Untuk Apa Aku Hidup?
Untuk Apa Aku Terlahir Di Dunia?
Kenapa Aku Diciptakan?
Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, kita berlindung dari keburukan amal-amal kita, dan kejelekan perbuatan-perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad shallallahul ’alaihi wassalam adalah hamba dan Rasul-Nya.
Saudaraku dan saudariku semoga Allah merahmati kita!
Pada kesempatan kali ini kita akan mempelajari tentang tema “Kenapa kau diciptakan Allah”. Penulis akan mengetengahkan judul ini dalam beberapa pokok pembahasan, antara lain adalah sebagai berikut:
- Allah yang menentukan tujuan hidup
- Pentingnya mengetahui tujuan hidup
- Apakah tujuan kita diciptakan
- Pengertian ibadah
- Syarat-syarat ibadah
- Bagaimana keadaan kita saat beribadah
Baiklah sekarang kita akan mempelajari dan memahami satu demi satu pokok-pokok bahasan di atas.
- Allah yang menentukan tujuan hidup
Allah yang menciptakan kita, yang menjadikan kita ada, dan yang menjadikan kita terlahir ke dunia. Kita tidak bisa tercipta, kalau Allah tidak menhendaki kita tercipta, dan kita tidak terlahir, kalau Allah tidak menghendaki kita lahir. Maka sebagaimana yang menentukan kita hidup dan bernafas di dunia ini adalah Allah, tentu Allah pula yang mengariskan tujuan, menentukan maksud, dan menetapkan arah kehidupan.
- Pentingnya mengetahui tujuan hidup
Sungguh mengetahui tujuan kenapa Allah menciptakan hamba sangat penting sekali, sungguh memahami maksud kenapa Allah mejadikan kita ada di dunia sangat urgen, sungguh mempelajari arah kehidupan sangat singnifikan, dan sungguh mengamalkan tujuan hidup di jagad raya ini sangat berguna, berfaidah dan bermanfaat. Mengetahui, mempelajari, memahami dan mengamalkan tujuan hidup sangat penting karena:
- Allah mengutus para Rasul adalah untuk menjadikan manusia merealisasikan tujuan hidup
- Allah mewahyukan kitab-kitab kepada para Rasul adalah untuk melaksanakan tujuan hidup
- Allah menciptakan dunia dan akhirat adalah untuk dijadikan sebagai tempat untuk menerapkan tujuan hidup
- Allah menetapkan hari Qiamat terjadi adalah untuk memberi balasan yang baik kepada orang-orang yang melaksankan tujuan hidup dan mengadzab orang-orang berpaling dari tujuan hidup
- Kebahagian itu ditentukan oleh penerapan tujuan hidup, dan kesengsaraan itu ditentukan oleh kelalaian dan keberpalingan dari tujuan hidup
Dan masih banyak lagi alasan, sebab, dan bukti bahwa tujuan itu perlu diketahu dan harus diamalkan.
- Apakah tujuan kita diciptakan
Kita sudah mengetahui bahwa Allah saja yang menetapkan tujuan hidup manusia, tetapi apakah tujuan itu? Kita tidak diciptakan oleh Allah hanya untuk berleha-leha, bersenang-senang, berfoya-foya, dan bermain-main di dunia. Kita tidak diciptakan hanya untuk makan, memuaskan nafsu birahi, memenuhi kebutuhan jasmani dan melupakan kebutuhan rohani, tetapi Allah menciptakan kita untuk melaksanakan tujuan suci.
Bagiamana kita mengetahui tujuan hidup yang ditentukan oleh Allah, padahal kita bukan nabi dan bukan rasul yang menerima wahyu, sehingga kita bisa seenaknya menentukan tujuan hidup, padahal kita tidak bisa berbicara dan berbincang-bincang dengan Allah, sehingga kita bisa bertanya kepada-Nya kenapa kita diciptakan. Oleh karena itu, kita hanya dapat mengetahui tujuan hidup dengan bertanya kepada Rasul yang mendapatkan wahyu dari Allah, tapi sayang Rasul sudah tidak ada, lalu apa yang harus kita kerjakan? Memang para rasul telah meninggal tapi peninggalan rasul tidak ikut meninggal; peninggalan Rasul itu adalah Al-Quran dan Sunnah.
