Cipining, Bogor — Yayasan Darunnajah melalui Departemen Sumber Daya Manusia (SDM) Pesantren Darunnajah 2 Cipining menyelenggarakan Apresiasi Khidmah Catalyst Generation 2026 pada Kamis, 25 Juni 2026, bertempat di Aula Kampus 1. Kegiatan ini menjadi momentum penghormatan sekaligus pelepasan para alumni yang telah menyelesaikan masa khidmah (pengabdian) di berbagai pesantren, baik di lingkungan Darunnajah, pesantren mitra, maupun daerah-daerah pengabdian di seluruh Indonesia.

Acara diawali dengan pengondisian aula, penayangan video perjalanan Khidmah Catalyst Generation, pembukaan, tilawah Al-Qur’an, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne “Oh Pondokku”. Selanjutnya rangkaian sambutan dari jajaran pimpinan pesantren, penyampaian kesan-pesan para alumni, simbolis penyerahan Buku Khidmah, doa, sesi foto bersama, hingga ditutup dengan nasihat khusus bagi seluruh alumni khidmah.Momentum ini bukan sekadar seremoni penutupan masa pengabdian, tetapi menjadi peneguhan kembali bahwa khidmah merupakan ruh pendidikan pesantren yang akan terus melekat sepanjang kehidupan alumni.
Khidmah: Tempat Mengamalkan Nilai-Nilai Pesantren. Direktur Departemen SDM, Ust. Yogi Saputra, M.Pd., menegaskan bahwa kehidupan di pesantren merupakan proses pembentukan nilai, sedangkan masa khidmah adalah ruang untuk membuktikan sekaligus mempraktikkannya. “Di pesantren kita belajar nilai-nilai kepesantrenan, sedangkan di pengabdian nilai-nilai itu benar-benar dipraktikkan. “Beliau juga mengingatkan bahwa setiap amal kebaikan, sekecil apa pun, tidak pernah sia-sia di sisi Allah SWT. “Sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan, Allah akan mencatatnya sebagai pahala. “Karena itu, menurut beliau, masa pengabdian adalah ladang kemuliaan. “Di pengabdian ada kemuliaan, dan di dalam setiap kebaikan terdapat keberkahan.”
Tiga Fase Menjadi Santri dan Tiga Tipe Alumni. Dalam sambutannya, Ust. Nasikhun Sugik, S.E., M.M. menjelaskan bahwa pendidikan di pesantren berlangsung melalui tiga fase penting: 1.) Fase Pondasi, yaitu fase awal ketika santri belajar membangun dasar-dasar kehidupan Islami, mulai dari thaharah, ibadah, adab, hingga berbagai nilai dasar kehidupan pesantren. 2.) Fase Mahkota, memasuki kelas 4, 5, dan 6 TMI, santri mulai beralih dari hanya mengurus dirinya sendiri menjadi belajar mengurus dan melayani orang lain melalui berbagai amanah kepengasuhan dan organisasi. 3.) Fase Puncak, fase khidmah menjadi puncak perjalanan pendidikan, yaitu saat seluruh ilmu, karakter, dan nilai yang telah dipelajari diuji dalam kehidupan nyata melalui pengabdian kepada umat. Beliau juga membagi alumni menjadi tiga golongan sebagaimana isyarat dalam Al-Qur’an. Dzālimun linafsih, yaitu mereka yang menyesali masa pengabdiannya. Muqtashid, yaitu mereka yang sekadar menyelesaikan kewajiban pengabdian. Sābiqun bil-khairāt, yaitu mereka yang memahami bahwa setelah masa khidmah selesai, sesungguhnya pengabdian tidak pernah benar-benar berakhir. Khidmah akan terus membersamai sepanjang kehidupan.
Pesantren Tidak Mencetak Pencari Kerja, Tetapi Pencipta Lapangan Kerja. Dalam sambutannya, Assoc. Prof. Dr. H. Musthafa Zahir, Lc., M.A. mengingatkan bahwa banyak orang berhasil menyelesaikan pendidikan formal, namun tidak sejalan antara ilmu dan amalnya. Menurut beliau, pesantren hadir sebagai solusi dengan membangun sistem pendidikan yang tidak hanya menghasilkan ijazah, tetapi juga membentuk karakter dan nilai kehidupan. Beliau menyampaikan beberapa pesan penting: Khidmah yang dijalani dengan niat tulus karena Allah dan demi menuntut ilmu menjadi sebab Allah mengangkat derajat pesantren beserta orang-orang yang berada di dalamnya. Pesantren membekali santri bukan untuk menjadi pencari pekerjaan, melainkan menjadi pencipta lapangan pekerjaan. Dunia membutuhkan pribadi yang memiliki keterampilan, integritas, dan kemauan kuat. Semua karakter tersebut telah ditempa selama proses pendidikan di pesantren.

