Bulan Muharram telah tiba. Awal bulan Hijriyah ini merupakan waktu yang istimewa bagi umat Islam. Selain merupakan tahun baru Hijriyah, bulan ini juga memiliki berbagai amalan sunnah yang sayang untuk dilewatkan. Diantaranya adalah puasa Tasu’a dan Asyura.

Puasa Tasu’a dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram, adapun Asyura pada sehari setelahnya. Pada tahun ini kedua puasa tersebut jatuh pada tanggal 9 dan 10 September 2019.  Namun sebelum melaksanakan Puasa Tasua dan Asyura, kamu perlu tahu keutamaan dari dua puasa sunnah di Bulam Muharram ini.

Puasa Asyura yang dilaksanakan pada Bulan Muharram ini merupakan Puasa yang istimewa. Alasannya, pelaksanaan Puasa Asyura pada Bulan Muharram termasuk dalam Al-Asyhurul Hurum. Al-Asyrhurul Hurum merupakan bulan yang dimuliakan Allah SWT dan apabila Umat Islam mengerjakan amalan-amalan kebaikan yang salah satunya adalah Puasa pada Bulan Muharram.

Imam Syafi’i menerangkan bahwa Puasa di Bulan Muharam disunnahkan sebagaimana dijelaskan Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim. Al-Qurthubi, seperti yang dikutip As-Suyuthi dalam Ad-Dibaj ‘ala Shahih Muslim menjelaskan bahwa Puasa Muharram lebih utama karena merupakan awal tahun dan merupakan amalan utama mengawali tahun baru dengan berpuasa.

Puasa Asyura di 10 Muharram memiliki keutamaan yaitu dapat menghapus dosa yang telah dilakukan selama satu tahun kemarin. Rasulullah SAW bersabda :

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa hari ‘Asyura, sungguh aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang telah lalu” (HR. Muslim no. 1975).

Begitu pula disunnahkan Puasa 9 Muharram atau tasu’a, yang juga mengacu pada riwayat Imam Muslim.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kalau saja aku hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa tasu‘a.” Tetapi Rasulullah wafat sebelum Muharram tahun berikutnya tiba.

Puasa di tanggal 10 Muharram merupakan puasa yang dilakukan oleh Nabi Musa setelah Firaun ditelan oleh laut. Bani Israil pun diajak berpuasa atas terbebasnya mereka.

Nabi Muhammad SAW mengikuti syariat Nabi Musa, yakni melaksanakan Puasa sunnah pada tanggal 9, 10 dan 11 Muharram. Sebagai umatnya, kita wajib mengikuti syariat Nabi Muhammad SAW. Perlu digaris bawahi, bukan mengikuti syariat Nabi Musa, namun Nabi Muhammad.

Rasulullah Saw melaksanakan Puasa ‘Asyura pada 10 Muharram. Saat Rasul hijrah ke Madinah, Beliau tetap melaksanakannya dan memerintahkan untuk melaksanakannya. Terdapat sebuah riwayat Rasulullah bertemu dengan sekelompok Yahudi di Madinah. Rasulullah mendapati mereka sedang menjalankan Puasa pada tanggal 10 Muharram.

Rasulullah bertanya, “Puasa apa yang kamu lakukan ini?” Mereka menjawab, “Pada hari ini Allah SWT menyelamatkan Musa dan menenggelamkan Fir’aun. Akhirnya Nabi Musa Puasa pada hari itu sebagai bentuk rasa syukur.” Mendengar jawaban itu, Rasulullah berkata, “Kami lebih berhak atas Puasa Musa daripada kalian.” Nabi Muhammad SAW kemudian berpuasa dan memerintahkan umat Islam untuk Puasa.” (HR Ibnu Majah).