Delapan Hari Festival Nisaiyyah Ubah Lapangan Jadi Ruang Tawa Para Guru Putri Delapan Hari Festival Nisaiyyah Ubah Lapangan Jadi Ruang Tawa Para Guru Putri

Delapan Hari Festival Nisaiyyah Ubah Lapangan Jadi Ruang Tawa Para Guru Putri

Seluruh guru putri dan karyawan Pesantren Darunnajah 2 Cipining mengikuti Festival Nisaiyyah pada 16 hingga 23 Oktober 2026 di Kampus 1 Putri. Selama delapan hari, lapangan dan halaman kampus dipenuhi sorak-sorai, tawa, dan semangat sportif. Kegiatan ini berjalan lancar dan disambut antusias oleh para guru serta karyawan.

Di balik kesibukan mengajar, membimbing, dan mengurus kebutuhan santri, para guru putri jarang memiliki ruang untuk bersenang-senang. Hari-hari mereka biasanya diisi jadwal yang padat dari pagi hingga malam. Festival ini hadir untuk mengisi ruang tersebut. Kegiatan ini dirancang sebagai ajang rekreasi sekaligus pelepas penat dari rutinitas harian.

Delapan Hari Festival Nisaiyyah Ubah Lapangan Jadi Ruang Tawa Para Guru Putri

Tujuan utama festival ini adalah mempererat tali silaturahmi, memperkuat kebersamaan, dan menumbuhkan semangat kekeluargaan di antara guru dan karyawan. Penyelenggara menyusun beragam kegiatan yang menyenangkan dan mengedepankan sportivitas. Setiap peserta diberi kesempatan yang sama untuk terlibat. Prinsip inklusif inilah yang membuat festival terasa milik bersama.

Rangkaian acara mencakup delapan cabang lomba yang terbagi dalam kelompok olahraga, kesenian, dan keterampilan. Berikut daftar lomba yang digelar:

  • Senam
  • Badminton
  • Panca lomba
  • Lomba memasak
  • Lomba fresh and healthy drink
  • Lomba menghias hampers
  • Lomba basket
  • Lomba konten kreator

Ragam lomba tersebut memberi panggung bagi semua jenis bakat. Peserta yang tangkas di lapangan, teliti di dapur, atau kreatif di depan kamera sama-sama mendapat tempat. Senam, badminton, dan basket melatih kebugaran serta kekompakan tim. Lomba memasak, minuman sehat, dan menghias hampers menuntut kreativitas serta ketelatenan. Lomba konten kreator mengajak peserta bercerita lewat gambar dan video.

Delapan Hari Festival Nisaiyyah Ubah Lapangan Jadi Ruang Tawa Para Guru Putri

Festival ini juga menjadi wadah menyalurkan bakat di luar bidang akademik. Selama ini, kemampuan para guru lebih sering terlihat di depan papan tulis. Melalui festival, sisi lain mereka muncul: lincah di lapangan, cekatan meracik hidangan, dan kompak bersama rekan satu tim. Pengalaman seperti ini menambah rasa percaya diri sekaligus mempererat hubungan antarpeserta.

Suasana yang cair membuat sekat jabatan dan unit kerja terasa semakin tipis. Guru dan karyawan yang biasanya bertemu dalam urusan pekerjaan kini saling menyemangati di pinggir lapangan. Percakapan ringan, candaan, dan kerja sama dalam satu tim menghadirkan wajah lain dari rekan kerja yang selama ini hanya dikenal di ruang rapat. Dari situlah rasa saling memahami tumbuh dengan wajar.

Delapan Hari Festival Nisaiyyah Ubah Lapangan Jadi Ruang Tawa Para Guru Putri

Ada makna yang lebih dalam di balik kegembiraan tersebut. Dalam ajaran Islam, menjaga ukhuwah dan merawat kebugaran badan adalah bagian dari ikhtiar menjalankan amanah dengan baik. Tubuh yang sehat dan hati yang lapang adalah bekal bagi seorang pendidik. Guru yang bugar, bahagia, dan akrab dengan sesama rekan akan lebih siap mendampingi santri.

Teladan kebersamaan itu pada akhirnya dilihat dan ditiru oleh para santri. Mereka belajar bahwa kerja sama, sportivitas, dan saling menghargai bukan hanya bahan pelajaran di kelas, tetapi juga kebiasaan yang dijalani para pendidiknya. Pendidikan karakter memang sering lebih kuat tertanam lewat contoh nyata ketimbang nasihat panjang.

Delapan Hari Festival Nisaiyyah Ubah Lapangan Jadi Ruang Tawa Para Guru Putri

Penyelenggara berharap festival ini melahirkan sinergi yang positif, menjaga kebugaran jasmani, dan menciptakan suasana kerja yang semakin harmonis dan produktif. Harapan tersebut tidak muluk, sebab modalnya sederhana: waktu untuk bertemu, bermain, dan tertawa bersama. Jika dirawat, semangat ini dapat menjadi budaya yang menguatkan lingkungan Pesantren dari dalam.

Kebersamaan seperti ini tidak akan bertahan tanpa dukungan banyak pihak. Karena itu, mari jadikan Festival Nisaiyyah sebagai tradisi yang terus dihidupkan setiap tahun. Pimpinan, guru, karyawan, dan seluruh keluarga besar Pesantren diajak untuk mendukungnya, baik melalui partisipasi maupun gagasan baru untuk penyelenggaraan berikutnya.