Pagi hari raya di pesantren dimulai dengan takbir yang bergema dari menara masjid. Suaranya menyebar ke seluruh penjuru kampus yang masih diselimuti kabut tipis pagi. Di asrama, santri yang tidak pulang ke rumah sudah rapi dengan baju terbaiknya — sebagian baju baru yang dikirim orang tua, sebagian baju lama yang dicuci bersih dan disetrika dengan hati-hati. Mereka saling menyalami, saling memeluk, saling mengucapkan selamat dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
Mengapa ada santri yang tidak pulang saat hari raya?
Alasannya bermacam-macam. Ada yang rumahnya terlalu jauh dan biaya transportasinya tidak sedikit. Ada yang orang tuanya sedang bekerja di luar kota dan tidak ada yang menjemput. Ada yang memang memilih untuk tinggal karena ingin merasakan hari raya di pesantren bersama teman-temannya. Dan ada yang tinggal karena ingin memanfaatkan waktu libur untuk menambah hafalan.
Apapun alasannya, pesantren memastikan bahwa tidak ada satu pun santri yang merayakan hari raya dengan perasaan sendirian.
Seperti apa perayaan hari raya di pesantren?
Sholat Ied dilaksanakan di lapangan terbuka pesantren. Shaf-shaf terisi penuh oleh santri yang tinggal, ustadz dan keluarganya, serta staf pesantren yang turut hadir. Khutbah disampaikan dengan suasana yang khusyuk tapi hangat. Setelah sholat, jabat tangan dan pelukan terjadi di mana-mana — antara santri dengan santri, santri dengan ustadz, dan ustadz dengan staf.
Lalu sarapan hari raya disajikan. Menu-nya berbeda dari hari biasa — lebih istimewa, lebih meriah, dengan hidangan yang disiapkan khusus oleh tim dapur pesantren. Ketupat, opor, rendang, dan berbagai lauk yang membuat meja makan terasa seperti meja makan di rumah.
Setelah makan, kegiatan berlanjut dengan acara yang lebih santai. Ada yang bermain bersama di lapangan. Ada yang mengunjungi rumah ustadz yang mengundang santri untuk bersilaturahmi. Ada yang duduk di beranda asrama, menelepon keluarga di rumah, dan menceritakan bahwa ia baik-baik saja — bahwa hari raya di pesantren ternyata lebih hangat dari yang dibayangkan.
Apa yang membuat hari raya di pesantren terasa istimewa?
Kebersamaan dengan orang-orang yang mengalami hal yang sama. Setiap santri yang tinggal di pesantren saat hari raya tahu persis apa yang dirasakan teman-temannya — rindu pada keluarga, sedikit sedih tidak bisa berkumpul di rumah, tapi juga bersyukur karena tidak sendirian.
Dari perasaan yang sama itulah ikatan yang sangat kuat terbentuk. Santri yang merayakan hari raya bersama di pesantren sering menjadi teman terdekat untuk sisa waktu mondok mereka. Momen yang mereka lalui bersama di hari yang seharusnya dihabiskan dengan keluarga menciptakan kedekatan yang setara dengan kedekatan keluarga itu sendiri.
Ustadz dan wali kamar yang tinggal di pesantren saat hari raya juga membuka pintu rumah mereka. Santri diundang masuk, dijamu makanan, diajak ngobrol seperti anak sendiri. Di momen itulah istilah “keluarga besar pesantren” bukan lagi sekadar frasa — ia menjadi kenyataan yang terasa sangat nyata.
Bagaimana pesantren memastikan santri yang tinggal tetap bahagia?
Panitia hari raya di pesantren biasanya sudah menyiapkan rangkaian acara jauh-jauh hari. Ada lomba-lomba ringan yang seru — futsal, makan kerupuk, tarik tambang, dan berbagai permainan yang membuat seluruh pesantren tertawa. Ada pentas seni dadakan di mana santri yang biasanya pendiam tiba-tiba berani tampil karena suasana yang santai dan mendukung.
Kegiatan-kegiatan ini dirancang bukan untuk mengisi waktu kosong, tapi untuk memastikan bahwa setiap detik hari raya di pesantren diisi dengan kebahagiaan. Dan dari pengalaman bertahun-tahun, banyak santri yang akhirnya bilang bahwa hari raya di pesantren justru lebih seru dan lebih berkesan dari hari raya di rumah — karena teman-temannya ada di sini.
Apa yang dirasakan orang tua yang tidak bisa menjemput anaknya saat hari raya?
Tentu ada rasa bersalah. Tidak ada orang tua yang tidak ingin berkumpul dengan anaknya di hari raya. Tapi ketika mereka menelepon dan mendengar suara anaknya yang ceria menceritakan bahwa ia baru menang lomba makan kerupuk, atau bahwa ia makan ketupat bersama teman-temannya sambil tertawa, rasa bersalah itu perlahan berganti menjadi rasa lega.
Anaknya bahagia. Anaknya tidak sendirian. Anaknya dikelilingi orang-orang yang peduli padanya.
Di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, hari raya selalu menjadi momen yang penuh warna. Pesantren memastikan bahwa setiap santri yang tinggal merasakan kehangatan yang sama dengan kehangatan di rumah. Takbir yang bergema dari masjid di atas bukit, udara pagi yang segar, dan pelukan teman-teman yang tulus — semua itu menciptakan kenangan hari raya yang tidak akan pernah dilupakan.
Banyak alumni yang bilang bahwa setelah puluhan tahun berlalu, mereka masih merindukan hari raya di pesantren. Bukan karena hari raya di rumah kurang menyenangkan. Tapi karena hari raya di pesantren memiliki sesuatu yang unik — kebahagiaan yang lahir dari saling menguatkan di saat yang seharusnya paling merindukan rumah.
Buat yang ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan santri dan suasana di pesantren, bisa langsung ngobrol lewat WhatsApp 0812111180. Setiap pertanyaan selalu dijawab dengan hangat.