Amanat Pimpinan Pesantren Darunnajah selaku Pembina Upacara pada Apel Tahunan 2025

Amanat Pimpinan Pesantren Darunnajah selaku Pembina Upacara pada Apel Tahunan 2025

Amanat Pimpinan Pesantren Darunnajah selaku Pembina Upacara pada Apel Tahunan 2025
Amanat Pimpinan Pesantren Darunnajah selaku Pembina Upacara pada Apel Tahunan 2025

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah mengizinkan kita berkumpul di hari yang penuh makna ini. Hari di mana kita bukan sekadar mengadakan apel tahunan, tetapi merayakan 8 windu — enam puluh empat tahun — perjalanan panjang Pondok Pesantren Darunnajah sejak pertama kali benih perjuangan ini ditanam.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Para pimpinan, anggota Dewan Nadzir, para kepala lembaga, pengasuh cabang, keluarga wakif, tokoh masyarakat, guru, dan para santri yang kami cintai.

Makna Sakral 8 Windu

Izinkan saya mengajak kita merenung sejenak: mengapa 8 windu menjadi begitu sakral?

Dalam tradisi kita, satu windu adalah delapan tahun. Empat windu (32 tahun) sering disebut satu siklus besar kehidupan, sedangkan 8 windu adalah dua kali siklus penuh — tanda kematangan paripurna atau sampurnaning urip. Dalam budaya lain, angka 64 melambangkan kelengkapan variasi kehidupan, seperti 64 heksagram dalam I Ching yang menjadi simbol kesempurnaan perjalanan.

Bagi kita umat Islam, 64 tahun adalah usia yang telah melampaui umur Rasulullah SAW. Maka setiap waktu tambahan di atas itu adalah amanah emas yang harus dimanfaatkan untuk amal sebesar-besarnya. Bagi sebuah lembaga, 8 windu adalah fase pembuktian: apakah perjuangan yang dimulai para pendiri akan terus hidup atau berhenti di sini. Karena itu, peringatan ini bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi memperbarui tekad untuk melompat lebih jauh di masa depan.

Perjalanan Darunnajah

Perjalanan ini dimulai sangat sederhana. K.H. Abdul Manaf Mukhayyar memulai dari sebuah lahan ratusan meter persegi di Palmerah dengan nama Madrasah Islamiyah. Saat tempat itu harus digusur, Allah gantikan dengan lahan 5 hektar di Ulujami. Beratnya tantangan memaksa para perintis berfikir keras dan mengatur strategi perjuangan. Memulainya dari titik terdekat di Petukangan dengan nama Darunnajah di tahun 1961 dan bertahap menggesernya ke Ulujami di tahun 1974. Dari titik itulah barakah berkembang: hari ini, Darunnajah memiliki lebih dari 1.000 hektar aset wakaf di 23 cabang, menampung sekitar 10.000 santri dari berbagai daerah bahkan mancanegara di beragam level pendidikan, dari taman kanak-kanak, tingkat dasar hingga perguruan tinggi.

Keberhasilan ini adalah buah keikhlasan para pendiri: K.H. Abdul Manaf Mukhayyar, K.H. Mahrus Amien, K.H. Qomaruzzaman. Dikuatkan oleh doa para wakif, ketulusan para pengasuh, dedikasi guru, dan semangat santri serta wali santri. Selama 8 windu, keikhlasan itu telah menjadi darah yang mengalir di nadi Darunnajah.

Darunnajah sebagai Syajaroh Thoyyibah

Darunnajah ibarat syajaroh thoyyibah — pohon yang baik. Di tengah riuh dan kerasnya metropolitan, ia tidak layu. Daun yang gugur bukan tanda mati, melainkan kesempatan bagi tunas baru untuk tumbuh. Akar semakin menghujam, batang kian kokoh, dan buahnya makin lebat, menebar manfaat seluas-luasnya bagi umat.

