Konsep Otomatis Konsep Otomatis

Drama Contest Darunnajah 17 Hidupkan Semangat Berbahasa bagi Santri

Drama Contest di Darunnajah 17 Hidupkan Semangat Berbahasa Santri

Suasana malam di Gedung Aula Thoif menjelma menjadi panggung kreativitas pada Selasa, 12 Mei 2026. Santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Ummul Mu’minin Darunnajah 17 menampilkan pertunjukan drama yang memadukan bahasa, keberanian, dan kreativitas. Drama Contest bertema “The Stage Of Endless Expressions: One Stage, A Thousand Feelings” itu menjadi ruang belajar yang hidup bagi seluruh peserta.

Di tengah padatnya aktivitas pesantren, acara tersebut memperlihatkan semangat santri dalam menjaga budaya bahasa. Bukan sekadar hiburan malam, kegiatan ini menjadi latihan mental, penguatan komunikasi, sekaligus pembentukan karakter. Dari panggung sederhana, lahir pesan tentang pentingnya keberanian menyampaikan gagasan dengan bahasa yang baik.

Acara dimulai pukul 20.00 WIB dan berlangsung hingga 22.30 WIB. Seluruh santri terlibat dalam enam kelompok besar. Empat kelompok berasal dari santri putra, sedangkan dua kelompok lainnya berasal dari santri putri. Masing-masing kelompok dipimpin kakak kelas 5 TMI serta dibimbing ustadz pilihan.

Ketua pelaksana, Al-Akh Fajar Billah, menjelaskan bahwa drama bukan hanya perlombaan seni. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi sarana menghidupkan bi’ah lughawiyyah atau lingkungan berbahasa di pesantren. Melalui dialog dan penampilan panggung, santri belajar menggunakan bahasa dengan percaya diri dalam situasi nyata.

Al-Ustadz Tanri Wicaksono, M.Pd dalam sambutan pembukaan menyampaikan bahwa bahasa merupakan jembatan peradaban. Ia menilai kemampuan berbicara tidak lahir secara instan, melainkan melalui latihan berulang dan keberanian tampil di depan banyak orang. Karena itu panggung drama dianggap sebagai laboratorium pembelajaran yang efektif.

Konsep Otomatis

Banyak santri sebenarnya memahami kosakata dalam kelas. Namun, sebagian masih kesulitan berbicara secara spontan di lingkungan sehari-hari. Kondisi itu sering muncul karena rasa takut salah atau kurang percaya diri ketika menggunakan bahasa asing di depan teman-temannya.

Drama Contest mencoba menjawab persoalan tersebut melalui pendekatan kreatif. Ketika santri memainkan karakter tertentu, mereka dipaksa berpikir cepat, menghafal dialog, serta mengekspresikan emosi secara tepat. Tanpa disadari, kemampuan komunikasi mereka tumbuh lebih alami dibandingkan sekadar hafalan teori.

Allah SWT berfirman:

﴿ وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا ﴾

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan menimbulkan perselisihan di antara mereka.” (QS. Al-Isra: 53)

Ayat tersebut menegaskan bahwa kualitas ucapan memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sosial. Bahasa yang baik mampu menghadirkan kedekatan, sedangkan ucapan buruk sering melahirkan konflik. Karena itu, pendidikan bahasa di pesantren bukan sekadar kemampuan akademik, melainkan juga pembinaan akhlak.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari No. 6018 dan Muslim No. 47). Hadits tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan berbicara harus berjalan bersama tanggung jawab moral.

Salah satu tantangan terbesar remaja ialah rasa gugup ketika tampil di depan umum. Banyak pelajar memiliki ide cemerlang, tetapi kesulitan menyampaikannya karena takut dinilai orang lain. Drama Contest menghadirkan ruang aman untuk melatih keberanian tersebut.

Konsep Otomatis
Konsep Otomatis

Setiap kelompok menampilkan genre dan cerita berbeda. Ada drama bertema pendidikan, persahabatan, hingga kehidupan pesantren sehari-hari. Penampilan itu tidak hanya menghibur penonton, tetapi juga melatih santri mengelola ekspresi, intonasi, dan kerja sama tim.

Kelompok Fathimah menjadi salah satu penampilan yang menarik perhatian. Mereka mengangkat tema “Cara Pondok Pesantren Meningkatkan Kemampuan Berbahasa Santri”. Tema tersebut dianggap sangat dekat dengan tujuan utama acara sehingga pesan yang dibawa terasa kuat dan mudah dipahami penonton.

