Dari Pesantren ke Negeri Sakura: Kisah Perjalanan Ilmu dan Doa yang Tak Pernah Putus.

Dari Pesantren ke Negeri Sakura: Kisah Perjalanan Ilmu dan Doa yang Tak Pernah Putus.

Dari Pesantren ke Negeri Sakura: Kisah Perjalanan Ilmu dan Doa yang Tak Pernah Putus.
Dari Pesantren ke Negeri Sakura: Kisah Perjalanan Ilmu dan Doa yang Tak Pernah Putus.

Di tengah kesejukan kota Fukuoka, Prefektur Fukuoka, Jepang, seorang alumni Darunnajah Cipining kini tengah menapaki jalan panjang ilmu dan pengabdian. Namanya mungkin tak banyak disebut di media, namun kisah perjuangan dan keteguhannya patut menjadi inspirasi bagi para santri.

Langkah dari Indonesia ke Jepang: Perjalanan itu dimulai jauh sebelum kakinya menjejakkan tanah Negeri Sakura. Setelah lulus dari IPB University tahun 2017, ia memutuskan untuk mempersiapkan diri melanjutkan studi ke luar negeri. Ia berangkat ke Pare, Kediri, untuk mendalami bahasa Inggris dan menyiapkan ujian IELTS. Dengan semangat dan tekad yang kuat, ia mendaftarkan berbagai beasiswa di dalam maupun luar negeri—Jepang, Korea, Eropa, hingga Timur Tengah.

Namun, seperti banyak jalan menuju mimpi, rintangan datang silih berganti. Penolakan demi penolakan sempat membuat langkahnya goyah. Tapi Allah selalu punya rencana yang indah.

Pada tahun 2018, seorang profesor dari Jepang yang memiliki minat penelitian yang sama menerimanya sebagai mahasiswa bimbingannya. Meski sempat tertunda karena belum ada beasiswa, akhirnya pada Desember 2020—setelah penundaan akibat pandemi COVID-19—ia berangkat ke Jepang dengan beasiswa dari Asian Development Bank (ADB).

Alhamdulillah, tahun 2022 ia menuntaskan studi magister dan kembali ke Indonesia. Saya menikah, lalu Qadarullah, profesor saya kembali menawarkan kesempatan untuk melanjutkan riset di Kochi University, dalam proyek Internet of Plants (IoP)—sebuah riset penerapan teknologi Internet of Things (IoT) untuk pertanian. Enam bulan kemudian, pada April 2024, ia kembali ke Kyushu University, Fukuoka, untuk menempuh program doktoral dengan biaya mandiri dari hasil kerja sebelumnya.

Kyushu University adalah salah satu universitas nasional terbaik di Jepang, khususnya di bidang pertanian dan teknologi. Fakultas Pertanian nya terletak di kota Fukuoka, dengan lebih dari 20.000 mahasiswa dari berbagai negara.

Para dosennya berlatar belakang riset global dan berperan aktif dalam penelitian bidang precision farming—pertanian presisi berbasis teknologi ICT dan robotika.

Kehidupan Akademik dan Non-Akademik: Belajar di Jepang berarti bukan hanya mengejar nilai, tapi juga membentuk karakter. Mahasiswa di sini dituntut aktif meneliti, menulis jurnal ilmiah, dan mempresentasikan hasil riset di konferensi internasional. Namun kehidupan di luar kampus tak kalah penting.

Sebagai minoritas Muslim di Jepang, ia yang tumbuh remaja di Bogor Jawa Barat, menyadari pentingnya komunitas. Qadarullah, saya diberi amanah menjadi Ketua Muslim Fukuoka (Musfuk) periode 2024–2025. Musfuk bukan sekadar tempat berkumpul, tapi menjadi rumah bagi umat Islam di perantauan. Kami mengadakan kajian bulanan, rihlah keluarga, pengurusan jenazah, penggalangan dana, hingga kegiatan Ramadan. Di sinilah ia belajar bahwa nilai-nilai yang ia dapatkan di pesantren justru menjadi bekal utama di negeri asing ini—lebih dari sekadar pengetahuan akademik.

Jejak dari Pesantren: Sutan Muhamad Sadam Awal, S.T., M.Sc., menempuh pendidikan di Pesantren Darunnajah 2 Cipining pada tahun 2007–2010 sebagai santri Madrasah Tsanawiyah. Dari sinilah perjalanan itu bermula. Pesan yang selalu ia ingat dari Bapak Kiai dan para guru adalah: “Di mana pun dan kapan pun engkau berada, engkau tetap santri. Tugasmu membawa kebaikan bagi orang lain.”

Kalimat sederhana itu menjadi pengingat di setiap langkah. Saat berada di laboratorium penelitian, saat berbicara di forum internasional, atau saat membantu saudara seiman di perantauan, saya selalu ingat pesan itu.

Pesannya untuk Para Santri: Untuk adik-adik santri Darunnajah di seluruh Indonesia, jangan takut bermimpi besar. Dunia ini luas, dan Allah membuka pintu ilmu bagi siapa pun yang berusaha. Siapkan diri sejak dini, pelajari bahasa Inggris, Arab, bahkan Jepang. Banyak peluang beasiswa menanti, tapi semuanya harus disertai ikhtiar dan doa.

 

Dari Pesantren ke Negeri Sakura: Kisah Perjalanan Ilmu dan Doa yang Tak Pernah Putus.
Dari Pesantren ke Negeri Sakura: Kisah Perjalanan Ilmu dan Doa yang Tak Pernah Putus.

Ingatlah, di balik setiap keberhasilan selalu ada doa orang tua. Ia pribadi merasakan, mungkin ikhtiarnya tidak seberapa, tapi doa orang tua lah yang menembus langit dan membuka jalan. Maka mintalah doa mereka setiap kali bermimpi. “Man saara ‘ala darbihi washala” artinya: Barang siapa berjalan di jalannya, maka ia akan sampai pada tujuannya. Perjalanan ini belum selesai. Masih banyak langkah yang harus ditempuh, masih banyak ilmu yang harus digali. Tapi satu hal yang pasti, darah santri tak akan pernah pudar, meski langkah menjejak di tanah yang jauh. Karena santri sejati bukan hanya belajar untuk dirinya, tapi untuk menebar manfaat bagi umat.

Pendaftaran Santri Baru