Ujian Semester Junjung Etika Pelajar

Sebagai seorang pelajar, sudah seharusnya menunjukkan sikap yang baik dan bijaksana. Salah satu indikasi yang dapat dilihat ialah saat ujian. Pada kondisi ini, mudah sekali para pelajar mencari jawaban dengan bertindak curang, seperti mencontek. Padahal tindakan seperti ini bukanlah cerminan dari sikap baik, apalagi jika itu dilakukan oleh pelajar yang notabene tengah menempa dirinya dengan pendidikan.

Ujian, bagi pelajar terkadang menjadi momok yang menjadikan frustasi, stress, dan tidak percaya diri. Maka jalan keluarnya adalah tindakan penyelamatan diri dengan cara yang tidak seharusnya. Apalagi jika kemudian dalam pengawasan, juga tidak menunjukkan kedisiplinan yang mencerminkan dunia pendidikan. Telak saja, jujur dalam ujian akan susah diupayakan.  

Di pesantren Darunnajah Cipining, berbagai antisipasi telah dilakukan untuk menjawab semua itu. Sebulan sebelum pelaksanaan ujian, milieu dan atmosfir ujian sudah mulai dibangun dengan menginformasikan secara berkala waktu pelaksanaan ujian. Kebijakannya adalah, pada setiap ruang kelas, ada informasi hitungan mundur hingga hari pelaksanaan ujian yang selalu di-up-date setiap hari oleh ketua kelas dan wali kelas.    

Sepekan sebelum ujian, panitia ujian telah mulai menghentikan semua aktivitas ekstrakurikuler dan menggantinya dengan belajar bersama, terpusat, terkontrol dan terbimbing oleh dewan guru di masjid. Belajar bersama ini dilakukan dalam 3 waktu setiap harinya, yaitu usai sholat Shubuh, Sholat Ashar, dan sholat Isya.

Dari kondisi inilah kemudian diharapkan terbangun kesadaran dalam diri santri untuk mempersiapkan ujian dengan baik. Cukupnya waktu belajar dibangun seiring dengan mempersiapkan mental menghadapi ujian. Juga telah dijadwalkan, pimpinan pesantren, kepala sekolah, dan perangkat pesantren lain memberikan wejangan, motivasi, dan pembekalan secara berkala.

Tidak hanya santri, korp dewan guru pun mendapat bimbingan dan pembekalan dari pimpinan pesantren dalam persiapannya membimbing dan mengawas ujian. “Apabila guru dan santri memiliki satu persepsi dan kondisi yang sama dalam menghadapi ujian, maka akan mudah terbangun kondisi yang kondusif dan representatif. Santri bisa belajar dengan baik sehingga mendapatkan prestasi yang diharapkan, tentunya sebagai gurunya, kita juga akan merasa puas dan merasa berhasil dalam mengajar” ungkap KH Jamhari Abdul Jalal, Lc di hadapan dewan guru pada suatu kesempatan. (Wardan/Billah)