Menu

Tata Cara Dan Hikmah Berqurban

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ

أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهْ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَانَعْبُدُ اِلاَّ اِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى َانْصَارِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَزْوَاجِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ذُرِّيِّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بَسَطَ لِعِبَادِهِ مَوَاعِدَ اِحْسَانِهِ وَاِنْعَامِهِ، وَاعَادَ عَلَيْنَا فِى هَذِهِ الْايَامِ عَوَائِدَ بِرِّهِ، اَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى جَزِيْلِ اِفْضَالِهِ وَاِمْدَادِهِ, وَاَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ جُوْدِهِ وَحُسْنِ وِدَادِهِ بِعِبَادِهِ وَاِكْرَامِهِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ فِى مُلْكِهِ وَبِلاَدِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَشْرَفُ عِبَادِهِ وَزُهَادِهِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ عِبَادِهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّاهِرِيْنَ مِنْ بَعْدِهِ . أَمَّا بَعْدُ

فَيَا اَيُّهَا الْاِخْوَانِ… أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَبَادِرُوا رَحِمَكُمُ الله بِإِحْيَاءِ سُنَةِ اَبِيْكُمْ اِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِمَاتُرِيْقُوْنَهُ مِنَ الدِّمَاءِ فِى هَذَاالْيَوْمِ الْعَظِيْمِ .

اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Hadirin wal Hadirot jamaah ‘Idul Adha Rohimakumulloh…

Di pagi yang sakral dan khidmat ini, teriring gema takbir, tahmid, tahlil dan tasbih yang berkumandang sepanjang malam hingga hari-hari tasyrik nanti, semoga bisa menggugah dan membangkitkan semangat kita dalam menjalankan perintah Allah dan meninggalkan semua laranga-Nya. Apabila kita ingin berbahagia, beruntung dan selamat dunia akhirat, maka marilah kita tingkatkan ketaqwaan dan keimanan kepada Allah SWT.

Dalam perkara ketaqwaan, di samping Rasulullah Muhammad SAW -tentunya, Nabi Ibrahim AS merupakan sosok yang sangat pantas untuk dijadikan suri tauladan bagi kita semua, karena Nabi Ibrahim AS mendapat cobaan atau ujian dari Allah sangat banyak dan beragam. Meskipun terasa begitu berat, namun segala macam printah-Nya dilaksanakan dengan ikhlas dan sempurna tanpa tanpa cacat sedikitpun, seperti disebutkan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 124:

وإذِ ابتلى إبراهيمَ ربُّه بكلمات فأتمَّهُنَّ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya (dengan sempurna).

Diantara ujian yang sangat berat yaitu ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim AS agar menyembelih putra tercinta yang sudah lama didamba dan dinantikan kelahirannya, yaitu Nabi Ismail ’Alaihi salam. Apapun resikonya, karena itu perintah Allah SWT, maka Nabi Ibrahim AS rela mengorbankan putranya, Nabi Ismail pun menunjukan kesediaan untuk disembelih. Inilah bukti totalitas ketaatan, loyalitas tinggi dan kepasrahan sempurna serta pengorbanan luar biasa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail kepada Allah SWT.

Allah SWT berfrman:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَه

“Sungguh bagi kalian terdapat teladan yang baik dalam (diri) Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya…” (al-Mumtahanah: 4)

Beberapa ‘ibroh dari Nabi Ibrahim AS:

  • Sebagai seorang Rasul, Beliaulah penemu konsep tauhid setelah melalui proses tafakkur dan tadabbur alam yang mendalam, yang melibatkan pengamatan terhadap Matahari, bulan, bintang-bintang dan alam sekitarnya. Sungguh, hal ini meruapakan Sebuah penemuan yang sangat luar biasa dalam sejarah kehidupan manusia.
  • Sebagai seorang anak, Beliau tetap berbakti kepada orang tuanya, Azzar, meskipun berbeda keyakinan mereka, bahkan profesi ayahnya yang seorang pembuat patung sekalipun.
  • Sebagai seorang pemuda, beliau berani melawan rezim penguasa yang sesat dan dzalim seperti Raja Namruz, meskipun konsekuensinya ia harus menerima hukuman dibakar hidup-hidup dan Allah sajalah penolongnya.
  • Sebagai seorang Ayah, beliau pandai mendidik, berdialog dan berkomunikasi dengan anaknya, Ismail, sehingga anaknya bisa memahami arahan dan perintahnya dengan baik.
  • Sebagai seorang suami, beliau mampu menjadikan istri beliau, Sarah dan Hajar, full beriman dan bertawakkal kepada Allah, di manapun, kapanpun dan dalam kondisi bagaimanapun.
  • Dan sebagai Hamba Allah, Obsesi tertingginya hanyalah Ridha Allah SWT. Dan sesungguhnya inilah kunci utama kesuksesannya sehingga mendapat maqom sebagai Khalilullah (kekasih Allah) dan Abul Anbiyaa (Bapaknya Para Nabi). Subhanallah!

اللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Pada Hari Raya ‘Idul Adha ini, sesungguhnya umat Islam diajak untuk merenungi kembali peristiwa dan perjalan Ibrahim AS, artinya ketaatan, kepasrahan dan pengorbanan kepada Allah merupakan sikap yang seharusnya dimiliki oleh kita semua. Sehingga Allah mengabadikan peristiwa itu kepada umat-umat setelah Nabi Ibrahim Alaihissalam, terutama kepada Nabi Muhammad SAW beserta umatnya melalui firman-Nya:

إنّا أعطيناك الكوثر، فصلّ لربّك وانحر، إنّ شانئك هو الأبتر.

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu sebuah surga di surga (nikmat yang banyak), Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah, Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus.

Hadirin wal Hadirot jamaah ‘Idul Adha Rohimakumulloh…

asbabunnuzul ayat tersebut karena adanya julukan “Abtar” dari orang-orang Quraisy kepada Nabi Muhammad setelah putranya yang bernama Qosim meninggal dunia. Nabipun teramat sedih karena dianggap “Abtar”, yang maksudnya putus, tidak punya keturunan laki-laki yang bisa melanjutkan perjuanganya. Namun pada akhirnya Rasulullah bisa tersenyum setelah diturunkanya surat Al-Kautsar tersebut, sebagai keterangan yang jelas bahwa sesungguhnya orang-orang yang benci kepada Rasulullah itulah yang dimaksud “Abtar”, yaitu terputus dari rahmat Allah dan tidak punya keturunan anak yang sholeh/sholihah dan lain-lain. Oleh karena itu, para hadirin sekalian, janganlah membenci kepada para pewaris Nabi yaitu para Ulama, kyai, ajengan, buya, ustadz dan orang-orang yang berkhidmah/ nushroh kepada agama Allah, sebab dikhawatirkan akan terkena imbasnya, yakni akan terputus dari rahmat Allah dan tidak mendapat keturunan yang sholeh/sholehah. Ma’aadzallah.

Rasulullah melaksanakan sholat ‘Idul Adha pertama kali pada tahun kedua Hijryah dengan menyembelih hewan qurban, untuk melestarikan tradisi yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS. Karena perbuatan yang paling disukai Allah pada hari Nahr adalah qurban, seperti sabda Nabi:

مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّخْرِ عَمَلًا اَحَبَّ اِلَى اللهِ تَعَالَى مِنْ اِرَاقَةِ الدَّمِ. الحديث (رواه الحاكم وابن ماجه والترمدى)

Artinya: “Tidak ada perbuatan manusia pada hari Nahr (10 dzul Hijjah) yang paling dicintai Allah SWT dari pada mengalirkan darah (menyembelih hewan qurban)”

Adapun keutamaan-keutamaan menyembelih hewan qurban, Rasulullah telah menjanjikan bahwa keutamaan menyembelih hewan qurban ialah “BIKULLI SYA’ROTIN HASANATAN” bahwa dari setiap helai bulu binatang qurban yang disembelih akan mendapat pahala satu kebaikan. Kemudian dalam hadis lain Nabi bersabda:

مَنْ ضَحَى طَيِّبَةً بِهَا نَفْسَهُ مُحْتَسِبًا اَجْرَهَا عَلَى اللهِ كَانَتْ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ

Artinya: “Barang siapa yang menyembelih qurban dengan baik dan rela hatinya mengharap pahala dari Allah , maka qurbanya akan menjadi penghalang baginya dari api neraka”.

