Tujuh Puluh Tujuh Tahun Merawat Lentera Ilmu: Sebuah Catatan Perjalanan tentang Keteguhan, Pengabdian, dan Doa yang Tak Perna Tujuh Puluh Tujuh Tahun Merawat Lentera Ilmu: Sebuah Catatan Perjalanan tentang Keteguhan, Pengabdian, dan Doa yang Tak Perna

Tujuh Puluh Tujuh Tahun Merawat Lentera Ilmu: Sebuah Catatan Perjalanan tentang Keteguhan, Pengabdian, dan Doa yang Tak Pernah Putus

Tujuh Puluh Tujuh Tahun Merawat Lentera Ilmu: Sebuah Catatan Perjalanan tentang Keteguhan, Pengabdian, dan Doa yang Tak Perna

Tujuh puluh tujuh tahun. Angka itu menandai perjalanan hidup KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc., Pimpinan Pesantren, yang kini memasuki milad ke-77. Doa dan ucapan selamat mengalir dari keluarga besar pesantren. Sepanjang usia itu, satu jalan ditempuh dengan konsisten: mendidik, membimbing, dan menjaga nyala nilai-nilai kepesantrenan.

Milad kali ini dimaknai sebagai momentum syukur oleh segenap civitas Pesantren Darunnajah 2 Cipining. Perjalanan panjang sang Kiai dipandang sebagai bagian dari perjuangan menanamkan ilmu dan membimbing generasi. Usia yang bertambah dibaca sebagai amanah yang terus dijalankan, bukan capaian yang berhenti untuk dirayakan.

Doa yang dipanjatkan keluarga besar pesantren menyentuh hal-hal paling mendasar: kesehatan, keberkahan umur, keteguhan dalam perjuangan, serta kekuatan untuk terus membimbing generasi penerus. Doa itu dilantunkan santri, guru, dan alumni. Harapannya sederhana sekaligus dalam, agar bimbingan sang Kiai tetap hadir bagi mereka yang sedang menempuh jalan ilmu.

Ungkapan doa turut disampaikan dalam bahasa Arab: bārakallāhu fī ‘umrikum, wa nafa’a bikum, wa aṭālallāhu ‘umrakum fī ṭā’atihi wa khidmatid-dīn. Maknanya, semoga Allah memberkahi umur beliau, menjadikan beliau bermanfaat, serta memanjangkan usia dalam ketaatan dan khidmat kepada agama. Doa ini merangkum harapan seluruh keluarga pesantren.

Di balik ucapan selamat itu tersimpan makna yang lebih luas tentang ilmu. Islam mengajarkan bahwa ilmu yang bermanfaat termasuk amal yang pahalanya terus mengalir meski pemiliknya telah tiada. Setiap pelajaran yang disampaikan di kelas, setiap nasihat yang diberikan di masjid, berpotensi menjadi amal jariyah yang panjang usianya.

Dari perspektif itu, seorang pendidik sesungguhnya sedang menanam pada tanah yang tak pernah ia lihat panennya sendiri. Santri yang hari ini duduk di bangku pesantren akan menjadi guru, pemimpin, dan orang tua di tempat yang jauh. Nilai yang mereka bawa menjadi jejak yang terus bergerak.

Tradisi pesantren menempatkan keteladanan sebagai metode pendidikan utama. Figur kiai hadir sebagai uswah hasanah, teladan yang baik, yang mendidik melalui laku sehari-hari. Pendidikan karakter tumbuh dari kedekatan panjang antara guru dan murid, bukan semata dari materi yang tertulis dalam kurikulum.

Momentum milad juga mengingatkan pada pesan Nabi bahwa sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya. Usia bermakna ketika diisi manfaat. Ukurannya terletak pada seberapa banyak kebaikan yang mengalir kepada orang lain, bukan pada bilangan tahun yang telah dilalui.

Estafet perjuangan itu kini berada di tangan bersama. Santri, guru, alumni, dan wali santri memikul tanggung jawab yang sama untuk merawat nilai yang telah ditanamkan. Perjuangan sebuah lembaga pendidikan hidup melalui orang-orang yang meneruskannya, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Keluarga besar pesantren diajak memaknai milad ini dengan cara yang konkret: memanjatkan doa bagi kesehatan sang Kiai, meneladani keteguhannya dalam menuntut dan mengamalkan ilmu, serta menjaga marwah pesantren melalui akhlak sehari-hari. Semoga Allah senantiasa melimpahkan lindungan, keberkahan, dan ridha-Nya. Selamat Milad ke-77, Kiai.