Jika kita membaca Al Qur’an dan memahaminya maka kita akan mengetahui tujuan hidup. Sebelum kita mengetahui tujuan penciptaan hamba, ada tidak hal yang mesti dipahami, tiga hal itu adalah:
a) Allah tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan main-main
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لاعِبِينَ .مَا خَلَقْنَاهُمَا إِلاَّ بِالْحَقِّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَعْلَمُونَ
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptkan keduanya melainkan dengan kebenaran. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Qs. Ad-Dukhan[44]: 38-39)
Allah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya termasuk manusia untuk menegakkan keadilan dan untuk menegakkan kebenaran. Allah tidak menciptkan langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya untuk dijadikan sebagai bahan permainan, penelantaran, dan penindasan. Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini berkata, “Allah memberitahukan tentang keadilan dan pensucian diri-Nya dari permainan, kesia-siaan dan kebatilan.”[1]
Allah tidak main-main dalam menciptakan manusia, maka Allah memerintahkan mereka untuk beribadah, Allah tidak bergurau dalam menciptakan manusia, maka Allah memerintahkan mereka untuk mengerjakan ibadah, memberikan pahala yang baik kepada orang yang beribadah, dan menghukum dengan hukuman yang berat bagi orang yang tidak mau beribadah. Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di berkata ketika menafsirkan ayat ini, “Allah mengabarkan tentang kesempurnaan kekuasan-Nya, dan kesempurnaan kebijaksanaan-Nya. Bahwa Allah tidak menciptakan langit dan bumi dengan main-main, sia-sia, dan hampa tanpa berguna. Allah menciptakan keduanya adalah dengan kebenaran, yaitu penciptaan itu sendiri adalah bentuk kebenaran, dan penciptaan itu sendiri mengandung kebenaran. Dia menciptakan keduanya adalah untuk menyembah-Nya semata, tidak ada sekutu baginya, Dia menciptakan keduanya adalah untuk memberikan perintah kepada hamba-hamba, untuk melarang hamba-hamba, dan untuk memberikan hukuman kepada mereka.”[2]
Kebanyakan manusia tidak mengerti bahwa Allah menciptakan segala sesuatu untuk suatu tujuan yang benar dan maksud yang tepat, karena mereka tenggelam dalam kebodohan, terlelap dalam kejahilan, dan terjebak dalam perangkap hawa nafsu dan setan. Abdullah Yusuf Ali berkata, “All creation is for a wise and just purpose. But men usually do not realise or understand itu, because they are steeped in their own ignorance, folly, or passions. Semua penciptaan itu adalah untuk tujuan yang bijak dan tujuan yang adil. Akan tetapi manusia biasa tidak menyadari dan memahaminya, karena mereka tenggelam dalam kebodohan, kedunguan, dan hawa nafsu. [3]
- Allah tiadak menciptkan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan batil
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاء وَالأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلاً ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan batil. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (Qs. Shaad[38]: 27)
Ibnu Katsir berkata, “Allah mengabarkan bahwa Dia tidak menciptakan mereka dengan sia-sia, Dia menciptakan mereka untuk beribadah dan mentauhidkan-Nya, kemudian Dia akan mengumpulkan mereka pada Hari Pengumpulan, orang yang taat akan diberi pahala yang baik, dan orang yang kafir akan diadzab.”[4] Kebatilan itu adalah penciptaan tanpa tujuan, penciptaan tanpa pengumpulan, penciptaan tanpa pembalasan, tapi Allah Maha Suci dari melakukan sesuatu yang batil itu.
Abdurrahman bin as-Sa’di berkata, “Sesungguhnya Allah tidak menciptakan keduanya (langit dan bumi) dengan batil, artinya adalah sia-sia dan main-main, tanpa faidah dan tanpa maslahah.”[5] Kebatilan itu adalah penciptaan tanpa ada manfaat di balik penciptaan, dan penciptaan tanpa ada kepentingan. Allah menciptakan, karena penciptaan itu memberikan manfaat, dan Allah menciptakan karena untuk menebarkan kebaikan.
b) Allah menciptkan kita untuk memberikan balasan atas semua yang kita kerjakan
Allah berfirman:
وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ بِالْحَقِّ وَلِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ
“Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak didzalimi.” (Qs. Al-Jaatsiyah[45]: 22)
Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di berkata, “Allah menciptakan langit dan bumi dengan bijaksan, supaya hanya Dia yang disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya, kemudian Dia akan menghisab orang-orang yang Dia perintahkan untuk beribadah, memberikan kepada mereka (yang melaksanakan ibadah) kenikmatan lahir dan kenikmatan batin, maka apakah mereka besyukur kepada Allah, apakah mereka melaksakan perintah? Ataukah mereka ingkar, hingga mereka berhak untuk diberi balasan seperti balasan yang diberikan kepada orang-orang yang kafir?”[6] Ketika kita beribadah berarti kita sudah melaksanakan tujuan hidup, ketika kita sudah melaksanakan tujuan hidup berarti kita sudah mengusahakan diri untuk mendapatkan kenikmatan jasmani dan kenikmatan rohani. Ingatlah kenikmatan jasmani dan kesenangan rohani itu adalah balasan dari pelaksanaan ibadah.