Masa khidmah merupakan hadiah dari pesantren, sebuah pelatihan kepemimpinan tingkat tinggi yang tidak dimiliki oleh banyak pemuda. Siapa yang melewatkan masa khidmah berarti kehilangan kesempatan yang sangat istimewa, karena pengalaman tersebut tidak dapat tergantikan. Hidup bukan perlombaan tentang siapa yang paling cepat, tetapi bagaimana setiap langkah dimaknai dengan penghayatan, ketaatan kepada Allah, dan rasa syukur atas nikmat-Nya. Beliau kemudian mengutip ungkapan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno:”Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Kemudian beliau menambahkan dengan penuh optimisme: “Untuk alumni Darunnajah 2, beri aku satu alumni Cipining, niscaya akan aku perbaiki masa depan dunia ini”. Ungkapan tersebut disambut tepuk tangan meriah dari seluruh peserta.
Dakwah Adalah Hakikat Pengabdian. Sambutan penutup disampaikan oleh Ust. Ridha Makky, M.Pd. yang mengajak seluruh alumni untuk senantiasa memperbanyak rasa syukur kepada Allah atas nikmat ilmu dan kesempatan berkhidmah. Beliau menjelaskan bahwa Allah menciptakan seluruh makhluk-Nya dan memilih sebagian di antara mereka untuk memperoleh kemuliaan tertentu. Kesempatan menjalani khidmah merupakan salah satu bentuk pilihan tersebut. Beliau menegaskan bahwa menurut para masyayikh, hakikat pengabdian adalah dakwah. Pokok-pokok nasihat beliau antara lain: Mengabdi kepada masyarakat merupakan kewajiban seorang alumni pesantren sebagai bentuk pengamalan ilmu. Amar ma’ruf merupakan bagian dari dakwah yang dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Mengutip hadis Rasulullah SAW: “Ikutilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya”. Mengutip nasihat KH. Abdullah Syukri Zarkasyi: “Justru dengan banyaknya kekurangan kita, berbuat baiklah sebanyak mungkin”.
Kesempatan berbuat baik terbuka bagi semua orang, bukan hanya mereka yang merasa tidak memiliki dosa. Apa pun profesi yang kelak dijalani, dakwah tidak boleh ditinggalkan. Alumni pesantren hendaknya menjadi perekat umat, tidak silau oleh jabatan dan tidak terjebak fanatisme golongan. Menjadi guru juga merupakan dakwah karena melalui pendidikan seseorang menanamkan nilai dan kebaikan kepada generasi berikutnya. Di bumi mana pun kaki berpijak, seorang alumni bertanggung jawab terhadap keberlangsungan Islam di tempat tersebut. Pesantren mendidik santri agar bukan hanya hidup, tetapi juga menghidupi; bukan sekadar bergerak, tetapi menggerakkan. Kesiapan alumni merupakan cerminan keberhasilan pendidikan pesantren.Beliau menutup nasihatnya dengan ungkapan: “Taharrak, fa inna fil harakati barakah“. Bergeraklah, karena di dalam pergerakan terdapat keberkahan. Khusus kepada para alumni putri, beliau berpesan agar menjadi perempuan salehah yang kelak menjadi penopang keberhasilan suami dan keluarganya.
Kesan dan Pesan Alumni Khidmah Pengabdian Darunnajah 2 Putra, Ust. Abdul Hafiz Rantisi. Beliau menyampaikan bahwa pengabdian merupakan batu loncatan kehidupan yang mengajarkan keikhlasan, kesungguhan, kesabaran, kerja sama, dan keteladanan. Menurutnya, pengalaman selama khidmah menjadi bekal yang manfaatnya terus dirasakan sepanjang kehidupan. Beliau juga mengingatkan agar komunikasi dan ikatan dengan pesantren tidak pernah terputus. Al-ma’hadu lā yanāmu abadan — pesantren tidak pernah tidur. Melalui berbagai amanah yang diterima, alumni belajar memimpin, melayani, serta merasakan bahwa keberkahan merupakan sesuatu yang nyata dan dampaknya berlangsung sangat panjang.
