Pabrik Tempe Darunnajah Resmi Beroperasi

Pabrik Tempe Darunnajah Resmi Beroperasi

Pabrik Tempe Darunnajah Resmi BeroperasiGelombang kemandirian ekonomi di
Pesantren Darunnajah 2 Cipining
akhirnya menemukan wujud konkretnya. Pada Agustus 2025, Pabrik Tempe Darunnajah resmi beroperasi setelah melalui pembangunan selama 10 hari, sejak 3 hingga 13 Agustus 2025. Bangunan yang dulunya berfungsi sebagai Math’am Sanlik (Tempat Makan Santri Cilik) Putra di Kampus 2 kini bertransformasi menjadi pusat produksi pangan yang stabil menyuplai kebutuhan internal pesantren sejak September 2025. Program ini lahir dari kebutuhan nyata: dapur pesantren memasak tempe empat kali seminggu dengan konsumsi santri yang sangat tinggi. Departemen Usaha di bawah pimpinan Ustadz Abdul Munir menggagas unit usaha mandiri ini dengan tujuan ganda—efisiensi biaya belanja dapur dan peluang keuntungan bisnis yang diestimasi. Selain faktor ekonomi, menjamin kualitas dan kebersihan makanan santri menjadi motivasi utama pendirian pabrik ini. Mesin pemecah kedelai, bahan baku berkualitas, serta SOP pengolahan yang ketat menjadi fondasi keunggulan produk. Prosesnya dimulai dengan perebusan dan perendaman kedelai selama 12 jam, penggilingan, pencucian hingga kulit luruh, perebusan ulang, pemberian ragi, pembungkusan, dan fermentasi selama dua
hari. Kapasitas produksi terus ditingkatkan
dengan target mencapai 200 papan per hari.
Strategi direct supply diterapkan untuk
memenuhi kebutuhan internal pesantren,
meliputi: Dapur pesantren, Bakery, Kantin dan
Baqolah (Toko Kelontong).

“Kami fokus pada kualitas dan kontinuitas
pasokan. Tempe ini bukan sekadar produk, tetapi
2bagian dari tanggung jawab kami terhadap
kesehatan santri,” ujar Ustadz Abdul Munir,
pemimpin Departemen Usaha yang menjadi
motor penggerak program ini. Perjalanan menuju swasembada ini tentu tidak lepas dari tantangan. Persaingan dengan produk luar dan tuntutan menjaga kualitas menjadi dua tekanan utama. Namun tim produksi telah menyiapkan strategi: seleksi bahan baku yang lebih ketat, optimalisasi proses produksi, serta komitmen menjaga standar agar tempe yang dihasilkan memiliki nilai saing nyata di pasaran. Proyek ini juga menandai awal ekspansi yang lebih ambisius. Rencana perluasan pasar ke masyarakat sekitar dan pesantren cabang
seperti DN8 sudah mulai digodok dengan
mengandalkan strategi harga kompetitif dan
kualitas yang lebih baik. Jika terealisasi, pesantren akan semakin kuat sebagai lembaga pendidikan yang mampu menghidupi dirinya sendiri sambil memberi teladan bagi institusi serupa.

Pabrik Tempe Darunnajah bukan sekadar
fasilitas produksi baru. Ini adalah bukti bahwa
pesantren dapat berdiri tegak sebagai institusi
yang mandiri, produktif, dan strategis dalam
mengelola potensi internalnya. Dari sepotong
tempe yang diproduksi setiap hari, lahir harapan besar: kemandirian yang tumbuh dari kerja keras, keberanian memulai, dan komitmen menjaga kualitas untuk masa depan yang lebih baik.

Pendaftaran Santri Baru