Allah memerintahkan manusia untuk menetapkan tujuan hidup dan melaksanakan tujuan hidup, agar mereka bisa maju dan bisa berkembang. Perekembangan yang pesat dan kemajuan yang tak terkalahkan adalah perekembangan dan kemajuan yang dicapai dengan pelaksanaan ibadah. Abdullah Yusuf Ali berkata, “The government of the world is so ordered that each soul gets every chance for its full development, and it reaps the fruit of all its activities.” Pemerintahan dunia diadakan adalah agar setiap jiwa mempunyai kesempatan meraih kemajuan yang sempurna, dan memetik buah dari semua aktivitas yang dikerjakan. [7]
- Allah menciptkan kita untuk beribadah
Karena Allah tidak main-main menciptakan kita, karena Allah menciptakan kita dengan kebenaran, karena Allah meciptakan kita dengan keadilan, dan Allah menciptakan kita bukan dengan kebatilan, maka Allah menetapkan tujuan kita hidup adalah untuk beribadah kepada-Nya saja. Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Qs. Adz-Dzaariyat[51): 56)
Ibnu Katsir berkata, “Ayat ini maknanya adalah sesungguhnya Allah menciptakan hamba-hamba untuk beribadah kepadanya semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Barangsiapa yang mentaati Allah maka Allah akan memberikannya kepadanya balasan yang sempurna, dan barangsiapa yang bermaksiat kepada-Nya, maka Dia akan mengadzab-Nya dengan adzab yang sangat menyiksa.”[8] Ketaatan adalah ibadah, dan ibadah adalah sumber faidah. Tidak melaksanakan ibadah adalah kemaksiatan, dan kemaksiatan adalah sumber bencana; bencana di dunia dan bencana di akhirat.
Kandungan ibadah itu adalah pengenalan tentang Allah, kecintaan kepada Allah, taubat kepada Allah, dan berelepas diri dari segala sesutu selain Allah. Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di berkata, “Tujuan penciptaan jin dan manusia adalah untuk beribadah, dan pengutusan semua para rasul adalah untuk menyeru (manusia) supaya beribadah, peribadahan kepada Allah yang mengandung pengetahuan tentang Allah, cinta kepada Allah, kembali kepada Allah, menghadap Allah, dan berpaling dari segala sesuatu selain Allah.”[9]
Barangsiapa yang ingin mendapatkan semua kebaikan, maka hendaknya dia sesuaikan keinginan dia dengan keinginan Allah, dan keinginan Allah adalah penyembahan yang diperuntukkan kepada Allah. Abdullah Yusuf Ali berkata, “Allah is source and centre of all power and all goodness, and our progress depends upon our putting ourselves into accord with His will. This is his service.” Allah adalah sumber semua kekuatan dan semua kebaikan, kemajuan kita bergantung kepada penyesuaian diri kita dengan kehendak Allah, dan kehendak Allah adalah kita mengabdi kepada-Nya. [10]
- Pengertian ibadah
Setelah kita mengetahui tujuan hidup adalah untuk beribadah, maka kita harus memahami defenisi ibadah, sehingga kita dapat melaksanakan ibadah dengan pengertian dan pemahaman yang benar. Karena ibadah bukan sekedar kata-kata tanpa makna dan tanpa pengertian. Ibadah adalah sebuah kata yang maknanya sangat dalam dan artinya sangat penting.
a. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Ibadah artinya adalah ketaatan kepada Allah; dengan menjalakan perintah yang disampaikan melalalui perantara lisan lisan para Rasul.”[11] Ibnu Katsir juga berkata, “Ibadah kepada Allah artinya adalah taat kepada-Nya dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan.”[12] Sudahkah kita menjalankan perintah Allah, jika sudah berarti kita dikatakan sebagai orang yang beribadah kepada Allah, sudahkah kita menjauhi lararangan Allah, jika sudah berarti kita dikatakan sebagai orang yang beribadah kepada Allah.
b. Syaikhul Isama Ibnu Taimiyah juga berakata, “Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah; baik perkataan dan perbuatan yang lahir maupun yang batin, dan berlepas diri dari kesyirikan dan orang-orang yang berbuat kesyirikan.”[13] Sudahkah kata-kata kita diridhai oleh Allah? sudahkah perbuatan-perbuatan kita diridhai oleh Allah? jika sudah berarti kita dikatakan orang yang menjalankan tujuan hidup.
