
Sebelum azan subuh, pengurus asrama sudah berkeliling membangunkan teman-temannya. Tugas ini terlihat sederhana, namun membutuhkan kesabaran dan keteguhan. Menjadi pengurus asrama berarti memikul amanah, memberi contoh, dan siap dikritik. Dari peran inilah santri putra mengenal arti kepemimpinan yang sesungguhnya.
Pengurus asrama adalah santri senior yang dipercaya membantu pembina mengatur kehidupan sehari-hari di asrama. Tugas mereka mencakup menjaga ketertiban, kebersihan, dan jadwal ibadah. Mereka menjadi penghubung antara santri dan pembina, sehingga setiap persoalan dapat ditangani lebih cepat.
Di lingkungan Pesantren Darunnajah 2 Cipining, peran ini diberikan sebagai bagian dari pendidikan kepemimpinan. Santri tidak diberi jabatan semata untuk gengsi. Mereka diharapkan menunjukkan keteladanan dalam ibadah, belajar, dan akhlak. Teladan dari pengurus sering kali lebih efektif daripada nasihat panjang.
Tantangan terbesar pengurus adalah memimpin teman sebaya. Tidak semua teguran diterima dengan baik. Kadang ada yang merasa kesal ketika diingatkan. Pengurus belajar memilih kata, menjaga nada bicara, dan bersikap adil kepada semua. Kemampuan ini sulit diperoleh tanpa pengalaman langsung.
Selain itu, pengurus harus membagi waktu dengan cermat. Mereka tetap wajib mengikuti pelajaran, menyelesaikan tugas, dan menjaga hafalan. Tanggung jawab tambahan membuat mereka terbiasa menyusun prioritas dan mengelola tekanan. Keseimbangan ini menjadi latihan penting menjelang kehidupan dewasa.
Beberapa pelajaran yang biasanya dipetik dari amanah ini antara lain:
- Keteladanan lebih kuat daripada perintah.
- Keadilan dan ketegasan perlu berjalan bersama.
- Mendengarkan sama pentingnya dengan berbicara.
- Disiplin pribadi menjadi dasar disiplin bersama.
- Kritik adalah bahan untuk memperbaiki diri.
Islam menempatkan kepemimpinan sebagai tanggung jawab berat. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan ditanya tentang yang dipimpinnya, sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Pesan ini menanamkan kesadaran bahwa jabatan adalah titipan, bukan hak istimewa.

Pembina berperan mendampingi dengan evaluasi rutin. Pengurus diajak merefleksikan apa yang sudah baik dan apa yang perlu diperbaiki. Pendekatan ini membuat kesalahan menjadi bahan belajar. Santri tumbuh dengan keyakinan bahwa memimpin adalah proses yang terus diasah.
Ada pengalaman yang sering diceritakan para pengurus: saat pertama kali ditunjuk, mereka merasa ragu. Beberapa khawatir tidak mampu menegur teman, sementara yang lain takut tidak dihormati. Seiring waktu, rasa ragu itu berganti dengan keyakinan. Mereka menyadari bahwa wibawa tumbuh dari konsistensi dan kejujuran, bukan dari suara yang keras.
Kerja sama antarpengurus juga memperkuat peran mereka. Dalam rapat rutin, mereka membahas persoalan asrama, mencari solusi, dan menyepakati langkah bersama. Kebiasaan bermusyawarah ini membuat keputusan lebih matang dan mudah diterima santri. Pembina hadir sebagai pendamping yang memastikan arah kebijakan tetap sejalan dengan nilai pesantren.
Santri yang pernah menjadi pengurus biasanya memiliki bekal kuat saat kembali ke masyarakat. Mereka terbiasa bertanggung jawab, berkomunikasi, dan mengambil keputusan. Mari dukung para pengurus dengan doa dan sikap saling menghargai, agar amanah yang mereka emban membawa kebaikan bagi seluruh penghuni asrama.
