Bela diri mungkin bukan hal pertama yang terlintas ketika orang membayangkan kehidupan pesantren. Bayangan kebanyakan orang biasanya soal mengaji, hafalan, dan jadwal ibadah yang padat. Tapi di satu sudut lapangan pesantren, setiap sore tertentu, ada pemandangan yang sering mengejutkan pengunjung yang baru pertama kali datang — santri berseragam putih bergerak serentak, menendang, memukul, dan berteriak dengan penuh tenaga.
Tapak Suci. Bela diri yang sudah menjadi bagian dari kehidupan pesantren sejak lama.
Bagi santri yang baru pertama kali mengikuti latihan, pengalaman itu selalu dimulai dari tempat yang sama — rasa canggung yang luar biasa. Berdiri di barisan paling belakang, mengenakan seragam latihan yang masih kaku karena baru dicuci, dan mencoba mengikuti gerakan kakak kelas yang bergerak dengan kecepatan dan ketepatan yang terasa mustahil untuk ditiru.
Hari pertama, kakinya tidak bisa setinggi pundak. Pukulannya tidak bertenaga. Teriakan kiainya terdengar pelan, hampir berbisik.
Tidak ada yang menertawakan. Pelatih dan kakak kelas yang memimpin latihan sudah terbiasa dengan pemandangan itu. Mereka tahu bahwa setiap santri yang sekarang bisa bergerak dengan percaya diri pernah berdiri di titik yang sama persis — bingung, kaku, dan ragu apakah bela diri ini memang cocok untuknya.
Proses latihan Tapak Suci di pesantren tidak mengenal jalan pintas.
Gerakan dasar diulang ratusan kali sampai tubuh mengingatnya sendiri tanpa harus berpikir. Kuda-kuda yang awalnya gemetar perlahan menjadi kokoh. Santri yang minggu lalu masih salah kaki sekarang sudah mulai bisa mengikuti jurus pertama dari awal sampai akhir tanpa berhenti. Kemajuannya lambat, tapi setiap langkah kecilnya terasa nyata.
Latihan selalu dilakukan bersama-sama. Tidak ada yang berlatih sendirian di sudut lapangan. Kalau ada yang tertinggal, teman di sebelahnya akan memperlambat gerakan tanpa diminta. Kalau ada yang terjatuh saat latihan tendangan, tangan yang mengulur selalu datang lebih cepat dari rasa malu.
Satu momen yang sering diingat santri bertahun-tahun kemudian.
Ada satu sore ketika pelatih meminta santri baru untuk menunjukkan jurus yang sudah dipelajari selama beberapa minggu. Sendirian. Di depan seluruh barisan. Tanpa pendamping.
Kaki terasa berat. Napas pendek. Mata melirik ke samping, mencari dukungan dari teman-teman yang berdiri di pinggir.
Lalu gerakan pertama dimulai.
Tidak sempurna. Masih ada tendangan yang kurang tinggi, pukulan yang agak telat, dan transisi antar jurus yang belum mulus. Tapi dia bergerak. Dari awal sampai akhir, tanpa berhenti, tanpa mundur. Ketika gerakan terakhir selesai dan dia kembali berdiri tegak dengan napas terengah-engah, seluruh barisan bertepuk tangan.
Tepuk tangan itu bukan untuk tekniknya. Tapi untuk keberaniannya.
Kenapa bela diri di pesantren punya makna yang lebih dari sekadar olahraga?
Tapak Suci di pesantren bukan hanya soal tendangan dan pukulan. Di setiap latihan ada adab yang diajarkan berdampingan dengan teknik. Santri belajar bahwa kekuatan fisik tanpa pengendalian diri tidak bernilai apa-apa. Bahwa menghormati lawan adalah bagian dari berlatih. Bahwa bela diri yang sesungguhnya dimulai dari kemampuan menahan diri, bukan kemampuan menyerang.
Banyak santri yang awalnya ikut latihan karena ingin terlihat keren atau kuat di depan teman-temannya. Tapi setelah beberapa bulan, alasan itu berubah. Mereka tetap datang setiap sore bukan lagi karena ingin terlihat kuat, tapi karena merasa lebih tenang setelah berlatih. Tubuh yang lelah justru membuat pikiran lebih jernih. Disiplin yang ditanamkan lewat gerakan berulang tanpa sadar meresap ke aspek lain dalam kehidupan mereka.
Di Darunnajah 2 Cipining, Tapak Suci menjadi salah satu kegiatan bela diri yang diikuti santri dari berbagai jenjang. Latihan dilakukan secara rutin, dibimbing oleh pelatih yang juga merupakan alumni pesantren. Regenerasi pelatih terjadi secara alami — santri yang sudah mahir kelak menjadi pembimbing bagi adik kelas yang baru memulai.
Kita semua mungkin pernah di titik itu — ragu apakah mampu, tapi tetap melangkah. Kekuatan yang ditemukan santri lewat bela diri bukan kekuatan untuk mengalahkan orang lain. Tapi kekuatan untuk mengenal dirinya sendiri — batasnya, potensinya, dan keberaniannya yang selama ini tersembunyi di balik rasa ragu.
Kalau ingin tahu lebih banyak tentang kegiatan santri di pesantren, bisa langsung datang melihat atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.