Dalam hadis lain juga disebutkan yang artinya: “Agungkanlah dan mulikanlah hewan qurbanmu sekalian, karena itu akan menjadi kendaraanmu di atas Shiroth dan ingatlah bahwa sesungguhnya qurban itu bagian dari amal yang bisa menyelamatkan pelakunya dari kejelekan hidup di dunia maupun di akhirat” sehingga Rasulullah mewajibkan dirinya sendiri untuk berqurban lewat sabdanya:

ثَلاَثَةٌ هُنَّ عَلَيَّ فَرَائِضٌ وَهُنَّ لَكُمْ تَطَوُّعٌ, اَلْوِتْرُ وَالنَّخْرُ وَصَلاَةُ الضُّحَى. (رواه احمد فى مسنده)

Artinya: “Ada tiga hal yang bagiku (Nabi) adalah fardu dan bagi kamu sekalian adalah sunat (mu’akad), yaitu: sholat witir, Nahr (berqurban) dan sholat Duha”

Sekalipun Rasulullah sudah pernah melaksanakan qurban, namun selalu menganjurkan qurban tiap tahunya:

يَااَيُّهَاالنَّاسُ, عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ فِى كُلِّ عَامٍ أُضْحِيَّةٌ – (رواه احمد وابن ماجه والترمدى)

Artinya: “Wahai sekalian manusia: Upayakan bagi setiap-setiap rumah dalam setiap tahun ada yang berqurban”

Bahkan beliau pada saat haji pernah berqurban 100 ekor unta, 60 ekor unta disembelih nabi sendiri, sedangkan sisanya diserahkan kepada sahabat Ali untuk disembelih. Menurut pandangan madzhab Syafi’iyah bahwa tidak disunatkan qurban bagi anak-anak, begitu pula qurban untuk orang lain tanpa seizin yang bersangkutan serta bagi mayit kalau tidak ada wasiat qurban.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Hadirin wal Hadirot jamaah ‘Idul Adha Rohimakumulloh…

Adapun hikmah disyariatkanya qurban antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Mentaati perintah Allah dan menghidupkan sunnah Rasulullah SAW.
  2. Menghidupkan warisan Kholilulloh Ibrahim AS.
  3. Untuk mensyukuri atas nimat Allah dan karunianya yang teramat banyak.
  4. Untuk melebur kejelekan dan kesalahan orang yang qurban.
  5. Berbagi kebahagian kepada keluarga dan tetangga serta yang lainya agar ikut senang dengan adanya pembagian daging qurban.
  6. Menyembelih nafsu kebinatangan yang menjadikan manusia berada dalam kehinaan yang nyata.

Karena qurban merupakan ibadah sosial yang sangat mulia, maka hendaknya diperhatikan kaifiyah atau tata caranya dengan benar dan teliti, antara lain:

ü hewan yang dapat dikurbankan antara lain; domba yang genap berusia 6 bulan, kambing yang genap setahun, sapi/kerbau yang genap 2 tahun. Syaratnya, hewan kurban tidak boleh memiliki cacat atau penyakit yang bisa berpengaruh pada dagingnya, jumlah maupun rasanya, misalnya: kebutaan pada mata, kepincangan pada kaki dan penyakit pada kulit, kuku atau mulut.

ü Seekor domba atau kambing hanya mencukupi untuk kurban satu orang saja, sedangkan seekor sapi boleh berserikat untuk tujuh orang.

ü Yang lebih utama bagi pria yang terampil menyembelih hewan qurbannya sendiri, bagi wanita diwakilkan kepada seorang muslim yang bagus agamanya, dan pada saat penyembelihan sebaiknya hadir dan menyaksikan, sambil berdoa:

اللَّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي للهِ رَبِّ الْعَالمَيْنَ, لَاشَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ اُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

ü Sedangkan yang menyembelih menghadap hewan qurban kearah qiblat sambil berdoa seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW:

وجَهْتُ وَجْهِي لِلِّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْاَرْضِ حَنِيْفًا وَمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ اِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ, لَاشَريْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ اُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ, بِسْمِ اللهِ واللهُ اَكْبَرُ اَللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَاِلَيْكَ.

 

ü Pada saat menyembelih hewan qurban, harus jelas niatnya; untuk qurban wajib karena nadzar atau qurban sunah. Juga atas nama siapa hewan qurban tersebut disembelih.