Namun, 8 windu ini juga sarat ujian. Pesantren kota menghadapi polusi gaya hidup, intervensi kebijakan, hingga ancaman internal seperti disorientasi nilai. Alhamdulillah, panca jiwa pesantren — keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan — menjadi perisai yang menjaga Darunnajah tetap tegak.

Al-Muhafadhoh alal qiyam, wattaghyiir ilal kamal.

Menjaga nilai-nilai prinsip yang tak boleh berubah, sambil merubah yang sudah usang mutaghoyyiraat menuju kesempurnaan. Jangan pernah alergi dengan perubahan (attaghyiir). Karena perubahan adalah satu-satunya hal yang abadi.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Syukur 8 windu ini tidak boleh berhenti di lisan. Ia harus diwujudkan dalam kerja keras, kerja ikhlas, dan kerja cerdas. Syukur berarti menjaga amanah, sekecil apapun, dengan kesungguhan dan itqan. Dari amanah kecil, lahir amanah besar.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim: 7)*

Kemajuan pondok tidak datang dari kata-kata indah semata, tetapi dari kebersamaan yang terbangun kokoh selama 8 windu. Kyai, guru, santri, karyawan, mbok dapur, satpam — semua adalah mesin penggerak perjuangan. Semuanya terikat oleh misi suci: menyiapkan kader penerus.

8 windu mengajarkan kita untuk tidak cepat puas, tidak merasa paling berjasa. Kita harus melangkah lebih jauh daripada para pendahulu, berpacu dengan yang terbaik.

أَوْ قُومُوا عِمْلُوا فَوْقَ مَا عَمِلُوا

Even the best can be improved

Lihatlah santri di hadapan kita: wajah cerah, hati bersih, barisan rapi. Mereka adalah mutiara generasi berikutnya. Pendidikan mereka tidak hanya di ruang kelas, tetapi dalam setiap detik kehidupan 24 jam di pesantren.

Keunikan Pendidikan Darunnajah

Kegiatan Khutbatul Arsy dan Porseka hanyalah etalase kekayaan pendidikan Darunnajah. Ia membuka ruang luas untuk berkarya, memimpin, dan mempersiapkan diri menjadi khalifah fil-ardh. Rangkaian kegiatan pengenalan yang diluar hanyalah seremonial belaka di pondok menjadi kegiatan yang sakral dan penuh makna.

Santri pun tak hanya sekedar menjadi obyek. Merekalah subyek dari sebuah proses pendidikan holistik ini. Semua mendapat peran dalam proses ini; Baleho karya santri cerdas visual, Lagu dan koreografi tari karya santri cerdas musikal, Penampilan olahraga karya santri cerdas kinestetis, Paskibra tanda santri cerdas emosional. Seluruh apa yang kita saksikan hari ini adalah karya santri, dari santri, oleh santri dan untuk santri.

Tell me and I forget. Teach me and I will remember. Involve me and I will learn” (Benjamin Franklin).

Apa yang didengar, apa yang dilihat, apa yang dirasa selama menjalani proses adalah pendidikan.

Santri tidak perlu iri pada gemerlap luar sana. Di sini kita ciptakan surga kita sendiri — kita ciptakan aura farming kita sendiri- aura surga yang lahir dari manisnya ketaatan kepada Allah. Berkaryalah, karena manusia akan dikenang dari karya dan manfaat yang ia tinggalkan.

Pesantren sebagai Lokus Deep Learning

Kalau kita dengar belakangan ini terkait konsep “Deep Learning” yang kini dipromosikan Kemendikbud sebagai konsep baru, pesantren sebenarnya sudah lama menjadi laboratorium alami dari pendekatan itu—dengan tambahan kekhasan spiritual, kultural, dan praksis keumatan.

