Dalam lapisan masyarakat luas terutama di beberapa negara berkembang seperti halnya indonesia, malaysia, dan negara negara lainnya usaha untuk meningkatkan sumber daya manusia khususnya bagi pelajar perlu dimaksimalkan agar kedepannya negara tersebut maju dan meraih pemerataan ekonomi yang sama.
Namun dengan berjalannya waktu demi waktu, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, rasanya sumber daya pun merosot ke rana yang hampir tenggelam dan jauh dari kata maju sebab para generasinya mengikuti zaman era globalisasi.

Bahkan ketika budaya asing masukpun banyak pelajar tidak selektif alias memilih memilah sehingga hal yang negatif diterapkan namun hal yang positif justru ditinggal dan diacuhkan, ironis memang melihat kawan sekerabat karib kita pun sungguh tidak peduli dengan teman temannya, mereka yang tua membiasakan diri acuh terhadap yang muda begitu pula sebaliknya, akhirnya generasi pelajar pun jauh dari tuntunan agama islam dan jauh dari etika yang bermoral.
Padahal ketika kita hidup zaman sekarang ini tidak selamanya hanya memandang lurus ke depan tapi justru kita perlu menengok kebelakang dan melihat sejarah orang orang yang dermawan jauh sebelum kita dilahirkan.
Nah, pada artikel yang akan saya buat kali ini adalah beberapa faktor bahwasanya pelajar pada saat kini mulai terkikis semangatnya sebab ulah sendiri serta pengaruh lingkungannya.
- Mengikuti perjalanan zaman tanpa pondasi diri yang kuat
Sedih rasanya memang ketika kita melihat dari pelajar-pelajar berkeluyuran di jalanan untuk bolos sekolah bahkan tawuran ibarat tanpa induk yang bebas dari sangkarnya namun inilah realitanya yang terjadi dilapangan, perlu kita amati bersama sejatinya pondasi itu harus ditanamkan dan ditumbuhkan semenjak ia masih buayan karena apa yang mereka dengar dan mereka lihat sewaktu kecil lambat laun akan ikut serta mengiringi kelak dimasa dewasanya.
Kokoh atau tidaknya kehidupan tergantung pondasi yang kita miliki ibarat rumah pun perlu memiliki instrumen komposisi baik batu, semen, pasir dan lainnya, maka pondasi dalam diripun itu terbagi menjadi 3 yakni cerdas spiritual, cerdasemosional, dan cerdas intelektual.

- Terlalu mengikuti doktrin buruk dari seorang teman
Memang tidak mudah menahan hawa nafsu seseorang apabila pelajar juga ikut menginginkannya apalagi keinginan tersebut diyakinkan dan dipertegas pula oleh teman kita walhasil doktrin tersebut menimbulkan kebiasaan yang tidak mudah ditinggalkan sehingganya pelajar pun terperangkap dan tak tau solusinya, Gejala ini sering diangap enteng kecil awalnya namun besar akhirnya.
Maka dari pada itu saya sarankan berhati hati dan berpandai pandailah dalam memilih teman karena teman pun akan berdampak banyak kepada diri kita sendiri.

- Tidak bersahabatnya dengan lingkungan sekitar
Tidak bersahabat bukan berarti teman disekitarnya tidak mau menemani kesendiriannya namun hal ini terjadi karena ia sendiri mengasingkan sendiri dari kehidupan bermasyarakat tanpa ingin tau problem atau kendala yang berada ditengah masyarakatnya.

- Mementingkan urusan sendiri ketimbang urusan yang menyangkut orang banyak
Ada namun tidak banyak pelajar yang telah mendapatkan pelajaran PAI (pelajaran agama islam) yang mendeskripsikan bahwa jika seorang yang membantu saudaranya jika ada kesusahan maka allah swt pun akan memudahkan pula urusan yang meliliti urusannya. Namun karena nihilnya usaha untuk membantu orang lain karena keegoisannya maka sifat ini pula yang menyebabkan terkikisnya semangat belajar karena kurang terdukungnya kontrabusi dari masyarakatnya.

- Kurangnya pendidikan agama mengenai etika etika
Faktor ini juga sangat mempengaruhi gimana terkikisnya semangat pelajar dalam belajar karena harusnya guru atau pendidik perlu mendoktrin dari sekian banyaknya pelajar dengan kisah kisah tauladan yang baik sebagai bentuk penanggulangan etika yang buruk sipelajar.
Karena Jika kita amati dengan teliti banyak lembaga yang hanya memantau para pelajarnya mulai dari masuk sekolah sampai pulang sekolah setelah itu apa apa yang dilakukan pelajarnya diluar tanggung jawab lembaga pendidik, tentu sebagian anak anak pun akan merasakan bebasnya mereka setelah suntuk dengan pelajaran dikelas bukannya suudzon

- Tidak melihat kepada sosok yang memberi contoh yang baik yaitu ulama dan tabiin
Hal inipun bisa menjadi pengaruh sebab bila seorang yang jauh dari ulama jauh dari para tabiin maka dia pun secara tidak langsung jauh dari islam, seperti telah di syairkan dalam ulama terdahulu bahwasanya jika seseorang yang tidak bergaul dengan ulama maka ia akan merasakan betapa sedihnya dalam kebodohan.
Jadi jika pelajar ingin merasakan berkahnya ilmu dan tidak terpeleset dengan terkikisnya semangat belajar maka dekat dan mulyakanlah guru.

- Condong asyik dengan budaya kebarat baratan
Salah atau benar adanya namun begitu faktanya pelajar yang terkikis sekarang karena fanatiknya mereka dengan lagu, pakaian, kebiasaan yang berhubungan dengan orang orang barat yang mereka lihat dari stasiun televisi nasional serta internasional dimana mereka sangat mendambakan orang asing dibanding dengan para ulama.
Dan yang lebih tragisnya para pelajar yang seperti ini tidak peka padahal apa yang mereka lakukan itu bisa merusak moral suatu bangsa dan merugikan orang lain disekitarnya.

- Tertidur dan bolos ketika berangkat ke sekolah
Entah memang gurunya tidak peduli atau memang tingkat kemauan pelajar yang rendah terhadap kegiatan belajar mengajar, nampaknya tertidur didalam kelas dan bolos dari sekolah pun menjadi hal yang lumrah yang bahkan menjadi suatu sunah yang perlu dilakukan.
Jika seperti ini siapa yang akan disalahkan jika akan menyalahkan pihak tertentu tentunya tidak akan mau dan pasti mempunyai pembelaan, solusinya jika berada diposisi ini harus ada yang mengalah dan membuat kesepakatan dengan usaha usaha yang ekstra agar keadaan seperti ini hlang dan satu sama lain terselamatkan.

- Tidak ada inisiatif untuk mengembangkan diri
Inisiatif adalah kemampuan untuk memutuskan dan melakukan sesuatu yang benar tanpa harus diberi tahu, mampu menemukan apa yang seharusnya dikerjakan terhadap sesuatu yang ada di sekitar, berusaha untuk terus bergerak untuk melakukan beberapa hal walau keadaan terasa semakin sulit,
Pantas jika kita menemukan orang yang tidak semangat belajar dan selalu malas hidupnya karena dia sendiri tidak mempunyai inisiatif untuk memajukan dirinya kehadapan publik dan umum.

(redaktur wardan/ muhammad rois)




