Tiga hari berturut-turut, koridor Pondok Pesantren Darunnajah 12 Dumai bergema dengan lantunan ayat suci dan dialog bahasa asing. Ujian lisan yang berlangsung 4-6 Juni 2025 menjadi arena pembuktian diri santri dalam menguasai Al-Quran, bahasa Arab, dan bahasa Inggris. Momentum ini bukan sekadar evaluasi akademis, melainkan manifestasi jihad ilmu yang mengukir karakter generasi Qurani. Setiap jawaban yang terlontar mencerminkan dedikasi panjang dalam mendalami khazanah keilmuan Islam dan global.
Antusiasme santri terlihat sejak subuh menjelang. Mereka bersiap dengan tilawah Al-Quran, murajaah kosakata bahasa Arab, dan latihan speaking bahasa Inggris. Ritual persiapan ini mencerminkan kesadaran bahwa ujian adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Para santri memahami bahwa setiap huruf yang dilafalkan dan setiap kata yang diucapkan memiliki nilai ibadah
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah: “طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ” (Thalabul ‘ilmi faridhatan ‘ala kulli muslim) – “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” Hadis ini menjadi landasan filosofis ujian lisan yang diselenggarakan pesantren dalam mengasah kemampuan santri di berbagai bidang keilmuan.
Ujian Al-Quran menguji kemampuan membaca dengan tajwid yang benar, hafalan surat-surat pilihan, dan pemahaman makna ayat. Santri kelas I hingga VI TMI menunjukkan kemahiran dalam melafalkan ayat-ayat suci dengan penuh penghayatan. Mereka tidak hanya menghafal, tetapi juga memahami pesan moral yang terkandung dalam setiap ayat yang dibacakan.
Sesi bahasa Arab menjadi tantangan tersendiri dengan penekanan pada kemampuan muhadatsah (percakapan), qira’ah (membaca), dan pemahaman qawa’id (tata bahasa). Para santri dengan percaya diri menjelaskan teks-teks klasik dan mengaplikasikan struktur bahasa Arab dalam dialog sehari-hari. Kemampuan ini menunjukkan keberhasilan metode pembelajaran bahasa Arab yang diterapkan pesantren.
Tidak kalah menarik, ujian bahasa Inggris menguji kemampuan santri dalam berkomunikasi global. Mereka diminta mempresentasikan topik-topik kontemporer, melakukan dialog role play, dan membaca teks dengan pengucapan yang benar. Penguasaan bahasa Inggris ini membekali santri untuk menghadapi tantangan era digital dan globalisasi.
Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 286: “لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا” – “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Ayat ini memberikan motivasi kepada santri bahwa setiap ujian adalah sesuai dengan kemampuan yang telah dikaruniakan Allah.
Hasil ujian lisan ini akan menjadi komponen penilaian akhir semester yang mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pesantren berkomitmen menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter Islami yang kuat dan kemampuan komunikasi global.
Ujian lisan Darunnajah 12 Dumai membuktikan bahwa pendidikan pesantren mampu mengintegrasikan tradisi dan modernitas. Para santri diharapkan menjadi generasi yang menguasai khazanah keilmuan Islam sambil tetap mampu berkommunikasi dalam bahasa internasional. Semangat jihad ilmu yang ditunjukkan santri menjadi inspirasi bagi dunia pendidikan Islam dalam mempersiapkan generasi masa depan yang berkarakter dan kompeten.