Pesantren adalah Lokus Deep Learning tertua. Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia, dengan ciri khas pembelajaran mendalam. Konsep tafaqquh fi al-din (pendalaman agama) yang diusung pesantren sebenarnya sejalan dengan semangat deep learning:

  • Tidak sekadar kognitif, tapi menyentuh aspek afektif (nilai, akhlak) dan psikomotorik (amal, keterampilan)
  • Belajar bukan hanya knowing (mengetahui), tapi being (menjadi) inilah inti mindful, meaningful, joyful yang kini digaungkan Kemendikbud
  • Prosesnya berlangsung dalam jangka panjang, berjenjang, berkesinambungan, sehingga menanamkan pemahaman mendalam dan karakter

Pesantren sebagai pusat deep learning asli Nusantara yang bukan sekedar pendidikan yang menekankan “rote learning” (hafalan) dan “shallow learning” (sekadar nilai ujian). Maka, seharusnya pemerintah mengafirmasi ini dan menjadikan pesantren sebagai benchmark untuk pengembangan pendidikan karakter, kewirausahaan Islami, dan masyarakat berkelanjutan.

فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Kemandirian Berbasis Wakaf

Alhamdulillah, tsumma Alhamdulillah..

Selama 8 windu, organisasi santri menjadi kawah candradimuka kaderisasi. Pendidikan totalitas pesantren memandirikan, memerdekakan, dan memampukan santri menjadi manusia utuh. Jiwa merdeka dilandasi dengan jiwa kemandirian inilah yang menjadi bekal memperluas manfaat Darunnajah sebagai institusi wakaf.

Pesantren Darunnajah tumbuh sebagai contoh nyata kemandirian pesantren modern berbasis wakaf di Indonesia. Dengan ratusan unit usaha produktif berbasis wakaf, Darunnajah Alhamdulillah berhasil membangun ekosistem ekonomi yang menopang keberlangsungan lembaga tanpa harus bergantung pada pihak luar. Unit-unit usaha tersebut meliputi sektor agribisnis, retail, jasa, hingga properti, yang dikelola secara profesional namun tetap berlandaskan nilai-nilai pesantren.

Hasil pengelolaan wakaf ini tidak hanya menghidupi kebutuhan internal pesantren, tetapi juga menjadi sumber daya berharga dalam menjaga kemandirian berfikir, bersikap, dan mengambil keputusan sesuai visi keislaman yang diyakini.

Keberhasilan Darunnajah dalam mengembangkan wakaf produktif memungkinkan biaya pendidikan tetap terjangkau bagi masyarakat luas, tanpa mengurangi kualitas layanan pendidikan. Dengan demikian, Darunnajah tidak hanya menjadi pusat pembelajaran agama dan ilmu pengetahuan, tetapi juga model pemberdayaan ekonomi berbasis wakaf yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Universitas Darunnajah

Untuk itulah juga kita harus bersyukur, ditengah perjalanan 8 windu ini, berdirilah Universitas Darunnajah — mungkin satu-satunya universitas berbasis pesantren wakaf di jantung ibukota Indonesia. Semoga ia bertahan ratusan atau bahkan ribuan tahun, seperti Al-Azhar di Kairo, Oxford, Cambridge, Harvard atau universitas-universitas wakaf dan endowment ternama dunia.

Salah satu kekhasan yang dibangun oleh Darunnajah melalui universitas melalui program-program studi kewirausahaan (entrepreneurship) dan science technology. Semangat Kewirausahaan yang terinspirasi dan mengalir deras dari diri para pendiri menjadi keunikan kurikulum kewirausahaan baik di tingkat menengah maupun di perguruan tingginya.

Pesantren memang sejak dulu telah memiliki visi yang melampaui zamannya. Bahkan jauh sebelum republik Indonesia ini lahir.

Tantangan 8 Windu Mendatang

Allahu akbar, Allahu Akbar..

Pesan KH Mahrus Amien terus menggaung: “Walau umurku habis, cita-cita perjuangan Darunnajah tak boleh berhenti. Mati satu, tumbuh seribu!”*

Inilah ujian 8 windu: memastikan pondok tetap hidup setelah para pendirinya tiada. Kader muda harus tampil, yang tua memberi ruang. Rotasi dan penyegaran organisasi adalah sarana menguji ketahanan kaderisasi. Tahun ini, 600an santri lulusan melanjutkan tradisi khidmah, tersebar ke berbagai penjuru negeri bahkan ke pulau-pulau kecil di batas terluar. Mereka adalah bukti bahwa generasi 8 windu siap mengabdi, memberi, dan berkorban demi kejayaan Islam.

