Jumat sore, setelah salat Jumat dan makan siang, suasana berubah total.
Tidak ada bel. Tidak ada instruksi. Tidak ada jadwal yang menempel di dinding asrama memerintahkan mereka harus ke mana. Dan justru di momen itulah, kalau kita mau jujur, kita bisa melihat siapa sebenarnya anak-anak ini.
Ada yang langsung berlari ke lapangan. Bukan karena disuruh, bukan karena ada penilaian, tapi karena memang kakinya sudah gatal sejak pagi. Ada yang mengambil jalan berbeda — menuju perpustakaan, mencari buku yang kemarin belum selesai dibaca. Ada yang duduk di tepi danau, memancing dalam diam, dan entah bagaimana terlihat lebih dewasa dari usianya.
Kita sering bertanya soal kurikulum. Soal prestasi. Soal fasilitas. Tapi jarang sekali kita bertanya: apa yang dilakukan anak kita ketika tidak ada yang mengawasi?
Kenapa waktu tanpa jadwal justru yang paling penting?
Di sebuah pesantren yang berdiri sejak lebih dari tiga dekade lalu, waktu luang bukan sesuatu yang ditakuti. Tidak ada kekhawatiran bahwa santri akan membuka media sosial berjam-jam atau tenggelam dalam game online. Ponsel memang tidak ada di tangan mereka. Dan anehnya, tidak ada yang mengeluh.
Yang terjadi justru sebaliknya.
Jumat sore menjadi semacam pesta kecil yang tidak pernah diumumkan. Anak-anak menyebar ke berbagai sudut — ke kebun buah untuk memetik jambu yang hampir matang, ke studio musik untuk mencoba lagu baru yang akornya belum sempurna, atau sekadar duduk bergerombol di bawah pohon sambil mengobrol tentang hal-hal yang hanya lucu bagi mereka.
Tidak ada yang mengatur. Mereka memilih sendiri.
Bagaimana hobi dan persahabatan tumbuh dari waktu kosong?
Seorang santri pernah bercerita bahwa hobi memancingnya dimulai bukan dari ajakan siapa pun. Hari libur pertamanya, dia berjalan sendiri menyusuri jalan setapak, menemukan danau, dan duduk di sana sampai azan Asar. Minggu berikutnya dia kembali, kali ini membawa teman. Minggu berikutnya lagi, mereka sudah jadi empat orang. Sekarang, kelompok kecil itu rutin memancing setiap Jumat sore. Mereka bahkan punya aturan tidak tertulis — siapa yang dapat ikan paling besar, dia yang harus menceritakan kisah paling lucu malam itu di asrama.
Tidak ada guru yang merancang itu. Tidak ada program yang menjadwalkan itu.
Itu tumbuh sendiri, dari waktu kosong yang dipercayakan kepada mereka.
Kenapa anak-anak ini jarang bilang bosan?
Kita hidup di zaman yang aneh. Anak-anak punya lebih banyak hiburan dari generasi mana pun sebelumnya, tapi justru lebih sering bilang tidak ada yang bisa dikerjakan. Layar menyala sepanjang hari, tapi percakapan bermakna makin jarang.
Mungkin bukan hiburannya yang kurang. Mungkin yang kurang adalah ruang untuk tidak dihibur.
Di atas bukit itu, ruang seperti itu ada. Lingkungan hijau yang mengitari area pesantren bukan sekadar latar belakang — dia menjadi undangan. Udara pagi yang dingin membuat anak-anak keluar kamar lebih awal dari yang mereka sendiri sangka. Jalan setapak di antara pepohonan menjadi rute jogging dadakan. Lapangan yang luas menjadi arena pertandingan yang aturannya dibuat sendiri oleh pemainnya.
Ada yang menulis. Ada yang menggambar. Ada yang cuma duduk.
Dan cuma duduk itu, percayalah, bukan kemalasan. Itu adalah sesuatu yang banyak orang dewasa sudah lupa cara melakukannya — hadir sepenuhnya di satu tempat, tanpa perlu melakukan apa-apa, tanpa merasa bersalah karena tidak produktif.
Apa yang terjadi di hari libur nasional?
Hari libur nasional punya ceritanya sendiri. Pagi tetap dimulai dengan ibadah. Setelah itu, mereka bebas. Benar-benar bebas.
Ada yang mengadakan turnamen futsal antar kamar — lengkap dengan wasit dadakan yang keputusannya selalu diprotes. Ada yang berkumpul di taman bermain, bukan karena mereka masih kecil, tapi karena ternyata ayunan tetap menyenangkan di usia berapa pun. Ada yang pergi ke kebun, bukan untuk berkebun dalam arti serius, tapi untuk mencari mangga yang jatuh dan masih layak dimakan.
Dan di sore harinya, ketika matahari mulai turun di balik bukit, biasanya muncul lingkaran-lingkaran kecil obrolan. Tentang rumah. Tentang cita-cita. Tentang hal-hal yang tidak pernah mereka bicarakan di jam pelajaran. Persahabatan yang terbentuk di momen-momen seperti ini punya tekstur yang berbeda — lebih jujur, lebih dalam, karena tidak ada notifikasi yang memotong pembicaraan.
Apakah anak kita tahu cara mengisi hidupnya sendiri?
Kita sebagai orang tua kadang terlalu fokus pada apa yang anak pelajari di dalam kelas. Nilai berapa. Hafalan sampai mana. Semua itu penting. Tapi ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan kepada diri sendiri.
Apakah anak kita tahu cara mengisi hidupnya sendiri ketika tidak ada yang memberi instruksi?
Karena suatu hari nanti, ijazah sudah di tangan, gelar sudah disandang, dan tidak akan ada lagi guru yang memberi jadwal. Yang tersisa hanya mereka dan waktu. Dan anak-anak yang sejak remaja sudah terbiasa mengisi waktu luang dengan hal bermakna — tanpa perlu layar, tanpa perlu validasi, tanpa perlu diperintah — mereka akan baik-baik saja.
Di Darunnajah 2 Cipining, hal itu bukan teori. Itu terjadi setiap Jumat sore. Setiap hari libur. Setiap momen ketika bel tidak berbunyi dan pintu asrama terbuka lebar.
Waktu kosong di pesantren bukan waktu yang terbuang. Justru di sanalah kita bisa melihat siapa anak kita sebenarnya — ketika mereka bebas memilih, dan ternyata memilih hal-hal yang membuat kita diam-diam tersenyum bangga.
Kalau kita ingin tahu lebih banyak tentang keseharian santri, kita bisa memulai percakapan lewat wa.me/62812111180. Kadang satu obrolan singkat bisa menjawab lebih banyak dari sepuluh halaman brosur.