
Pesilat santri pulang membawa 24 medali dari gelanggang internasional. Perolehan itu terdiri atas 6 medali emas, 6 medali perak, dan 12 medali perunggu dalam International Indonesian Championship 4 yang diselenggarakan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Kejuaraan berlangsung pada Senin hingga Senin, 14–21 September 2026, di Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Di balik kilau medali, tersimpan kisah tentang disiplin, kesabaran, dan keteguhan hati.
Pesantren Darunnajah 2 Cipining mengirimkan 37 peserta ke ajang tersebut. Dari jumlah itu, para santri berhasil meraih medali di kategori tanding maupun seni. Kategori seni menjadi penyumbang emas terbanyak, sementara kategori tanding menambah dua emas lewat pertarungan yang menuntut ketangkasan dan keberanian. Berikut rincian perolehan medali kontingen Pesantren:
- 6 Medali Emas, terdiri atas 2 emas dari kategori tanding dan 4 emas dari kategori seni
- 6 Medali Perak, kategori Tanding
- 12 Medali Perunggu, Kategori Tanding
- Total: 24 medali
Capaian ini sejalan dengan misi yang dibawa sejak awal keberangkatan. Pesantren ingin membuktikan bahwa lembaga pendidikan pesantren mampu melahirkan atlet yang berbakat. Langkah ini juga menjadi bagian dari syiar pesantren kepada masyarakat luas. Di sisi lain, penyelenggara menggelar kejuaraan ini untuk mempromosikan Jakarta sebagai pusat pengembangan pencak silat dunia.
Karena berlangsung di luar lingkungan pondok, suasana pertandingan terasa berbeda dari latihan sehari-hari. Penonton datang dari kalangan warga sekitar serta para pembimbing silat yang mendampingi atlet masing-masing. Para santri harus beradaptasi dengan arena baru, lawan baru, dan tekanan yang lebih besar. Meski demikian, seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dari hari pertama hingga hari terakhir.
Sejak awal, kejuaraan ini diharapkan menjadi pengalaman berharga bagi setiap santri. Di arena ini, mereka menyaksikan langsung bahwa di luar sana masih banyak atlet lain yang berbakat. Kesadaran tersebut menjadi bekal penting untuk terus berlatih dan memperbaiki diri. Dengan 24 medali di tangan, kejuaraan ini menjadi batu loncatan menuju prestasi yang lebih tinggi pada masa mendatang.
Di balik pertandingan, tersimpan pelajaran yang selaras dengan ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda bahwa mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah (HR Muslim). Kekuatan itu mencakup fisik yang terlatih, mental yang tangguh, dan akhlak yang terjaga. Meraih medali sambil tetap mengakui kehebatan lawan merupakan wujud tawadhu, sikap rendah hati yang menjadi ciri khas santri.
Pencak silat sendiri telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2019. Dominasi medali emas di kategori seni menunjukkan bahwa para santri ikut merawat keindahan gerak warisan leluhur tersebut. Setiap jurus yang diperagakan dengan rapi lahir dari latihan panjang dan pengulangan yang tekun. Dari proses inilah karakter seorang pesilat sejati terbentuk, sabar dalam berproses dan teguh dalam menghadapi tantangan.
Respons para peserta terhadap kejuaraan ini sangat baik. Hubungan antara kontingen santri dan pihak panitia juga terjalin dengan hangat selama kegiatan berlangsung. Pengalaman berinteraksi dengan penyelenggara tingkat nasional menjadi pelajaran tersendiri bagi para santri. Mereka belajar bahwa sikap santun di luar gelanggang sama pentingnya dengan ketangkasan di dalamnya.
Perolehan 24 medali dalam International Indonesian Championship 4 menjadi catatan penting dalam perjalanan pembinaan pencak silat di Pesantren. Pengalaman ini membuka mata para santri tentang ketatnya persaingan sekaligus luasnya ruang untuk berkembang. Orang tua, alumni, dan masyarakat dapat mengambil peran dengan mendukung serta mendoakan para atlet muda ini. Bagi santri yang memiliki minat pada bela diri, inilah saatnya bergabung dan berlatih sungguh-sungguh, karena gelanggang berikutnya sedang menunggu.