Konsep Otomatis

Allah SWT berfirman:

﴿ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ ﴾

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat tersebut mengajarkan bahwa perubahan dimulai dari keberanian memperbaiki diri. Dalam konteks pembelajaran bahasa, santri perlu membiasakan diri berbicara, mencoba, lalu memperbaiki kesalahan tanpa rasa malu berlebihan.

Drama tidak mungkin berjalan sendirian. Di balik satu penampilan, terdapat latihan panjang, pembagian tugas, dan proses saling memahami antaranggota. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak konflik muncul karena kurangnya komunikasi dan kemampuan mendengar satu sama lain.

Konsep Otomatis
Konsep Otomatis

Setiap kelompok di Drama Contest harus menyatukan ide dari berbagai karakter berbeda. Ada yang bertugas menulis naskah, mengatur properti, menghafal dialog, hingga mengelola transisi panggung. Semua peran memiliki kontribusi penting terhadap keberhasilan pertunjukan.

Kondisi itu mengajarkan bahwa keberhasilan lahir dari kolaborasi, bukan dominasi satu orang. Nilai tersebut penting diterapkan dalam keluarga, lingkungan pertemanan, maupun dunia kerja. Kemampuan bekerja sama sering menjadi penentu keberhasilan seseorang dalam kehidupan sosial.

Di era digital, banyak remaja lebih sering menjadi penonton dibanding pencipta karya. Mereka menghabiskan waktu menikmati hiburan tanpa menghasilkan sesuatu yang bernilai. Drama Contest menghadirkan alternatif positif melalui kreativitas panggung yang mendidik

Santri tidak hanya tampil membaca dialog. Mereka juga menyusun konsep cerita, menentukan tema, memilih ekspresi, serta merancang alur pertunjukan. Proses tersebut melatih daya pikir kritis sekaligus kemampuan menyampaikan pesan secara menarik.

Pertunjukan drama sering dianggap sekadar hiburan. Padahal, di balik setiap adegan terdapat latihan disiplin, tanggung jawab, dan empati. Santri belajar memahami sudut pandang orang lain ketika memainkan karakter tertentu di atas panggung.

Proses latihan juga mengajarkan pentingnya menghargai waktu. Dengan jadwal pesantren yang padat, peserta tetap mampu membagi energi antara belajar, ibadah, dan persiapan penampilan. Situasi tersebut memperlihatkan kemampuan manajemen diri yang baik.

Ketua pelaksana, Al-Akh Fajar Billah, mengaku bangga terhadap semangat seluruh peserta. Ia menilai santri tetap mampu menghadirkan pertunjukan seru dan dramatis meskipun aktivitas harian mereka sangat padat. Harapan besarnya ialah agar budaya bahasa semakin hidup di lingkungan pesantren.

Konsep Otomatis
Konsep Otomatis

Drama Contest memperlihatkan bahwa pendidikan tidak selalu hadir dalam bentuk ceramah dan ruang kelas. Kadang, pembelajaran paling berkesan justru lahir dari panggung sederhana yang dipenuhi keberanian, tawa, dan kerja sama.

Kegiatan seperti ini menjadi bukti bahwa pesantren mampu menghadirkan pendidikan yang seimbang antara ilmu, akhlak, dan keterampilan hidup. Bahasa tidak lagi dipandang sebagai mata pelajaran semata, melainkan alat membangun hubungan dan peradaban.

Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat berkembang lebih baik dengan dukungan fasilitas yang lebih memadai. Semangat santri yang telah tumbuh perlu terus dijaga agar budaya belajar bahasa semakin kuat dan membentuk generasi yang percaya diri.

Drama Contest di Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Ummul Mu’minin Darunnajah 17 memperlihatkan bahwa panggung kecil dapat melahirkan pelajaran besar tentang keberanian, kerja sama, kreativitas, dan akhlak dalam berbahasa. Dari kegiatan tersebut, kita belajar bahwa kemampuan berbicara bukan hnya soal kata-kata saja akantetapi juga tentang membangun karakter dan menghargai sesama. Karena itu, mari mendukung kegiatan pendidikan yang mampu menghidupkan potensi generasi muda melalui cara-cara kreatif, bermakna, dan mendidik.

Konsep Otomatis
Drama Contest Darunnajah 17 Hidupkan Semangat Berbahasa bagi Santri