Tiada Hari Tanpa Majlis Ilmi, Teguhkan Visi Bentuk Generasi Kuat Literasi

Tiada Hari Tanpa Majlis Ilmi, Teguhkan Visi Bentuk Generasi Kuat Literasi

Dengan Dibiasakan Majlis Ilmi Guru Darunnajah Cipining Siap Menjadi Muballigh. Tampak Salah Seorang Guru Darunnajah Cipining Sampaikan Ta'lim Di Pelataran Masjid Nabawi

Visi besar Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining adalah membentuk kader pejuang Islam dengan kualifikasi IMAMA yang merupakan akronim dari Imam (Pemimpin), Muttaqin (Orang Yang Berraqwa), Alim (Cendekiawan,  Ulama), Muballigh (Dai, Mundzirul Qaum) dan Amil (Terampil, Mengaplikasikan Pengetahuan).

Untuk mencapai misi mulia tersebut maka berbagai misi, program dan egenda didesain dan dilaksanakan sedemikian rupa. Salah satunya -adalah optimalisasi Majlis Ilmi (Pengajian) bagi segenap warga pesantren, seperti yang terlihat dalam jadwal berikut ini:

 

Jadwal Majlis Ilmi Darunnajah 2 Cipining Bogor

Seringkali Pimpinan Pesantren, KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc menegaskan agar seluruh dewan guru, juga para santri bahkan wali santri (RA,TK,MI) bersungguh-sungguh dalam mengikuti kegiatan peningkatan ilmiah ini.

Bapak Kiai Sedang Sampaikan Pengajian Kepada Para Istri Dewan Guru, Adiministratur dan Karyawan Pesantren

Apa urgensi Majlis Ilmi? Untuk membentuk pola pikir atau mind set yang Islami, Imani, Ihsani dan tentunya membumi. Seperti yang difahami, rumusannya adalah Pola Fikir —> Perkataan —> Perbuatan —> Kebiasaan —> Karakter —> Nasib kehidupan. Bahkan dalam mafhum Hadits Qudsi dijelaskan bahwa Allah SWT tergantung prasangka (pola pikir) manusia kepadaNya.

Berikut salah satu gambaran Majlis Ilmi pada Kamis Pagi, 18 November 2021 lalu:

Gunakanlah Fasilitas (Teknologi) Yang Semakin Mudah Untuk Meningkatkan Ilmiah Dan Ibadah.

Seusai rangkaian sholat Shubuh di Masjid Jami’ Darunnajah Cipining, saya bergegas menuju mini aula (disingkat Mina, bisa menjadi alternatif nama pengganti aula Tahfidh yang kini beralih fungsi menjadi lokasi DNC Mart dan produksi Santri Bakery) Kampus Satu untuk mengikuti Majelis Ilmi Kamis Pagi yang diperuntukkan bagi asatidz yang sudah berkeluarga. Setelah menyalakan lampu dan duduk sembari menunggu hadirin lainnya, saya buka whatsapp untuk update berita. Salah satu info yang terbaca bahwa Majlis Ilmi pagi ini kembali ke ruangan Sekretariat yang masih menyambung bangunannya dengan kediaman Pengasuh dan Pimpinan Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor, KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc.

Suasana Majlis Ilmi Rabu Pagi

Sejurus kemudian saya sudah menyusul beberapa asatidz yang sudah terlebih dahulu duduk dalam ruang Majlis Ilmi. Ustadz Mukmin Hidayat Saian Siddiq yang pagi itu bertugas menjadi nara sumber dalam kegiatan yang saya istilahkan Forum Ilmiah Guru (FIGUR), sudah duduk stand by di atas kursi. Salah seorang Kepala Asrama Santriwan Kampus 3 tersebut kemudian memulai pemaparannya terkait Pola Pengasuhan dan Pendidikan Anak.

Susana Pengajian Rabu Siang Bagi Santri Non Asrama

Belum sampai lima menit berikutnya, Alhamdulillah Bapak Kiai hadir di ruang tersebut dan Ustadz Mukmin langsung menyambut dan mempersilahkan beliau duduk di posisi yang selama ini beliau tempati ketika mendampingi Majlis Ilmi. Dalam memori penulis, inilah kali pertama beliau hadir kembali dalam Majlis Ilmi sejak beliau sakit hampir dua tahun terakhir bersamaan dengan musim pandemi.

Ustadz Mukmin terus melanjutkan presentasi yang cukup detail dan menarik hingga sekira 30 menit berikutnya yang dilengkapi dengan sesi diskusi. Nah, setelah itu Bapak Kiai berkesempatan menyampaikan lagi nasehat dan irsyadat yang cukup lami kami nantikan. Meski suara beliau masih relatif pelan dan lambat namun terdengar jelas. Saya tidak pandai melukiskan suasana syahdunya, yang jelas serta-merta ada buliran hangat terasa di pelupuk mata.

Dengan Dibiasakan Majlis Ilmi Guru Darunnajah Cipining Siap Menjadi Muballigh. Tampak Salah Seorang Guru Darunnajah Cipining Sampaikan Ta’lim Di Pelataran Masjid Nabawi

Beberapa poin yang Bapak Kiai sampaikan, antara lain:

– Kesyukuruan beliau bisa mengikuti Majlis Ilmi setelah sekian lama tidak bisa menghadirinya.

– Beliau meski sudah bisa berjalan dan keliling ke sebagaian lokasi pesantren, sehingga guru-guru menganggap beliau sudah sembuh, namun beliau merasa belum sembuh total dari sakit.

– Alhamdulillah beliau masih bisa membaca Al Qur’an dengan jelas dan ini sekarang menjadi aktifitas dan rutinitas yang dominan, meski untuk membaca tulisan Arab di kitab atau tulisan terjemahannya beliau mengalami kesulitan.

– Majlis ilmi agar terus dilaksanakan meski Bapak Kiai tidak menghadiri. Para guru agar menggunakan fasilitas hand phone nya untuk mengakses berbagai informasi dan pengetahuan yang bermanfaat. “Sekarang banyak sekali video pengajian. Ketika kemarin saya ke Kendal, di sana orang pada menyimak video pengajian Kiai Zahid Akbar. Jangan ada yang menghalang-halangi penggunaan video. Memang untuk anak-anak (santri) masih kita larang, tetapi pada waktu tertentu mereka juga diperbolehkan!” ungkap Bapak Kiai sembari menjelaskan bahwa pada zama dulu beliau untuk membeli sebuah kitab, Riyadush Shailihin apalagi Shahih Bukhari, sangat sulit mendapatkan uangnya karena haraganya yang mahal dan sekarang semuanya sudah tersedia di hp atau komputer.

– Semangat Bapak Kiai untuk beribadah dan mendorong guru-guru juga giat dalam beribadah beliau sampaikan dengan menukil secara jelas ayat 56 dari surat Adz Dzatiykelas (وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ)

Seusai Bapak Kiai menyampaikan arahannya, beliau menutup dengan mengingatkan agar guru-guru segera masuk kelas untuk mendidik santri sebagaimana mestinya.

Selanjutnya, dengan izin putra pertama Bapak Kiai, saya dan beberapa guru bisa bermushafahah dengan Bapak Kiai tanpa ‘berjabat tangan’ kendatipun azam menghujam untuk mencium tangan Sang Kiai Teladan. Alhamdulillah kerinduan nan membuncah dalam hati, pagi ini sedikit terobati

Cigudeg, Bogor Barat, 09/01/22.
(Wardan/Muhlisin Ibnu Muhtarom).

Pendaftaran Santri Baru