Pesantren adalah sebuah grand system perjuangan yang terbukti handal mampu bertahan melampaui berbagai tantangan zaman. Dan inilah tantangan 8 windu selanjutnya.

A bad system will beat a good person every time.”

Sistem ada adalah ciri kemodernan yang harus kita usahakan bersama. Sedikit demi sedikit, menyempurnakan sistem-sistem disegala bidang. Agar lembaga ini tak mati saat ditinggal pendiri. Agar roda organisasi bisa terus bergulir membesar mengembangkan diri lembaga itu sendiri.

Pondok harus maju tanpa kehilangan jati diri. Raport sejati 8 windu ini diukur bukan dari kemegahan fasilitas atau jumlah santri, tetapi dari kekuatan berpegang pada nilai Islam dan semangat memberi.

إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Penghargaan dan Kenangan

Pada hari ini pula, pada tempatnya kami mengenang dan memperingati mereka yang berjasa kepada perjuangan pondok ini:

  • Wakif dan Pendiri Darunnajah Ulujami, KH.Abdul Manaf Mukhayyar dan Keluarga
  • Wakif lahan Darunnajah lainnya
  • Mereka yang telah membantu baik dari harta, tenaga ataupun fikiran, yang telah membantu perjuangan di pondok ini
  • Ayahanda KH Mahrus Amien dan Hj Suniyati Manaf
  • KH Saifuddin Arief ketua Yayasan Darunnajah dan ibu Dr Susanti Arief
  • KH Noor Badri Manaf
  • Guru-guru kita yang telah mendahului kita: Ust Sholeh, Ust muhibbin, Ust Sulaiman Efendi, dan seluruh pejuang yang telah mendahului kita. Al-Fatihah..

Ya Allah, di usia 8 windu ini, lindungilah guru, santri, dan keluarga besar Darunnajah. Berikan kekuatan lahir batin, kesehatan, kesabaran, dan istiqamah. Ampunilah dosa kami, dosa orang tua kami, dan dosa para pendahulu kami. Satukan hati kami, jauhkan dari riya’ dan takabbur, tumbuhkan rasa syukur yang menggerakkan.

8 windu ini adalah amanah yang harus kami jaga, wariskan, dan majukan. Jadikanlah ia pijakan untuk 8 windu berikutnya, agar Darunnajah terus tumbuh menjadi pohon kehidupan yang meneduhkan dunia. Ya Allah…..

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَىٰ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

اللَّهُمَّ سَهِّلْ أُمُورَنَا وَيَسِّرْ أَعْمَالَنَا وَحَقِّقْ أَعْمَالَنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَبَارِكْ لَنَا

اللهم اعن المسلمين العالء كلمتك يا للا اللهم انفق انصار معاهدنا الي ما فيه صالح االسالم والمسلمين. وَحِقِّقْ آمَالَنَا وَوَفِّقْنَا فِى كِفَاحِنَا وَجِهَادِنَا وَرِيَاسَتِنَا فِى هَذَا الْمَعْهَدِ بِرَحْمَتِكَ وَكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِينَ ثَبِّتْ أَقْدَامَنَا

اللهم اكرمنا وال تهنا واتنا وتحرمنا وزدنا وال تنقصنا وارضنا وارض عنا اللهم حبلنا من ازوجنا وذريتنا قرة اعين، واجعلنا للمتقين اماما.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

Walhamdulillahirabbil ‘alamin.

Pimpinan
– Dr. K.H. Sofwan Manaf, M.Si.
– K.H. Hadiyanto Arief, S.H., M.Bs.

Ulujami, 19 Agustus 2025

Pendaftaran Santri Baru