ü Waktu penyembelihan qurban dimulai sejak selesainya sholat ’id sampai hari tasyrik yang terakhir yakni tanggal 13 dzul hijjah dan hendaknya hindarilah menyembelih pada malam hari karena makruh, seperti yang diriwayatkan oleh Thobroniy:

إنَّهُ نَهَى عَنِ الذَبْحِ (اخرجه الطبرنى)

ü Tempat penyembelihan hewan qurban sebaiknya masih termasuk komplek tempat sholat ’id,

لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَذْبَحُ وَيَنْحَرُ بِالْمُصَلَّى (وَهُوَ مَكَانُ صَلاَةِ اْلعِيْدِ) رواه البخاري

ü Apabila qurban wajib/nadzar maka bagikanlah seluruh daging qurban termasuk kulitnya kepada yang berhak menerimanya, orang yang berqurban dan sekeluarganya/ serumahnya tidak boleh makan daging tersebut. Namun apabila qurban sunat, si qurban disunatkan untuk makan sebagian dari qurbanya dengan tujuan untuk memperoleh barokahnya, sebagian lainnya untuk hadiah dan kaum yang lemah ekonomi (mustadh’afin).

ü Terkait dengan kulitnya, apabila qurban wajib/nadzar maka wajib dishodaqohkan seluruhnya, dan apabila qurban sunat, maka kulitnya bisa dimanfaatkan untuk tabir dinding, lapak dan lain sebagainya, akan tetapi yang lebih utama dishodaqohkan semuaya.

 

ü Rasulullah SAW juga memerintahkan untuk membagikan kulit qurban dan melarang untuk menjualnya, sabda beliau:

مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَتِةِ فَلاَ أُضْحِيَةَ لَهُ. رواه الحاكم

Artinya: “barang siapa menjual kulit qurbanya maka tidak ada(pahala) qurban baginya”.

Disebutkan dalam hadis nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abi Sa’id:

وَلَا تَبِيْعُوْا لحُوُمَ اْلهَدْيِ وَاْلأُضَاحِي

Artinya: “janganlah kalian menjual daging hadiah dan daging qurban”.

Ikhwani fiddin, a’azzakumullah!

Dan karena hari ini bertepatan dengan hari Jum’at, maka perlu diketahui jika hari raya bertemu dengan hari Jum’at, maka kewajiban shalat Jum’at menjadi gugur bagi kaum pria yang sudah mengikuti shalat Ied, sehingga ia hanya wajib mengerjakan shalat Zhuhur. Namun yang afdhal jika ia tetap hadir shalat Jum’at. bahkan para imam dan khathib Jum’at diharapkan tetap menunaikan shalat Jum’at, agar syiar Jum’at tetap terjaga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنْ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ“

Telah bertemu pada hari kalian ini 2 hari raya. Maka barang siapa yang mau, maka shalat Ied itu telah mencukupkannya dari shalat Jum’at, tetapi kami (tetap) melaksanakan shalat Jum’at.”[HR. Abu Dawud).

Akhirnya mari kita do’akan; agar mudah-mudahan saudara-saudara kita yang berqurban, senantiasa ikhlas, hanya mencari ridlo Allah SWT, mendapat balasan rizki yang lebih banyak lagi berkah, anak yang sholih/sholihah, terhindar dari bala dan musibah, sehingga meningkat iman dan ketakwanya kepada Allah SWT dan layak menjadi ahli jannah. Juga bagi panitia qurban atau yang diberi amanat untuk mengurusi qurban, semoga bisa melaksanakannya serta menunaikan amanah tersebut dengan baik dan benar lillahi ta’aalaa, , amin ya robbal alamin.

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ – لَنْ يَنَالُ اللهَ لُحُوْمُهَا وَلَادِمَآؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ اْلمُحْسِنِيْنَ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapaiNya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayahNya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang berbuat baik!”.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لَيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

اللهُ اَكْبَرْ – اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَر.اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَالللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ.

اْلحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ اْلأَعْيَادَ بِالْاَفْرَحِ وَالدُّرُوْرِ, وَضَاعَفَ لِلْمُتَّقِيْنَ جَزِيلَ اْلأُجُوْرِ, وَكَمَّلَ الضِّيَافَةَ فِيْ يَوْمِ اْلعِيْدِ لِعُمُوْمِ اْلمُؤْمِنِيْنَ بِسَعْيِهِمُ اْلمَشْكُوْرِ.

اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ العفو الغفور, وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ نَالَ مِنْ رَبِّهِ مَالَمْ يَنَلْهُ مَالِكٌ مُقَرَّبٌ وَلاَرَسُوْلٌ مُطَهَّرٌ مَبْرُوْرٌ.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍالنبي الأمي وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ كَانُوْا يَرْجُوْنَ تِجَارَةً لَنْ تَبُوْرَ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا. اَمَّا بَعْدُ

فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ, وَاعْلَمُوْا ياَاِخْوَانِيْ رَحمِكُمُ اللهُ اِنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ يَتَجَلىَ الله ُفِيْهِ عَلَى عِبَادِهِ مِنْ كُلِّ مُقِيْمٍ وَمُسَافِرٍ فَيُبَاهِيْ لَكُمْ مَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ محَمَّدٍ كما صلّيت على سيّدنا اِبْرَاهِيْمَ وعلى أل سيّدنا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى ِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ كَمَا باَرَكْتَ عَلَى سَيِّدِناَ اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ اِبْرَاهِيْمَ فِي اْلعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ, اَللَّهُمَّ ارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ أجمعين وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيهم لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللهمّ اغفر للمؤمنين والمؤمنات, والمسلمين والمسلمات, الأحياء منهم والأموات, إنّك سميع قريب مجيب الدعوات, يا قاضي الحاجات.

اللهمّ إنّك تعلم أنّ هذه القلوب قد اجتمعت على محبّتك والتقت على طاعتك وتوحّدت على دعوتك وتعاهدت على نصرة شريعتك, فوثّق اللهمّ رابطتها و أدم ودّها واهدها سبلها واملأها بنورك الذى لا يخبو واشرح صدورها بفيض الإيمان بك وجميل التوكّل عليك و احيها بمعرفتك و امّتها على الشهادة في سبيلك, إنّك نعم المولى ونعم النصير.

اللهم إنّا عبيدك بنو عبيدك بنو إمائك, نواصينا بيدك ماض فينا حكمك , عدل فينا قضائك , نسألك اللهمّ بكلّ اسم هو لك, سمّيت به نفسك أو أنزلته في كتابك أو علّمته أحدا من خلقك أو استأثرت في علم الغيب عندك, أن تجعل القرأن ربيع قلوبنا ونور صدورنا وجلاء أحزاننا وذهاب همومنا و غمومنا

اللهمّ رحمتك نرجو فلا تكلنا إلى نفسنا طرفة عين وأصلح لنا شأننا كلّه، لاإله إلاّ أنت سبحانك إنّا كنّا من الظالمين

اللهمّ اقسم لنا من خشيتك ما تحول به بيننا وبين معصيتك ومن طاعتك ما تبلّغتا بها جنّتك ومن اليقين ما تهوّن علينا مصائب الدنيا، اللهمّ متّعنا باسماعنا وأبصارنا وقوّتنا ما أحييتنا واجله الوارث منّا واجعل ثارنا على من ظلمنا وانصرنا على من عادانا ولاتجعل مصيبتنا في ديننا ولا تجعل الدنبا أكبر همّنا ولا مبلغ علمنا ولا تسلّط علينا بذنوبنا من لا يخافك ولا يرحمنا.يا أرحم الراحمين

ربّنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفرلنا وترحمنا لنكوننّا من الخاسرين

ربِّ اجْعَلْنِيْ مُقْيْمَ الصَّلاَةِ وَمِنْ ذُرِّيَتِيْ رَبَّنَا وَتَقَبَلْ دُعَاءِ, رَبَّنَا اغْفِرْلِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ, رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا اَمِنًا وَرْزُقْ اَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ اَمَنَ مِنْهُمْ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْأَخِر

ربّنا هب لنا من أزواجنا وذرّياتنا قرّة أعين واجعلنا للمتّقين إماما. رَبِّنا هَبْ لنا حُكْماً وَأَلْحِقْنا بِالصَّالِحينَ وَاجْعَلْ لنا لِسانَ صِدْقٍ فى‏ الآخِرينَ. وَاجْعَلْنا مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعيمِ.

اللهمّ اجعلهم حجّا مبرورا وسعيا مشكورا وذنبا مغفورا وتجارة لن تبور

رَبَّنا تَقَبَّلْ مِنّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ العَلِيمُ. رَبَّنا وَاجْعَلْنا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنا مَناسِكَنا وَتُبْ عَلَيْنا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوّابُ الرَّحِيمُ
ربّنا اتبا في الدنيا حسنة و في الأخرة حسنة وقنا عذاب النار.

عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ!.

سبحانك اللهمّ وبحمدك أشهد أن لاإله أنت استغفرك واتوب إليك

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

(ألقاها أبو عزّة الوزيرة, الجمعة 10 ذوالحجّة 1433).

 

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait