Kenapa Harus Berqurban?

QURBANN KAMBING

Siapa yang tidak tau kisah Nabi Ibrahim As dan putranya Nabi Ismail As, dengan keimanan yang luar biasa karena ingin memenuhi perintah Allah swt. Nabi Ibrahim As sebagai seorang ayah berbalutkan keimanan yang menyelimuti hati dengan mantap berniat menyembelih anak semata wayangnya karena perintah Sang Semesta Alam dan Nabi Ismail sebagai anak yang taat dan cinta kepada Allah swt dengan ikhlas menyerahkan diri kepada ayahnya untuk disembelih. Dari ketaatan keduanya maka Allah swt berikan kebahagiaan yang setimpa dengan memberikan rasa aman kepada Nabi Ismail As dan rasa lega kepada Nabi Ibrahim As dengan menyembelih domba sebagai ganti putra kesayangannya.

Sudah barang tentu kita sebagai seorang muslim yang mengharap syurga Nya Allah swt, berlomba dalam menggapai ridha Nya, dengan mencontoh teladan yang sudah di praktikkan oleh kekasih-kekasih Nya terdahulu. Salah satunya yakni berqurban, dari Abu Hurairah ra Rasulullah saw bersabda, “siapa yang memeroleh kelapangan untuk berqurban dan dia tidak mau berqurban, maka janganlah hadir dilapangan kami (untuk shalat ied)” (HR Ahmad dan Al Hakim)

Dari hadits diatas dapat disimpulkan bahwa Allah swt sangat menganjurkan kepada hamba Nya untuk berqurban. Bukan tanpa alasan Allah swt menganjurkan hamba Nya untuk berqurban, adapun beberapa keutamaan dalam berqurban ialah :

  • Berqurban bentuk ketaatan kepada Allah swt

Semua harta yang kita miliki sejatinya hanyalah milik Allah swt. Dan Dia memperintahkan kita mengeluarkan sebagian harta untuk di belikan hewan untuk di qurbankan, hanya mereka yang beriman dengan senang hati menjalakan perintah ini.

Allah swt berfirman, “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (Qurban), supaya mereka menyebut nama Allah swt terhadap binatang ternak yang telah di rezekikan Allah swt kepada mereka, maka Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada Nya. Dan berikanlah kabar gembira kepda orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah swt)”. (QS. Al Hajj : 34)

  • Jalan mendekatkan diri kepada Allah swt

Segala bentuk ibadah yang di perintahkan Allah swt bertujuan agar hambanya semakin dekat dengan Allah swt. Sebagaimana Firman Allah swt, “Sungguhnya Allah swt hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al Maidah : 27)

  • Mencontoh ajaran Nabi Ibrahim As

Sebagai mana dikisahkan bahwasanya ibadah qurban adalah ibadah yang dicontohkan oleh nabi Ibrahim sebagai bentuk ketaatan seorang hamba kepada Allah swt.

  • Membedakan dengan orang kafir

Sesungguhnya qurban tidak hanya di lakukan oleh umat islam saja, umat lain juga melakukan penyembelihan hewan hanya saja diperuntukan untuk selain Allah swt.

Allah swt berfirman, “katakanlah, sesungguhnya shalatku, sembelihanku (qurbanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku …” (QS. Al An’am : 162-163)

  • Bentuk peduli kepada sesama

Seperti kita ketahui hewan qurban yang telah disembelih dagingnya tidak dikonsumsi sendiri oleh yang berqurban melainkan sebagian besar akan dibagikan kepada kepada orang lain khususnya bagi mereka yang berada disekitar tempat pelaksanaan penyembelihan hewan qurban tersebut. Sehingga semua orang ketika hari raya idul adha akan merasa senang karena dapat makan daging terutama bagi mereka yang fakir dan miskin.

  • Berqurban adalah salah satu ibadah yang di cintai Allah swt

Allah swt telah memberikan nikmat kepada hamba Nya maka Allah swt akan mencintai hamba Nya yang bersyukur yakni mereka yang ikhlas berbagi kenikmatan yang di milikinya kepada sesamanya.

Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada amalan anak cucu anak Adam pada hari raya qurban yang lebih di sukai Allah swt melebihi dari mengucurkan darah (menyembelih hewan qurban), sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan tersebut akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya dan bulu-bulunya. Sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah sebagai qurbandimanapun hewan itu disembelih sebelum darahnya sampai ke tanah, maka ikhlaskanlah menyembelihnya”. (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi)

(WARDAN/MAS)