Sabtu, 4 April 2026, ribuan santri dan para guru Pesantren Darunnajah 2 Cipining berdiri tegak bersama dalam upacara perdana pasca libur Idul Fitri 1447 H. Tanpa masa transisi, upacara pembukaan kegiatan sekaligus halal bi halal digelar serentak di tiga zona—pertanda tegas bahwa roda pendidikan pesantren tidak mengenal waktu senggang.
Tiga upacara berlangsung bersamaan di lokasi berbeda: di Lapangan Horizon untuk santri putra dengan pembicara Ust. Zaenal Mutakin, S.Pd. (Wakil Direktur TMI); di Masjid Jami untuk santriwati dengan pembicara Ust. Imam Ghozali, S.Pd. (Direktur TMI); serta di halaman Gedung Zaid khusus untuk 252 santri kelas 6 TMI dalam Upacara Pembukaan Asesmen Madrasah, dengan pembicara Kepala Satuan Pendidikan Muadalah (SPM), Ust. Asmari Ichsan, M.Kom.
Kehadiran santri pada upacara ini hampir lengkap. Dari total 1.645 santri yang terdaftar, hanya segelintir yang belum tiba karena terkendala transportasi dan kondisi kesehatan. Rincian populasi santri pesantren:
- Asrama Putra: 712 santri
- Asrama Putri: 742 santri
- Non Asrama Putra: 74 santri
- Non Asrama Putri: 117 santri
Kedatangan santri berlangsung bertahap. Pengurus OSDC dan santri nihai tiba pada Rabu, 1 April, disusul santri anggota pada Jumat, 3 April. Keesokan harinya, mereka langsung mengikuti upacara bersama para guru dan aktif belajar di kelas.
Dalam sambutannya, Ust. Zaenal Mutakin mengingatkan pentingnya disiplin waktu dengan mengisahkan budaya kereta Shinkansen di Jepang yang meminta maaf atas keterlambatan satu menit. “Menjadi orang besar bukan hanya yang melakukan hal besar, tetapi yang setia menjaga hal-hal kecil—termasuk satu menit,” tuturnya di hadapan para santri putra.

Urgensi ini beralasan kuat. Masa efektif belajar semester dua hanya tersisa dua bulan, dengan ujian lisan dijadwalkan mulai 6 Juni 2026. Sejumlah agenda besar menanti sepanjang April:
- Asesmen Madrasah kelas 6 (4–10 April)
- Tes Kemampuan Akademik (TKA) kelas 3 (6–9 April)
- Prakerin kelas 5 SMK (13 April–13 Mei)
Upacara ini sekaligus menjadi momen halal bi halal—saling bermaaf-maafan antara guru dan santri, diakhiri bersalaman hangat. Para pembicara mendorong setiap santri menetapkan target konkret: kelas 6 meraih beasiswa luar negeri, seluruh santri meraih predikat mumtaz, dan santri tahfidz menuntaskan hafalan sesuai jadwal.
Kembali ke pesantren bukan sekadar berpindah tempat, melainkan perpindahan jiwa dari mode istirahat menuju mode perjuangan. Semboyan pesantren menggema kembali: Udkhuluu fi Darunnajah kaafah ruuhan wa jisman—masuklah sepenuhnya, jiwa dan raga.

