Indonesia dengan segala elemen kemajemukannya ternyata memiliki banyak Pahlawan Nasional berlatar belakang santri. Namun tak banyak orang mengetahui mereka. Hal tersebut karena sosialisasi pendidikan yang tak merata. Peran pejuang muslim dalam membangun Indonesia sangat besar, baik sebelum atau pasca kemerdekaan. Berikut beberapa yang dapat kami rangkum dari sekian banyak pahlawan muslim yang telah berjasa besar terhadap bangsa.

  1. KH Hasyim Asyari

Pahlawan nasional dari kalangan pesantren yang pertama adalah KH Hasyim Asyari. Beliau adalah pendiri dari Nahdatul Ulama (NU) yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tanggal 17 November 1964 berkat jasanya yang berperan besar melawan penjajah dari Surabaya. Beliau dikenal dengan resolusi jihadnya pada tanggal 22 Oktober 1945. Selain menjadi pendiri NU, KH Hasyim Asyari juga mendirikan pondok pesantren Tebu Ireng, Jombang pada tahun 1899.

2.KH Idham Chalid

Tokoh NU lain yang bergelar pahlawan nasional yakni KH Idham Chalid. Idham merupakan sosok yang sulit dilepaskan dari dunia pesantren. Meski sempat mencecap ilmu di Sekolah Rakyat (SR), Idham memilih melanjutkan pendidikan di Madrasah Ar Rasyidiyyah.

Pria kelahiran Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921, ini kemudian melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Lulus dari Gontor pada 1943, Idham menempuh pendidikan di Jakarta.

Beliau kemudian bergabung dengan Partai NU dan memulai karir melalui jalur GP Anshor. Kariernya di NU cukup cemerlang. Idham pernah mengampu sejumlah jabatan di partai itu, yang kemudian menjadi Wakil Perdana Menteri Kabinet Ali Sastroadjojo jilid II, meski hanya berjalan selama satu tahun.

Idham juga memimpin Partai NU hingga mendulang sukses pada Pemilu 1971. Rezim Soeharto kemudian membuat penyederhanaan partai politik menjadi tiga yaitu Golkar, PDI, dan PPP. NU tergabung dalam PPP dan Idham kembali terpilih sebagai Ketua Umum.

Usai pemilu itu, Idham ditunjuk menjadi Ketua MPR/DPR hingga tahun 1977. Dia lalu dipercaya kembali menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) hingga 1983.

Gelar Pahlawan Nasional disematkan kepada KH Idham Chalid bersama enam tokoh lainnya berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 113/TK/Tahun 2011 tanggal 7 November 2011. Idham Chalid menjadi putra Banjar ketiga yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional setelah Hasan Basry dan Pangeran Antasari.

  1. KH Ahmad Dahlan

Pahlawan nasional dari kalangan pesantren yang kedua adalah pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Kyai yang lahir di Yogyakarta ini sangat berjasa dalam membangkitkan semangat umat islam dalam menyadari statusnya sebagai bangsa yang terjajah. Dengan gagasan Muhammadiyahnya tersebut, kyai yang juga dikenal dengan Muhammad Darwisy ini ditetapkan sebagai pahlawan Nasional pada tahun 1961.

  1. KH Wahid Hasyim

Pahlawan nasional dari kalangan pesantren selanjutnya K.H. Abdul Wahid Hasjim. Beliau adalah ayah dari presiden Indonesia yang ke-4 yaitu K.H. Abdurrahmann Wahid. K.H. Abdul Wahid Hasjim merupakan salah satu anggota Badan Penyidik Usaha- Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Beliau berasal dari Pondok Pesantren Tebuireng. Beliau juga yang mempelopori masuknya ilmu pengetahuan ke dunia pesantren. Dari jasa-jasanya tersebut beliau ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tanggal 17 November 1960.

