Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Romo Muhammad Syafii, mengapresiasi komitmen Yayasan dan Universitas Darunnajah dalam mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui penyelesaian pembangunan empat Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berbasis wakaf produktif. Apresiasi tersebut disampaikan saat menerima audiensi jajaran pimpinan Yayasan dan Universitas Darunnajah di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Keempat dapur SPPG tersebut telah rampung sepenuhnya dan dibangun secara mandiri melalui pengelolaan wakaf produktif. Fasilitas ini menjadi bentuk nyata kontribusi pesantren dalam mendukung pemenuhan gizi santri sekaligus masyarakat di sekitarnya.
Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah, K.H. Dr. Sofwan Manaf, M.Si., menjelaskan bahwa seluruh investasi pembangunan SPPG berasal dari hasil pengembangan aset wakaf yang dikelola secara berkelanjutan untuk kemaslahatan umat.
“Kita ini terkait dengan MBG sudah ada empat SPPG yang berada di bawah kita langsung. Semuanya itu berbasis wakaf, jadi dana-dana investasinya pun dari hasil wakaf yang kita kembangkan untuk kembali ke wakaf,” ujar Sofwan Manaf.
Menanggapi hal tersebut, Wamenag menyatakan bahwa langkah Darunnajah menunjukkan peran strategis pesantren dalam membangun kemandirian ekonomi sekaligus mendukung program nasional melalui pengelolaan wakaf yang produktif.
“Kehadiran empat dapur SPPG berbasis wakaf mandiri di Darunnajah ini merupakan bukti nyata kontribusi pesantren dalam mendukung pemenuhan gizi masyarakat dan santri. Seluruh pembiayaannya dikembangkan secara mandiri dari hasil pengelolaan wakaf produktif,” kata Romo Muhammad Syafii.
Sebagai tindak lanjut, Wamenag menginstruksikan Direktorat Pesantren Kementerian Agama untuk segera mengoordinasikan data dan kesiapan fisik pesantren yang telah memenuhi persyaratan, termasuk Darunnajah, kepada Badan Gizi Nasional (BGN) dan Kementerian Koordinator Bidang Pangan agar operasional SPPG dapat segera dipercepat.
Selain membahas kesiapan program MBG, audiensi juga menyoroti penguatan kelembagaan Universitas Darunnajah melalui pengembangan Program Pascasarjana Manajemen Pesantren. Wamenag menilai penguatan kurikulum menjadi aspek penting dalam mencetak pemimpin pesantren yang mampu mengelola lembaga secara profesional.
“Kurikulum Manajemen Pesantren perlu membekali calon alumni dengan standar pengetahuan rancang bangun dan konstruksi bangunan fisik yang aman dan nyaman. Hal ini penting agar setiap pembangunan fasilitas pesantren benar-benar terjamin keamanannya bagi para santri dan kiai,” tegas Romo Syafii.
Wamenag juga mendorong penerapan sistem pengawasan berbasis digital sebagai bagian dari Program Ruang Aman dan Nyaman Bagi Anak (RANA), sehingga tata kelola pesantren semakin modern, aman, dan terpercaya.
“Dengan penguatan manajemen yang mencakup keandalan fisik bangunan, digitalisasi pengawasan, serta kemandirian ekonomi berbasis wakaf, kita berharap Universitas Darunnajah dapat menjadi percontohan (benchmark) nasional bagi tata kelola pesantren yang modern, aman, dan berdaya saing,” pungkasnya.

Audiensi ini mempertegas peran Darunnajah sebagai pesantren yang terus berinovasi dalam pengembangan pendidikan, pemberdayaan wakaf produktif, serta mendukung berbagai program strategis pemerintah demi kemaslahatan umat dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
