemericik api berpadu dengan alunan dzikir dan shalawat yang dikumandangkan bersama. Atmosfer spiritual dan kekeluargaan terbangun natural dalam lingkaran cahaya api unggun.
Makna api unggun dalam tradisi kepramukaan memiliki filosofi mendalam tentang kehidupan manusia. Api melambangkan semangat yang tidak pernah padam, kehangatan persaudaraan, dan cahaya pengetahuan yang menerangi kegelapan. Dalam konteks pendidikan pesantren, api unggun menjadi simbol pencerahan rohani dan soliditas ukhuwah islamiyah. Setiap santri diajarkan bahwa seperti api membutuhkan kayu untuk menyala, persahabatan memerlukan saling pengertian dan dukungan. Tradisi ini menguatkan ikatan emosional antar santri lintas angkatan.
Puncak kegiatan adalah pentas seni (pensi) yang menampilkan kreativitas setiap regu santri. Sebanyak 6 regu berlomba menampilkan karya terbaik dalam tiga kategori: drama, tarian nusantara, dan folk song. Tarian nusantara menampilkan tarian melayu dengan kostum yang di racik dengan bahan seadanya sehingga memukau. Sementara folk song menghadirkan lagu cipataan santri darunnajah yang mana mereka nyanyikan dengan penuh semngat.
Kegiatan api unggun dan pentas seni mencerminkan konsep pendidikan holistik Pesantren Darunnajah yang memadukan aspek spiritual, intelektual, dan estetis. Para santri tidak hanya menghafal Al-Quran dan hadits, tetapi juga mengekspresikan kreativitas melalui seni budaya. “Seni adalah bahasa universal yang dapat menyampaikan pesan kebaikan kepada siapa pun,” ungkap kakak pembina, yaitu kak Irpan Nurul Huda. Integrasi nilai agama dan budaya lokal menjadi ciri khas pendidikan pesantren modern.
Filosofi api unggun mengajarkan bahwa kehidupan manusia seperti nyala api yang memerlukan bahan bakar berupa ilmu dan amal saleh. Dalam hadits disebutkan: “مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ” – perumpamaan orang beriman seperti satu tubuh yang saling melengkapi. Setiap santri belajar bahwa kekuatan individual akan bermakna ketika bergabung dengan kekuatan kolektif. Api unggun menjadi metafora persatuan yang menghangatkan dan menerangi lingkungan sekitar.
Malam pentas seni berakhir dengan pembacaan doa yang mana dengan doa dipanjantan semoga acara pramuka ini selalu di berkahkan