  1. KH Zainal Mustafa

KH Zainal Mustafa adalah salah satu pahlawan Indonesia yang secara terang-terangan dalam melawan para penjajah. Karena tindakan-tindakannya yang bersebrangan dengan kolonial Belanda. Tak jarang Kyai yang lahir di Tasikmalaya ini diturunkan dari mimbar oleh para Kyai yang pro dengan Belanda. Ketika Belanda lengser dan diganti oleh Jepang, K.H. Zainal Mustafa tetap menolak kehadiran Jepang di Indonesia. Menurutnya Jepang lebih berbahaya daripada Belanda, oleh karena itu dia dan santrinya mengadakan perang dengan Jepang. Berkat jasanya membangkitkan semangat para santrinya untuk jihad membela negara, K.H. Zainal Mustafa dianugerahi sebagai pahlawan nasional pada tahun 1972.

  1. Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro adalah anak sulung dari sultan Hamengkubuwana III yang lahir pada 11 November 1785. Beliau adalah pemimpin perang Jawa yang tercatat memakan korban paling banyak di Indonesia. Menggunakan taktik perang Gerilya yang terkenal dan ditakuti oleh Belanda. Belanda kewalahan dalam melawan taktik Pangeran Diponegoro yang keluar masuk hutan dan muncul dimalam hari untuk melakukan serangan secara tiba-tiba. Banyak uang yang dikeluarkan Belanda pada saat itu untuk menangkap pangeran Dipenogoro namun tidak membuahkan hasil. Akhirnya Belanda menangkap pangeran Diponegoro dengan cara licik yaitu dengan mengajak berunding namun perundingan gagal. Pada saat itulah pangeran Diponegoro akhirnya ditangkap oleh Belanda. Pada tahun 1973 Beliau diakui sebagai pahlawan nasional berkat jasa-jasanya. Untuk mengenang jasa-jasanya tersebut, banyak kota di Indonesia yang menamai jalan, stadion, universitas dengan nama Diponegoro.

7.KHR As’ad Syamsul Arifin

Pada tahun 2016 lalu, Presiden Jokowi melalui Keputusan Presiden RI Nomor 90/TK/Tahun 2016 tanggal 3 November menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada salah satu tokoh dari pesantren,KHR As’ad Syamsul Arifin. Ulama berdarah Madura yang lahir di Mekah ini berperan besar terhadap perjuangan berdirinya Republik Indonesia.

KHR As’ad kecil merupakan santri di Banyuanyar di bawah asuhan Kiai Abdul Majid dan KH Abdul Hamid. Saat usia 16 tahun, As’ad dikirim ayahnya belajar ke Mekah, Arab Saudi. Pada 1924, As’ad kembali ke Tanah Air. Meski lama belajar di Mekah, As’ad masih saja merasa ilmu yang dia kuasai masih sangat kurang. Dia memutuskan untuk menimba ilmu di sejumlah pesantren di Tanah Air.

Dibawah asuhan KH Hasyim Asy’ari,  As’ad tumbuh di lingkungan santri pejuang. Dia berteman baik dengan para tokoh perjuangan seperti KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, KH Abbas Buntet, KH Wahid Hasyim, dan beberapa lainnya.

Inilah yang dapat kami rangkum dari sekian banyak pejuang muslim Indonesia. Para pejuang di seluruh penjuru tanah air, bersatu bahu-membahu. Mereka merajut ukhuwah dan memupuk semangat perjuangan tanpa kenal menyerah. Sehingga tak sedikit diantara para pejuang tersebut yang memekikkan semangat juang dengan ruh keislaman yang membara di dalam dada. Sebagian pahlawan yang telah gugur dalam melakukan perjuangan tersebut, mengartikan bahwa perjuangan merebut kemerdekaan adalah bagian dari jihad di jalan Allah.

Sebagai generasi penerus bangsa, kita wajib bangga dan senantiasa mengingat jasa pahlawan yang telah merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Bangsa yang besar ialah bangsa yang paham akan hakikat penghargaan kepada para pejuang. Para pahlawan tersebut telah membantu kita hari ini menghirup udara segar, yang dengannya kita bisa mendapatkan kebebasan pula utuk beribadah kepada Allah Ta’ala.

Mereka, para pejuang bangsa ini telah melakukan suatu amal kebaikan yang semoga Allah Ta’ala menerima amal ibadah mereka. Bagaimana tidak? Sebab mereka telah menyatukan seluruh elemen bangsa ini baik secara ekonomi, politik, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat negeri ini.