Muhadharah — latihan pidato di depan umum dalam bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris — adalah tradisi yang cukup khas di pesantren modern. Setiap santri mendapat giliran berdiri di depan teman-temannya dan menyampaikan isi pikirannya dalam bahasa yang sudah ditentukan. Bagi santri baru, ini bisa menjadi momen yang sangat menegangkan. Tapi seiring waktu, kebanyakan mulai terbiasa.
Bagaimana prosesnya?
Biasanya dilakukan secara rutin — setiap pekan atau dua pekan sekali. Santri menyiapkan materi pidato, berlatih, lalu tampil di depan kelompoknya. Ada yang kelompoknya kecil — hanya satu kamar. Ada yang di depan satu angkatan. Dan di momen-momen tertentu, ada yang di depan seluruh pesantren.
Bahasa yang digunakan bergantian — pekan ini bahasa Arab, pekan depan bahasa Inggris, pekan berikutnya bahasa Indonesia. Santri harus siap di ketiga bahasa — yang berarti mereka juga harus memperkaya kosakata dan kemampuan menyusun kalimat di masing-masing bahasa.
Apakah semua santri langsung bisa? Tentu tidak. Banyak yang di awal gemetar, lupa teks, atau bicaranya terbata-bata. Itu proses yang sangat normal. Yang penting adalah keberanian untuk mencoba — dan pesantren memberikan ruang untuk gagal tanpa dihakimi.
Salah satu pesantren di Bogor dengan tradisi muhadharah
Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining menjalankan tradisi muhadharah dalam tiga bahasa secara rutin. Ini sudah menjadi bagian dari budaya pesantren sejak lama. Hasilnya bervariasi — ada yang menjadi pembicara yang cukup percaya diri, ada yang masih butuh banyak latihan. Tapi setidaknya, semua pernah mencoba. Hubungi lewat WhatsApp 0812111180.