Momen Ketika Santri Baru Pertama Kali Merasa Ini Rumahnya yang Kedua

Tidak ada yang bisa memprediksi kapan momen itu datang. Bisa di minggu kedua, bisa di bulan ketiga. Tapi setiap santri yang pernah mondok tahu persis momen yang dimaksud — saat pesantren berhenti terasa seperti tempat asing dan mulai terasa seperti tempat pulang. Bukan pengganti rumah. Tapi rumah yang kedua, yang punya kehangatan berbeda tapi sama nyatanya.

Kapan biasanya momen itu terjadi?

Bagi setiap santri, waktunya berbeda. Ada yang merasakannya saat pertama kali tertawa lepas di kamar asrama bersama teman sekamar. Bukan tawa sopan. Bukan tawa basa-basi. Tapi tawa yang sampai perut sakit dan mata berair — jenis tawa yang hanya bisa muncul ketika seseorang benar-benar merasa nyaman dengan orang-orang di sekitarnya.

Ada yang merasakannya saat bangun di pagi hari dan menyadari bahwa ia tidak lagi menghitung berapa hari lagi sampai liburan. Hitungan mundur yang dulu mendominasi pikirannya perlahan hilang, digantikan oleh antisipasi terhadap kegiatan hari ini — ada latihan muhadharah siang nanti, ada pertandingan futsal sore ini, ada rencana belajar kelompok malam ini.

Ada yang merasakannya di momen yang sangat kecil. Saat berjalan dari asrama ke masjid dan menyadari bahwa kakinya sudah hafal jalannya tanpa perlu berpikir. Atau saat mendengar bel berbunyi dan tubuhnya sudah tahu ke mana harus bergerak. Momen ketika semuanya menjadi otomatis — itulah tanda bahwa tempat ini sudah menjadi bagian dari dirinya.

Apa yang berubah setelah momen itu?

Semuanya terasa lebih ringan. Jadwal yang dulu terasa menyiksa sekarang terasa seperti ritme yang menenangkan. Bangun subuh yang dulu terasa mustahil sekarang terjadi tanpa perlawanan. Antri kamar mandi yang dulu membuat frustrasi sekarang jadi waktu ngobrol pagi dengan teman.

Rindu rumah tidak hilang. Itu penting untuk dipahami. Rindu tetap ada, kadang datang tiba-tiba saat mendengar lagu tertentu atau mencium aroma makanan yang mengingatkan masakan ibu. Tapi rindu itu berubah bentuk — dari rindu yang menyiksa menjadi rindu yang manis. Rindu yang membuat santri lebih menghargai waktu bersama keluarga saat liburan tiba.

Momen yang paling jelas menandai perubahan ini biasanya terjadi saat liburan berakhir. Dulu, kembali ke pesantren terasa berat. Sekarang, ada bagian kecil di hati yang justru tidak sabar ingin kembali — kembali ke teman-teman, kembali ke rutinitas, kembali ke tempat yang sudah terasa miliknya.

Apa yang membuat pesantren bisa terasa seperti rumah?

Bukan gedungnya. Bukan fasilitasnya. Yang membuat suatu tempat terasa seperti rumah adalah orang-orang di dalamnya.

Wali kamar yang mengetuk pintu setiap malam untuk memastikan semua santri sudah tidur. Ustadz yang menyapa dengan nama kecil, bukan dengan nomor absen. Kakak kelas yang diam-diam menyimpankan makanan untuk adik kelas yang terlambat makan. Teman sekamar yang menggeser kasurnya supaya ada ruang lebih.

Gestur-gestur kecil itu menumpuk. Satu per satu, tanpa disadari, membentuk rasa aman dan rasa diterima yang menjadi pondasi dari rasa memiliki. Ketika santri merasa diterima apa adanya oleh orang-orang di sekitarnya, tempat itu berhenti menjadi tempat tinggal sementara dan mulai menjadi rumah.

Bagaimana pesantren membantu proses ini terjadi?

Sistem pengasuhan dua puluh empat jam berperan besar. Wali kamar bukan hanya pengawas — ia adalah orang dewasa yang hadir di setiap momen penting santri. Ia yang pertama tahu kalau ada santri yang sakit. Ia yang pertama menyadari kalau ada santri yang murung. Ia yang pertama bertanya kalau ada santri yang tidak semangat belajar.

Kehadiran orang dewasa yang konsisten dan peduli membuat santri merasa dilindungi. Dan rasa dilindungi itu yang secara perlahan mengubah pesantren dari tempat asing menjadi tempat yang aman.

Program masa orientasi di awal juga membantu. Santri baru dikenalkan dengan lingkungan, dipertemukan dengan kakak kelas yang menjadi pembimbing, dan diberi waktu untuk beradaptasi dengan ritme pesantren. Tidak ada tekanan untuk langsung sempurna. Ada ruang untuk canggung, untuk bingung, dan untuk perlahan menemukan tempatnya.

Apa yang dirasakan santri ketika menyadari pesantren sudah jadi rumah kedua?

Biasanya bukan perasaan yang besar dan dramatis. Biasanya justru perasaan yang sangat tenang. Sebuah kesadaran kecil yang muncul di tengah aktivitas biasa — mungkin saat berjalan ke masjid di pagi hari, atau saat duduk di ruang makan dan melihat teman-teman yang wajahnya sudah sangat familiar.

Kesadaran bahwa ia sudah tidak sendiri. Bahwa ada orang-orang yang peduli padanya di tempat ini. Bahwa ia punya tempat yang menunggunya kembali setiap kali liburan berakhir.

Di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, banyak santri sudah mengalami momen ini selama lebih dari tiga dekade. Pesantren yang terletak di atas bukit dengan udara yang sejuk dan lingkungan yang asri menjadi rumah kedua bagi anak-anak dari seluruh penjuru Indonesia. Bukan karena pesantren ini sempurna, tapi karena kehangatan yang ada di dalamnya nyata.

Setiap santri baru yang datang dengan perasaan cemas pada akhirnya akan menemukan momennya sendiri. Momen ketika ia menyadari bahwa ia tidak hanya tinggal di pesantren — tapi ia sudah menjadi bagian dari pesantren itu sendiri.

Buat yang ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan santri dan proses adaptasi di pesantren, bisa langsung ngobrol lewat WhatsApp 0812111180. Setiap pertanyaan dijawab dengan senang hati.