Pengabdian Darunnajah 2 Putri, Usth. Fawazzahra Achlia. Beliau mengingatkan bahwa tugas tidak selalu diberikan kepada orang yang sudah mampu, tetapi kepada mereka yang bersedia belajar hingga menjadi mampu. Selama khidmah beliau belajar menjadi wali kamar, pembimbing, panitia, serta berbagai tanggung jawab lain. Pengabdian mengajarkan bahwa membantu orang lain tidak selalu melalui hal-hal besar, melainkan melalui kepedulian dan kesediaan memberi apa yang dimiliki. Datang sebagai orang baru, pulang sebagai pribadi yang ditempa dengan pengalaman dan pembelajaran yang luar biasa.
Pengabdian Darunnajah Pusat dan Cabang, Ust. Fathan Nur Cahya. Beliau menegaskan bahwa dakwah tidak hanya dilakukan di atas mimbar, tetapi melalui sikap, keteladanan, serta hubungan baik dengan masyarakat.Mengajar bukan sekadar menyampaikan pelajaran, tetapi menjadi sarana belajar tanggung jawab dan terus memberi meskipun dengan segala keterbatasan.Beliau juga mengajak seluruh alumni keluar dari zona nyaman. “Kenyamanan bukan tempat orang yang ingin berjuang. Jauhi zona nyaman, nikmati keindahan hasil perjuangan di masa depan”. Menurutnya, khidmah bukan tentang materi ataupun angka, tetapi tentang pengalaman yang tidak ternilai.

Pengabdian Pesantren Mitra, Usth. Nayla Salsabila Beliau menyampaikan bahwa pengabdian mengajarkan seseorang untuk peka terhadap kebutuhan sekitar dan terjun langsung mendampingi setiap proses. Menurutnya, pengabdian sejati bukan menunggu menjadi ahli, tetapi terus belajar agar mampu memberi manfaat. Khidmah bukan soal seberapa siap seseorang, melainkan seberapa besar kemauan untuk terus bertumbuh.
Pengabdian Mandiri, Ust. Raihan Rasyid Ilmiyono. Beliau mengingatkan bahwa ilmu diperoleh melalui belajar, sedangkan keberkahan ilmu diperoleh melalui khidmah. Beliau juga mengajak seluruh alumni untuk senantiasa menyampaikan kebaikan walaupun hanya satu ayat, memanfaatkan setiap kesempatan menjalankan amanah, serta tidak pernah merasa cukup dengan ilmu dan kemampuan yang telah dimiliki.
Pengabdian Terjauh, Usth. Ghina Izzati. Mewakili alumni yang menjalani khidmah di Halmahera, Maluku Utara, beliau menyampaikan pengalaman yang sangat mengharukan. Anak-anak di daerah tersebut berpesan kepada para santri di Jawa agar bersungguh-sungguh belajar karena mereka bercita-cita suatu hari dapat belajar di pesantren yang memiliki fasilitas lebih baik. Beliau juga mengenang pesan orang tuanya sebelum berangkat: “Jangan pernah meninggalkan salat, dzikir pagi, dan dzikir petang. Insya Allah, Allah akan selalu menjaga di mana pun berada. “Selama menjalani khidmah di Halmahera, beliau merasakan makna persaudaraan yang mendalam. “Datang sebagai orang asing, pulang membawa keluarga”. Beliau belajar mencintai dalam diam; tidak semua amal harus diceritakan, dan tidak semua kebaikan membutuhkan pengakuan manusia. Beliau menutup kesannya dengan kalimat yang menggambarkan esensi seluruh rangkaian acara: “Pengabdian bukan formalitas untuk memperoleh ijazah. Khidmah justru merupakan awal dari pengabdian hidup yang akan berlangsung sepanjang hayat.”
Khidmah Adalah Jalan Hidup Alumni Pesantren. Apresiasi Khidmah Catalyst Generation 2026 menjadi penegasan bahwa masa pengabdian bukan sekadar program wajib pasca kelulusan, melainkan puncak proses pendidikan pesantren sekaligus awal pengabdian seumur hidup. Dari seluruh nasihat para pimpinan dan kesan para alumni, tersirat satu benang merah yang sama: khidmah bukan tentang tempat, jabatan, ataupun lamanya masa pengabdian, tetapi tentang menghadirkan manfaat di mana pun Allah menempatkan seorang alumni. Sebagaimana nilai yang senantiasa ditanamkan di Pesantren Darunnajah, alumni diharapkan menjadi insan yang bukan hanya hidup, tetapi juga menghidupi; bukan sekadar bergerak, tetapi menggerakkan, sehingga keberadaan mereka menjadi rahmat dan manfaat bagi umat, bangsa, dan agama di mana pun kaki mereka berpijak.
