Serang, Banten — Momen penuh semangat terasa kental di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14, Serang, Banten, yang menjadi tuan rumah Darunnajah Silat Championship tahun ini.
Kejuaraan silat yang berlangsung meriah ini akan diikuti oleh 18 kontingen dari berbagai cabang pesantren di bawah naungan Yayasan Darunnajah, dengan jumlah peserta mencapai 800 orang dari seluruh penjuru Indonesia.
Salah satu kontingen yang paling mencuri perhatian datang dari Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, yang mengirimkan 51 peserta untuk ambil bagian dalam ajang tahunan ini.
Rombongan terdiri dari 25 santri putra, 22 santri putri, serta 4 pendamping yang terdiri dari 2 ustadz dan 2 ustadzah. Mereka berangkat dengan tekad kuat untuk memberikan yang terbaik, baik dari segi penampilan teknis maupun semangat juang di arena.
Darunnajah Silat Championship bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga merupakan momen penting untuk mempererat ukhuwah islamiyah antar-santri dari berbagai daerah. Ajang ini mempertemukan para pendekar muda dalam satu wadah yang tidak hanya mengasah fisik dan teknik beladiri, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur pencak silat seperti kedisiplinan, kejujuran, keberanian, dan rasa hormat kepada sesama.
“Kami sangat antusias mengikuti kejuaraan ini. Bukan hanya karena ingin menang, tetapi juga ingin belajar dari santri lain dan memperluas jaringan silaturahmi,” ujar salah satu peserta dari Darunnajah Jakarta.
Para peserta dari Darunnajah Jakarta telah menjalani serangkaian pelatihan intensif selama beberapa pekan menjelang keberangkatan. Dibina langsung oleh pelatih-pelatih berpengalaman di bidang pencak silat, mereka dipersiapkan untuk tampil maksimal di setiap kategori yang diikuti, baik tanding maupun seni.
Ustadz M. Rizky, salah satu pendamping dari Darunnajah Jakarta, mengungkapkan bahwa keikutsertaan dalam kompetisi ini adalah bagian dari pembentukan karakter santri. “Lewat pencak silat, kami ingin membentuk santri yang kuat jasmani, tangguh mental, dan berakhlak mulia. Mereka bukan hanya belajar bertarung, tetapi juga belajar mengendalikan diri dan menghormati lawan,” jelasnya.
Kejuaraan ini juga menjadi ajang pembelajaran bagi para santri dalam menghadapi tekanan, mengatur strategi, dan menjaga sportivitas meskipun dalam suasana kompetitif. Hal ini sejalan dengan visi pesantren dalam mendidik generasi muda yang seimbang antara ilmu agama, fisik, dan mental.
Selain bertanding, para peserta juga mengikuti kegiatan pembinaan rohani, tausiyah, dan malam keakraban yang menjadi bagian dari rangkaian acara. Hal ini menambah kekayaan pengalaman para santri, menjadikan kejuaraan ini bukan hanya tentang menang dan kalah, tetapi juga proses pembelajaran dan pengembangan diri.
Dengan semangat yang tinggi, seluruh peserta dari Darunnajah Jakarta berharap dapat memberikan penampilan terbaik, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur olahraga, serta membawa pulang prestasi membanggakan untuk almamater mereka.
“Apapun hasilnya nanti, yang terpenting adalah kami sudah berusaha maksimal. Semoga bisa membawa hasil terbaik dan menjadi motivasi bagi teman-teman lain di pesantren,” ujar seorang santri putri yang ikut serta dalam kontingen.
Darunnajah Silat Championship 2025 kembali menegaskan pentingnya olahraga dalam dunia pesantren sebagai sarana pembinaan karakter dan penguatan ukhuwah islamiyah. Dengan semangat yang terus berkobar, para santri membuktikan bahwa pencak silat bukan sekadar seni beladiri—melainkan bagian dari pendidikan jiwa dan raga yang utuh.




