Setiap nama besar selalu menyimpan kisah. Begitu pula dengan Darunnajah. Nama yang kini dikenal luas sebagai lembaga pendidikan Islam ini ternyata lahir dari sebuah malam panjang yang penuh kesungguhan dan doa di awal tahun 1960-an—sebuah malam yang barangkali tidak disangka akan menjadi titik mula perjalanan panjang sebuah “lembaga yang sukses”.
Kisahnya bermula setelah Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Islam (YKMI) resmi berdiri. Yayasan tersebut dilegalkan di hadapan Notaris Eliza Pondaag pada hari Jumat, 30 Desember 1960, dengan Akte Pendirian bernomor 121. Dengan H. Muhammad Kosim sebagai ketua, Kamaruzzaman sebagai sekretaris, dan Abdul Manaf sebagai bendahara, yayasan ini mengemban cita-cita besar: memajukan pendidikan dan pengetahuan agama Islam, menyempurnakan pendidikan jasmani dan rohani menurut Islam, serta membuka kesempatan bagi para pelajar Islam yang cerdas namun kurang mampu.
Pada masa itu, silaturahim antartokoh terjalin sangat erat. Kelompok Kebon Kelapa yang dimotori Abdul Manaf dan Kamaruzzaman kerap bertemu dengan kelompok Petukangan, seperti H. Abdillah Amin, H. M. Kosim, dan H. Sidiq. Acara saling berkunjung, rapat, dan diskusi sering berlangsung hingga larut malam. Semangat yang mereka tunjukkan seakan mewakili harapan dan optimisme besar akan lahirnya sebuah lembaga pendidikan yang kelak menjadi mercusuar bagi umat.
Setelah lahan di kawasan Ulujami berhasil dibeli dan visi telah ditetapkan, tibalah satu tugas yang tampak sederhana namun penuh makna: memberi nama bagi lembaga pendidikan yang hendak dibangun.
Sebuah Ilham di Penghujung Malam
Pertemuan untuk mencari nama itu berlangsung di kediaman Abdul Manaf di Palmerah. Para tokoh berkumpul sejak pukul sembilan malam, dan diskusi mengalir hingga melewati tengah malam. Satu per satu nama diusulkan. Namun, anehnya, tidak ada satu pun yang berkenan di hati para peserta. Malam terus merangkak hingga jam menunjukkan sekitar pukul dua dini hari.
Di tengah keheningan itulah Muhammad Aminullah merasa mendapatkan ilham. “Bagaimana kalau kita beri nama Darunnajah, jadi nun, jim, dan belakangnya bukan ta marbuthah, tapi pakai ha,” usulnya. Pilihan huruf itu bukan tanpa arti, sebab dari sanalah lahir makna “keberhasilan” dan “kesuksesan”. Kamaruzzaman pun langsung menyambut gagasan tersebut dan memberikan terjemahannya: “lembaga yang sukses”.
Seketika, seluruh peserta rapat menerima nama itu dengan sepenuh hati. Sejak saat itu, Darunnajah resmi digunakan oleh YKMI sebagai nama lembaga pendidikan yang akan mereka kembangkan. Sebuah nama yang ternyata sekaligus menjadi doa dan harapan akan perjalanan panjang yang gemilang di kemudian hari.
Lambang yang Sarat Makna
Nama Darunnajah yang telah disepakati sejak tahun 1961 itu kemudian dilengkapi dengan sebuah lambang dan mars. Adalah Mahrus Amin yang merancang Logo dan Mars Darunnajah sebagai simbol perjuangan dalam memajukan pendidikan umat Islam. Mars tersebut kelak disempurnakan oleh Ustaz Burhanuddin dari Losari, Brebes, sementara transkrip mars dan pemaknaan logonya disempurnakan oleh Ustaz Abdul Haris Qodir.
Logo Darunnajah berbentuk lingkaran yang dibingkai bulan sabit di sisi luarnya. Di dalamnya terdapat gambar Ka’bah, mihrab masjid dengan tiga lengkung, Al-Qur’an yang terbuka, sepasang tunas, serta pita bertuliskan “Darunnajah” dalam aksara Arab. Setiap komponen dan warna pada lambang ini bukanlah sekadar hiasan, melainkan mengandung pesan dan cita-cita yang mendalam.
Ka’bah yang berada di tengah melambangkan persatuan umat. Mihrab melambangkan pembinaan kader imam atau pemimpin umat, sementara tiga lengkungnya menyimbolkan kesatuan Islam, Iman, dan Ihsan. Al-Qur’an yang terbuka menjadi lambang dasar utama Islam sekaligus simbol keilmuan.

Sepasang tunas yang menyertainya melambangkan pengkaderan pemimpin, baik putra maupun putri. Pada masing-masing tunas terdapat lima gerigi yang merepresentasikan prinsip-prinsip pendidikan Darunnajah, yakni Panca Jiwa, Panca Bina, Panca Dharma, dan Panca Jangka. Adapun bulan sabit yang membingkai keseluruhan lambang menjadi simbol perjuangan umat Islam yang tak pernah surut.
Warna-warna pada logo pun memiliki arti tersendiri. Dasar hijau daun melambangkan kedamaian dan keberkahan. Warna putih pada mihrab, Ka’bah, permukaan Al-Qur’an, dan pita menyimbolkan kesucian serta keikhlasan yang melandasi setiap amal dan usaha. Warna hitam pada Ka’bah dan tulisan melambangkan keabadian, sedangkan warna kuning pada tunas, sisi Al-Qur’an, dan bulan sabit menggambarkan semangat yang senantiasa menyala.
Warisan yang Terus Hidup
Dari sebuah nama yang lahir di penghujung malam dan sebuah lambang yang dirancang dengan penuh makna, Darunnajah tumbuh menjadi lembaga pendidikan yang terus berkembang. Mahrus Amin, yang dipercaya menangani urusan pendidikan, menunjukkan dedikasi luar biasa bersama rekan-rekannya seperti Hafizh Dasuki, Ridho Masduki, dan A. Rahim Hidayat. Madrasah yang dibinanya berkembang pesat—tidak hanya mengelola Taman Kanak-kanak, tetapi juga membuka Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah setingkat SD dan SLTP.
Hari ini, ketika nama Darunnajah disebut dan lambangnya terpampang, ada sebuah sejarah panjang yang berdiri di belakangnya: sejarah tentang keikhlasan, kesungguhan, dan keyakinan para perintis bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk memuliakan umat. Setiap kali mata memandang Ka’bah, mihrab, dan Al-Qur’an pada lambang itu, sesungguhnya kita sedang membaca kembali pesan para pendahulu—agar persatuan, keimanan, dan keilmuan senantiasa menjadi ruh dari setiap langkah. Nama itu adalah sebuah doa, dan lambang itu adalah peta cita-cita yang hingga kini terus dijaga dan diwujudkan oleh setiap generasi penerusnya.