Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi hadir di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, ditandai dengan peresmian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Darunnajah pada Sabtu, 4 April 2026. Ini menjadi tonggak penting karena SPPG ini merupakan salah satu yang sudah memiliki SPPG berbasis pesantren di Jakarta.
Acara peresmian dihadiri oleh berbagai pihak: Ketua Yayasan Darunnajah, K.H. Busthomi Ibrohim, M.Ag., Ph.D.; Direktur Departemen Darunnajah, Syekh Ubaid; Mab’uts (Utusan) Universitas Al-Azhar Mesir; serta perwakilan pemerintah, yaitu Danramil 04, Kepala Satpol PP Ulujami, dan para relawan program MBG.
Acara diresmikan langsung oleh K.H. Hadiyanto Arief, S.H., M.Bs., Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah.

Dalam sambutannya, K.H. Hadiyanto Arief menegaskan keistimewaan lokasi SPPG ini.
Pesantren Darunnajah berdiri di atas tanah wakaf yang dahulu merupakan milik almarhum K.H. Abdul Manaf Khair, pendiri Darunnajah. Beliau mewakafkan tanah tersebut dengan melepaskan hak warisnya dan seluruh keturunannya untuk kepentingan umat Islam dan perjuangan di jalan Allah.
Program MBG di Darunnajah tidak hanya menyasar santri lokal saja. Pesantren Darunnajah menerima santri dari berbagai penjuru Indonesia, bahkan dari Malaysia dan Thailand.
K.H. Hadiyanto Arief juga menjelaskan cakupan luas penerima manfaat program ini.
“SPPG ini akan melayani siswa dan guru di berbagai level pendidikan, dari TK hingga SMA, serta masyarakat sekitar, dengan total sekitar 3.000 penerima manfaat,” ujarnya.
Syekh Ubaid yang merupakan salah satu Tenaga Pengajar dari Al-Azhar Mesir menyampaikan bahwa program serupa telah lama berjalan di Universitas Al-Azhar Mesir, di mana seluruh biaya pendidikan dan kebutuhan makan ditanggung gratis bagi mahasiswa dari seluruh dunia, termasuk sekitar 60.000 lebih mahasiswa asal Indonesia, yang seluruhnya bersumber dari dana wakaf.
K.H. Hadiyanto Arief menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo dan seluruh jajaran pemerintah atas inisiatif MBG ini. Meski menerima program tersebut, beliau menegaskan bahwa tradisi dan nilai-nilai kepesantrenan tidak boleh luntur.
Hal ini sejalan dengan pesan yang disampaikan oleh Wakil Kepala BGN, Irjen Pol. (Purn.) Sony Sonjaya, S.I.K., yang meminta agar MBG diterapkan sesuai konteks masing-masing lembaga.
“MBG harus diwujudkan sesuai konteks. Kalau konteksnya pesantren, tradisi yang ada di pesantren tidak boleh hilang,” ujar K.H. Hadiyanto Arief, menirukan pesan Irjen Pol. (Purn.) Sony Sonjaya, S.I.K.
Beberapa penyesuaian yang akan diterapkan antara lain menjaga tradisi puasa Senin-Kamis bagi para santri, dengan menyesuaikan jadwal distribusi makanan agar tidak bertabrakan dengan waktu puasa — termasuk jika santri sedang menjalankan puasa sunnah lainnya, distribusi MBG pun akan menyesuaikan.
Selain itu, para santri tetap diwajibkan mencuci tempat makan mereka sendiri sebagaimana tradisi pesantren, serta memastikan santri tetap hidup sederhana meski mendapat asupan gizi yang lebih baik.
Adapun apabila terdapat sisa hasil usaha dari operasional SPPG, seluruhnya akan dikembalikan kepada lembaga wakaf sebagai bentuk ikhtiar wakaf produktif yang berkelanjutan.
“Mudah-mudahan tidak hanya di Darunnajah Pusat, tapi juga di cabang-cabang dan pesantren-pesantren lain, agar kita benar-benar mampu berkontribusi menyiapkan generasi yang kuat dan sehat,” pungkas K.H. Hadiyanto Arief.

Acara peresmian ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh K.H. Hasyim Sya’ban, S.Pd.I. Usai doa, seluruh tamu undangan melanjutkan kegiatan dengan survei langsung ke dapur SPPG untuk melihat dari dekat fasilitas dan kesiapan operasional layanan makan bergizi bagi para santri.
Kehadiran SPPG ini menjadi ikhtiar nyata untuk memperkuat ekosistem pesantren, tidak hanya sebagai pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga didukung sarana yang layak, modern, dan berkelanjutan.
Semoga langkah ini membawa manfaat besar bagi para santri dan semakin menguatkan peran pesantren sebagai pilar pembangunan sosial dan keagamaan di Indonesia.
