Hari Raya Kurban di Pesantren dan Pelajaran Memberi yang Tidak Ada di Buku Manapun

Kebanyakan anak mengenal Idul Adha dari penjelasan di kelas atau cerita dari orang tua. Kambing dipotong, dagingnya dibagikan, lalu selesai. Tapi bagi santri yang mengalaminya langsung di lingkungan pesantren, hari itu punya wajah yang sama sekali berbeda — lebih ramai, lebih dekat, dan lebih membekas dari yang pernah dibayangkan sebelumnya.

Suasana pesantren sudah berubah sejak pagi buta.

Sebelum matahari naik, lapangan yang biasanya dipakai untuk olahraga sore sudah dipenuhi oleh puluhan hewan kurban. Kambing-kambing diikat di tiang pagar. Sapi berdiri tenang di sudut lapangan. Santri yang biasanya masih mengantuk di jam-jam itu justru sudah berkeliaran, penasaran dan sedikit gugup. Bagi banyak dari mereka, ini adalah kali pertama melihat proses penyembelihan dari jarak sedekat ini.

Ada yang mundur beberapa langkah. Ada yang justru maju, ingin melihat lebih jelas.

Setelah sholat Ied bersama di lapangan, prosesi dimulai. Ustadz yang memimpin penyembelihan membaca doa dengan suara yang tenang tapi tegas. Santri yang lebih besar ditugaskan membantu proses — ada yang memegang tali, ada yang menyiapkan wadah, ada yang mulai menata plastik untuk pengemasan daging. Setiap orang punya peran. Tidak ada yang hanya menonton.

Pelajaran pertama sudah dimulai di situ, tanpa perlu satu kata pun dari guru.

Bagaimana santri yang baru pertama kali melihat proses kurban meresponsnya?

Bagi santri kelas awal, terutama yang berasal dari kota besar, momen ini sering kali mengejutkan. Mereka tidak terbiasa melihat hewan disembelih secara langsung. Reaksi pertamanya bermacam-macam. Ada yang menutup mata. Ada yang bertanya kenapa hewan itu harus dikorbankan. Ada yang diam saja, mencoba memproses apa yang sedang terjadi di depan matanya.

Tapi tidak ada yang dimarahi karena takut atau bertanya. Ustadz dan kakak kelas yang mendampingi selalu menjawab dengan sabar. Penjelasannya tidak pernah terasa menggurui. Lebih sering berupa percakapan santai sambil bekerja — tentang makna berkorban, tentang rasa syukur, tentang kenapa memberi itu bukan soal kewajiban tapi soal kepedulian.

Sore hari, ketika semua proses selesai, sesuatu yang menarik terjadi.

Daging yang sudah dikemas mulai didistribusikan ke warga sekitar pesantren. Santri ikut mengantar langsung ke rumah-rumah. Berjalan kaki menyusuri jalan tanah, membawa kantong daging kurban, lalu menyerahkannya kepada orang-orang yang mungkin tidak pernah mereka temui sebelumnya.

Di sinilah pelajaran yang paling membekas terjadi.

Bukan di lapangan saat penyembelihan. Bukan di kelas saat penjelasan tentang Idul Adha. Tapi di momen ketika santri berdiri di depan pintu rumah seseorang yang baru pertama kali ditemuinya, mengulurkan kantong daging, dan melihat senyum yang muncul dari wajah di balik pintu itu.

Tidak perlu kuliah panjang tentang empati. Satu momen itu sudah cukup.

Dampak yang baru terasa lama setelah hari itu berlalu.

Banyak santri yang baru menyadari arti hari itu setelah bertahun-tahun kemudian. Saat mereka sudah dewasa, sudah bekerja, sudah punya penghasilan sendiri, dan akhirnya memutuskan untuk berkurban dari uang hasil jerih payah mereka sendiri. Di momen itu, ingatan tentang pagi di lapangan pesantren kembali muncul — aroma tanah basah, suara takbir dari pengeras suara, tangan-tangan kecil yang bekerja bersama tanpa diminta.

Hari Raya Kurban di pesantren bukan sekadar ritual tahunan. Di sinilah santri belajar langsung bahwa memberi tidak mengurangi apa pun, bahwa bekerja bersama selalu menghasilkan lebih dari bekerja sendiri, bahwa ada kepuasan yang datang dari melihat orang lain senang karena sesuatu yang kita lakukan.

Di Darunnajah 2 Cipining, tradisi ini sudah berlangsung selama puluhan tahun tanpa pernah terputus. Setiap tahun, banyak santri mengalami hal yang sama, dan setiap tahun pelajarannya tetap terasa baru.

Karena pengalaman langsung tidak pernah bisa digantikan oleh penjelasan di atas kertas.

Kalau ingin mengetahui lebih dalam tentang kehidupan dan kegiatan santri di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.