Para Guru Turun ke Lapangan, Liga Guru Resmi Bergulir Para Guru Turun ke Lapangan, Liga Guru Resmi Bergulir

Para Guru Turun ke Lapangan, Liga Guru Resmi dibuka

Para Guru Turun ke Lapangan, Liga Guru Resmi Bergulir

Ustadz Nasikun Sugig, S.E., M.M. secara resmi membuka Liga Guru di lapangan futsal Kampus 3. Kegiatan ini mempertandingkan delapan cabang olahraga dan mempertemukan para guru dalam suasana yang jauh dari ruang kelas. Dentuman bola dan sorak penonton menjadi penanda bahwa kompetisi telah dimulai.

Liga Guru berlangsung di lingkungan Pesantren Darunnajah 2 Cipining dan menjadi wadah bagi para pendidik untuk beradu kemampuan di bidang olahraga. Pembukaan oleh Ustaz Nasikun menandai dimulainya rangkaian pertandingan yang akan berjalan di lapangan futsal Kampus 3. Lapangan itu kini berubah menjadi pusat kegiatan para guru.

Delapan cabang lomba disiapkan agar setiap guru memiliki ruang untuk ikut serta sesuai minat dan kemampuannya. Cabang yang dipertandingkan adalah:

  • Tenis meja single
  • Tenis meja double
  • Bulu tangkis single
  • Bulu tangkis double
  • Bola basket
  • Bola voli
  • Futsal
  • Sepak bola

Pembagian cabang ini memperlihatkan keragaman bentuk pertandingan. Nomor perorangan seperti single menguji ketangguhan pribadi, sementara nomor beregu seperti basket, voli, futsal, dan sepak bola menuntut kekompakan. Nomor double berada di antara keduanya, sebab dua orang harus saling memahami gerak dan keputusan satu sama lain. Dengan begitu, setiap guru bisa menemukan arena yang sesuai dengan karakternya.

Bagi sebagian guru, pertandingan ini menghadirkan peran yang berbeda dari keseharian. Biasanya mereka berdiri di depan kelas untuk mengajar dan membimbing santri. Kini mereka berdiri di lapangan sebagai pemain yang harus menerima menang dan kalah dengan lapang dada. Peran ini membuka sisi lain dari para pendidik yang selama ini hanya dikenal di balik meja dan papan tulis.

Di balik skor dan klasemen, terdapat nilai yang sejalan dengan ajaran Islam. Kebugaran jasmani mendapat tempat yang baik dalam tuntunan agama, karena tubuh yang sehat menopang ibadah dan pengabdian. Sportivitas, kejujuran, dan sikap saling menghormati juga diuji dalam setiap pertandingan. Nilai-nilai itu pula yang setiap hari diajarkan guru kepada santri di dalam kelas.

Keteladanan menjadi pelajaran yang paling mudah ditangkap santri. Ketika guru bertanding dengan sportif, bersalaman setelah laga, dan menerima keputusan wasit dengan tenang, santri dapat menyaksikannya secara langsung. Pelajaran tentang akhlak pun tidak lagi berhenti pada penjelasan, tetapi tampak dalam perbuatan. Dari lapangan inilah, pendidikan karakter mendapat contoh yang nyata.

Kebersamaan antarguru juga tumbuh lewat kegiatan seperti ini. Pertandingan mempertemukan pendidik dari berbagai bidang tugas yang mungkin jarang bertemu dalam kesibukan harian. Dalam satu tim, mereka belajar berbagi peran, saling menyemangati, dan menyusun strategi bersama. Ukhuwah yang terbangun di lapangan dapat terbawa ke ruang kerja dan ruang kelas.

Liga Guru diharapkan menjadi tradisi yang berkelanjutan, sehingga semangat sehat dan kebersamaan terus terjaga di tengah kesibukan mengajar. Dukungan dari seluruh keluarga besar Pesantren sangat berarti bagi kelancaran setiap pertandingan. Santri, rekan guru, dan pengunjung dipersilakan datang ke lapangan futsal Kampus 3 untuk menyaksikan dan memberi semangat. Kehadiran penonton dengan sikap tertib dan sportif akan membuat setiap laga lebih hidup dan bermakna.