c. Ibnul Qoyyim berkata, “Poros ibadah itu berada pada lima belas kaidah, barangsiapa yang menyempurnakan kaidah-kaidah itu, maka dia telah menyempurnakan tingkatan-tingkatan ibadah, maksudnya adalah bahwa ibadah itu terbagi menjadi ibadah hati, ibadah lisan dan ibadah anggota badan. Hukum ibadah itu ada lima; wajib, mustahab, haram, makruh, dan mubah.”[14]
- Syarat-syarat ibadah
Ibadah tidak diterima tanpa memenuhi syarat-syaratnya. Ibadah tidak syah tanpa melaksanakan syarat-syaratnya. Ibadah menjadi sia-sia tanpa mengerjakan syarat-syaratnya. Syarat-syarat ibadah adalah:
a) Kemauan yang benar
Kemauan yang benar adalah tidak malas, tidak menunda-nunda, dan bersungguh-sungguh mengerahkan tenaga untuk menyesuaikan perkataan dengan perbuatan.[15] Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ . كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman kenapa kamu tidak mengerjakan apa yang kamu katakan, sungguh amat besar kemurkaan Allah kepada kalian; kalian mengatakan tapi tidak mengerjakan.” (Qs. Ash-Shaf[61]: 2-3)
b) Ikhlas
Ikhlas artinya adalah hendaknya semua perkataan dan perbuatan yang lahir maupun yang batin dikerjakan dengan maksud untuk meraih keridhaan Allah.[16] Allah berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh melainkan supaya mereka beribadah kepada Allah dengan ikhlas dengan memurnikan ketataan kepada-Nya dalam beragama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat; dan demikianlah agama yang lurus.” (Qs. Al-Bayyinah[98]: 5)
c) Sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah
Allah berfirman:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Katakanlah: “Jika kamu(benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Imran[3]: 31)
- Keadaan kita dalam beribadah
Ibadah dikatakan sebagai ibadah kalau ketika mengerjakannya diiringi dengan dengan dua hal, yaitu rasa cinta dan rasa harap. Cinta kepada Allah Tuhan Yang diibadahi dan cinta kepada ibadah yang dilaksanakan dan cinta kepada pahala yang disedikan buat orang-orang yang beribadah. Tanpa cinta ibadah tidak akan berjalan mulus dan tanpa rasa harap ibadah tidak akan terlaksana dengan baik. Cinta dan harap adalah ibarat dua buah sayap burung, apabila salah satu sayap tidak ada maka burung itu tidak akan bisa terbang, demikian ibadah tidak akan berjalan dengan baik tanpa cinta dan tanpa harap.
a) Cinta
Allah berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبًّا لِّلّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (Qs. Al-Baqarah[2]: 165)
Ibnu Katsir berkata, “Karena mereka (orang-orang beriman) cinta kepada Allah, karena mereka benar-benar mengenal Allah, karena mereka benar-benar tunduk kepada Allah, dan karena mereka mentauhidkan Allah, maka mereka tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun, akan tetapi mereka hanya beribadah kepada Allah semata, mereka hanya bertawakal kepada Allah, dan mereka hanya mengadukan semua urusan mereka kepada Allah.”[17] Supaya anda bisa beribadah dengan ikhlas, agar ibadah itu dapat menghantarkan anda ke dalam surga maka cintailah ibadah. Anda tidak akan bisa beribadah dengan baik keculai dengan cara mencintai Allah, mentauhidkan Allah, tunduk kepada Allah, dan benar-benar mengenal nama-nama, sifat-sifat dan dzat Allah melalaui Al Qur’an dan Assunnah.
Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di berkata, “ Ini adalah pujian buat orang-orang yang beriman dengan firman Allah “Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah”. Cinta kepada Allah adalah sumber kebaikan, kebahagiaan, dan keberhasilan seorang hamba.”[18] Ketika ibadah dijalankan dengan cinta kepada pencipta ibadah dan kepada ritual ibadah, maka itu adalah sumber kebaikan.
b) Harap dan takut
Allah berfirman:
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
“Maka Kami memperkenankan do’anya dan Kami anugrahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusu’ kepada Kami.” (Qs. Al-Anbiya’[21]: 90)
Ats-Tsauri berkata, “Berharap apa yang disisi kami (keridhaan Allah, surga dan pahala), dan takut terhadap apa yang disisi kami (siksaan dan neraka).”[19] Para nabi adalah teladan kita dalam beribadah kepada Allah, mereka beribadah kepada Allah dengan mengharapkan rahmat dan kebaikan yang ada di sisi Allah, dan mereka beribadah dengan takut kepada Allah. Karena melalaikan ibadah, tidak sungguh-sungguh dalam beribadah dan tidak maksimal dalam beribadah adalah penyebab hampa dalam kehidupan. Maka, marilah kita mencontoh cara dan metode mereka dalam beribadah kepada Allah.
Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di berkata, “Mereka (para nabi) memohon perkara-perkara yang disukai berupa kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan mereka berlindung kepada Kami dari perkara-perkara yang ditakuti, yaitu bahaya dunia dan bahaya akhirat. Mereka berharap tidak lalai dan mereka takut tidak berani.”[20]
Sampai disini dulu apa yang bisa saya sampaikan, apabila ada kesalahan itu datangnya dari diri saya sendiri dan apabila ada kebenaran itu datangnya dari Allah semata. “Ya Allah jadikanlah kami orang yang mengetahui tujuan hidup kami, jadikanlah kami orang yang menjalankan tujuan hidup kami, jadikanlah kami orang yang beribadah kepadamu, jadikanlah kami orang yang beribadah kepadamu dengan ikhlas, sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah, jadikanlah kami beribadah kepadamu karena cinta kepada-Mu, karena berharap kebaikan yang ada disisi-Mu dan karena takut kepada-Mu dan takut terhadap adzab yang ada disisimu.”
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
“Maha suci Engkau Ya Allah, dan dengan memuji-Mu, saya bersaksi tidak ada yang berhak disembah keculai Engkau, saya memohon ampun kepada-Mu, dan saya bertaubat kepada-Mu”
(Adi Murwanto)
Daftar Pustaka:
- “Al-Qur’an dan Terjemahnya” DEPAG INDONESIA, Penerbit Mahkota Surabaya.
- “Al-Mishbah al-Munir fiii Tahdzibi Tafsiri Ibni Katsir”, al-Hafidz Imaduddin Abul Fida’ Ismail bin Katsir al-Quraisy ad-Dimasyqi, cet. Darus Salam Nisar Wattauzi’, th. 1990 M.
- “Taisiril Karimir Rahman fii Tafsiril Kalamil Manan”, Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, cet. Jamiyatut Turats al-Arabi.
- “Tafsir Ats-Tsauri”
- “The Meaning of Holy Qur’an”, Abdullah Yusuf Ali, cet. Kutub Khana Ishayatul Islam.
- “Fathul Majid Syarhu Kitabit Tauhid”, Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, cet. Darul Muayyid Riyadh.
- “Majmu’ul Fatawa”
- “’Alamus Sunnah al-Manshurah”, Syaikh Hafidz bin Ahmad Alu Hakami, cet. al-Maktabah at-Ta’awuni Lidda’wah wal-Irsyad wa Tauiyatul Jaliyat Nasim Riyadh.
- “Tafsir Ats-Tsauri”
[1] Lihat “Al-Mishbah al-Munir fiii Tahdzibi Tafsiri Ibni Katsir” hal. 44.
[2] Lihat “Taisiril Karimir Rahman fii Tafsiril Kalamil Manan” hal. 1089.
[3] Lihat “The Meaning of Holy Qur’an” hal. 1289.
[4] Lihat “Al-Mishbah al-Munir fiii Tahdzibi Tafsiri Ibni Katsir” hal. 1172.
[5] Lihat “Taisiril Karimir Rahman fii Tafsiril Kalamil Manan” hal. 998.
[6] Ibiid. Hal.1094.
[7] Lihat “The Meaning of Holy Qur’an” hal. 1298.
[8] Lihat “Al-Mishbah al-Munir fiii Tahdzibi Tafsiri Ibni Katsir” hal. 1320.
[9] Lihat “Taisiril Karimir Rahman fii Tafsiril Kalamil Manan” hal. 1144.
[10] Lihat “The Meaning of Holy Qur’an” hal. 1364.
[11] Lihat “Majmu’ul Fatawa” (III/93).
[12] Lihat “Fathul Majid Syarhu Kitabit Tauhid” hal. 41.
[13] Ibid (XI/149).
[14] Lihat “Madarikussalikin” (I/109).
[15] Lihat “’Alamus Sunnah al-Manshurah” hal. 10.
[16] Ibiid hal. 10.
[17] Lihat “Al-Mishbah al-Munir fiii Tahdzibi Tafsiri Ibni Katsir” hal. 122.
[18] Lihat “Taisiril Karimir Rahman fii Tafsiril Kalamil Manan” hal. 85.
[19] Lihat “Tafsir Ats-Tsauri” hal. 204.
[20] Lihat “Taisiril Karimir Rahman fii Tafsiril Kalamil Manan” hal. 732.