Dari kampung, dari pondok, kini melangkah hingga ke Kerajaan Maroko. ini sepenggal kisah perjalanan santri Darunnajah 2 Cipining yang ingin saya bagikan.
Perkenalkan, saya Muhammad Ibrahim, santri Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor, lulus pada tahun 2023. Alhamdulillah, saat ini saya telah menyelesaikan studi S1 jurusan Hukum dan Penotariatan Syariah dengan fokus kajian bidang keilmuan Dirasat Islamiah, di Ibn Tofail University, Kenitra, Kerajaan Maroko. Studi ini saya mulai pada tahun 2023 dan selesai pada tahun 2026, sehingga masa studi saya kurang lebih 3 tahun.

Sekilas tentang Maroko dan kampus saya, Kenitra adalah salah satu kota besar di wilayah Rabat-Salé-Kénitra, berjarak sekitar 40 km dari Rabat, ibu kota Maroko. Kota ini dikenal sebagai kota pelabuhan sungai di tepi Sungai Sebou, dengan perpaduan sejarah panjang dan perkembangan modern yang terus berjalan. Di kota inilah berdiri Ibn Tofail University, kampus tempat saya menimba ilmu selama tiga tahun terakhir. Sebuah kebanggaan tersendiri bagi saya, kampus ini beberapa kali tercatat sebagai universitas negeri nomor satu di Maroko dalam Times Higher Education Impact Rankings, penilaian bergengsi dunia yang mengukur kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan berkelanjutan (SDGs).
Keputusan melanjutkan studi ke Maroko bukan tanpa alasan. Negeri ini dikenal dengan tradisi keilmuan Islam yang kokoh, negara yang aman untuk diaspora Indonesia, tempat sanad keilmuan para ulama masih terjaga rapat hingga hari ini dengan manhaj resmi kerajaan beraqidah Asy’ari, bermadzhab Maliki, dan bertarekat Junaidi. Berbekal semangat yang tinggi yang didukung oleh bimbingan dan restu para asatidz di pondok, saya kemudian mengikuti jalur seleksi beasiswa pemerintah Kerajaan Maroko yang berafiliasi dengan Kementerian Agama RI, sebuah proses yang saya yakini bukan kebetulan, melainkan jalan yang Allah mudahkan untuk saya menimba ilmu di negeri ini.
Kegiatan perkuliahan sehari-hari saya berjalan cukup padat, dalam sepekan ada empat hari kuliah, dengan dua mata kuliah setiap harinya, masing-masing berdurasi dua jam. Perkuliahan di sini terasa berbeda dari yang saya bayangkan sebelumnya yaitu suasana kelas lebih interaktif dan diskusif tanpa sistem presentasi mahasiswa dan skripsi seperti yang lazim di Indonesia, dengan bahasa pengantar Arab dan Prancis. Dua sosok dosen yang paling berkesan dan banyak membentuk cara pandang saya adalah Prof. Maryam Ait Ahmed, ahli di bidang Pemikiran Islam Kontemporer yang beberapa kali berkunjung ke Indonesia dan cukup dekat dengan mahasiswa Indonesia, serta Prof. Abdul Mughits Jailani, ahli di bidang Ushul Fiqh dan Maqasid Syariah yang juga memiliki pondok pesantren di Indonesia. Kehadiran keduanya menjadi jembatan keilmuan yang membuat saya merasa “dekat dengan rumah” meski jauh di negeri orang.
Selama masa studi, saya juga menyaksikan kehidupan kampus yang dinamis, mulai dari organisasi kemahasiswaan seperti BEM hingga berbagai unit kegiatan mahasiswa lainnya, meski saya lebih memilih memusatkan waktu dan energi pada organisasi pelajar Indonesia di Maroko. Di sanalah saya belajar bertanggung jawab, berkolaborasi, dan menjaga ukhuwah jauh dari tanah air. Proses itulah yang mengantarkan saya pada amanah baru: dipercaya menjadi Ketua PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Maroko periode 2026/2027, sebuah amanah yang saya niatkan sebagai ladang khidmah bagi sesama pelajar Indonesia di sini, sekaligus menjaga nama baik pondok di kancah internasional.
Mohon doa dari keluarga besar Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining, semoga langkah kecil ini menjadi jejak yang bermanfaat dan semoga menjadi inspirasi bagi santri-santri Darunnajah 2 Cipining untuk terus melangkah dan bermimpi lebih jauh.
