
Ribuan langkah kaki menapaki jalan setapak yang jarang dilalui. Pada Jumat, 28 Agustus 2026, seluruh santri dari kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti Pengembaraan Wide Game PERKHUTSY di kawasan lahan wakaf sekitar pesantren. Kegiatan kepramukaan ini dirancang sebagai perjalanan menyusuri sejumlah pos pemberhentian yang telah disiapkan panitia. Di setiap pos, peserta dihadapkan pada tantangan dan pertanyaan yang harus diselesaikan secara berkelompok.
Pengembaraan ini lahir dari prinsip dasar kepramukaan, scout is a jolly game — kepanduan adalah permainan yang menyenangkan. Melalui perjalanan menembus hijaunya lahan wakaf, santri diajak mentadaburi alam sekaligus mengenal lebih dekat kawasan tempat mereka menuntut ilmu. Bagi santri baru, kegiatan ini menjadi kesempatan pertama melihat sudut-sudut pesantren yang selama ini luput dari langkah harian mereka. Luasnya lahan wakaf Pesantren Darunnajah 2 Cipining membuat pengembaraan terasa seperti penjelajahan sesungguhnya.


Panitia menyebut jalannya kegiatan berlangsung lancar dan terkondisi. Antusiasme peserta terlihat jelas saat mereka berebut menjawab pertanyaan di setiap pos. Suasana riuh, tawa, dan sesekali perdebatan kecil antaranggota kelompok mewarnai perjalanan dari satu titik ke titik berikutnya. Semua peserta terlibat aktif, tanpa ada yang sekadar menjadi penonton di barisan belakang.
Di balik kelancaran itu, persiapan kegiatan menyimpan sejumlah tantangan yang harus diselesaikan panitia:
- Membagi kelompok peserta agar jumlahnya seimbang — tidak terlalu besar sehingga sulit dikendalikan, tidak terlalu kecil sehingga kehilangan dinamika
- Memastikan seluruh rangkaian acara di setiap pos berjalan sesuai rencana
- Menjamin ketersediaan air minum yang cukup bagi seluruh peserta selama pengembaraan berlangsung
Persoalan air menjadi perhatian serius. Perjalanan menempuh medan terbuka di bawah terik siang menuntut panitia memastikan tidak ada peserta yang kehabisan bekal minum. Hal-hal teknis semacam ini kerap luput dari sorotan, padahal menentukan apakah sebuah kegiatan berakhir dengan kenangan manis atau keluhan. Kesiapan panitia dalam hal ini menjadi bagian dari pelajaran tersendiri tentang tanggung jawab.
Pengembaraan menyimpan makna yang lebih dalam daripada sekadar berjalan dan menjawab soal. Melewati pos demi pos secara bersama-sama menumbuhkan rasa saling menghargai antaranggota kelompok. Yang berjalan cepat belajar menunggu, yang tertinggal belajar tidak menyerah, dan yang tahu jawabannya belajar mendengarkan pendapat kawannya. Islam sendiri menempatkan ukhuwah sebagai fondasi kehidupan bersama, dan pengembaraan ini menjadi ruang latihan yang nyata untuk merawatnya.
Alam yang dilalui pun berperan sebagai guru. Tadabur alam mengajarkan santri membaca tanda-tanda kebesaran Allah pada pepohonan, tanah, dan langit yang menaungi perjalanan mereka. Kesadaran semacam ini sulit ditumbuhkan di dalam ruang kelas yang berdinding. Lahan wakaf yang luas menjelma menjadi ruang belajar terbuka, tempat pelajaran akhlak disampaikan tanpa papan tulis.



Panitia berharap nilai-nilai yang tertanam selama pengembaraan tidak berhenti ketika peserta kembali ke asrama. Jiwa kebersamaan dan kekompakan yang terbentuk di jalan setapak diharapkan terbawa ke dalam keseharian santri — di kelas, di kamar, dan di lapangan. Pengalaman melewati pos bersama-sama menjadi modal sosial yang akan mereka butuhkan selama bertahun-tahun ke depan. Inilah hasil nyata yang dituju: mempererat tali persaudaraan dan menumbuhkan rasa saling menghargai.
Bagi para santri, tantangan sesungguhnya baru dimulai setelah kegiatan usai. Merawat kekompakan dalam rutinitas harian jauh lebih sulit daripada menjaganya selama satu hari pengembaraan. Wali santri dan masyarakat luas dapat turut mendukung dengan memberi ruang bagi anak-anak untuk belajar langsung dari alam dan kebersamaan. Ikuti terus perkembangan kegiatan kepramukaan berikutnya, dan mari pastikan semangat PERKHUTSY tetap hidup jauh setelah pos terakhir dilewati.
